INDOZONE.ID - Bagi yang pernah main game Total War: Shogun 2 – Fall of the Samurai tentu tidak asing dengan dua klan yang bernama Satsuma dan Choso.
Dua klan dalam game tersebut bergabung dalam sebuah faksi yang bernama Imperial.
Latar waktu game ini berada pada tahun 1864 hingga 1870.
Nah kita akan membahas dua klan dari game ini yaitu Choso dan Satsuma di periode waktu yang sesuai dengan gamenya yakni pada abad ke-19.
Kedua klan ini memiliki tiga periode di abad ke-19.
Baca juga: Organisasi Ini Jarang Dibahas, Padahal Jadi Titik Awal Pendidikan Modern di Indonesia
Periode-periode tersebut berupa periode anti-barat, anti Tokugawa, dan masa restorasi Meiji.
Kondisi Jepang pada abad ke-19 sangat terpuruk. Ada tiga kekuatan besar yang mengganggu Jepang, yakni Rusia, Britania, dan Amerika Serikat.
Amerika sendiri dengan kekuatan militernya mampu memaksa Jepang untuk membuka diri dan menandatangani perjanjian dagang.
Jepang juga akhirnya meluaskan perjanjian tersebut dengan negara-negara Barat lainnya.
Mereka mendapat keuntungan luar biasa dari eksploitasi ekonomi atas Jepang.
Baca juga: Strategi Sun Yat-sen Menggulingkan Kekaisaran Tiongkok: Dari Anti-Manchu ke Tiga Prinsip Rakyat
Gerakan-gerakan politik Choso dan Satsuma tidak mungkin berhasil tanpa gerakan-gerakan ekonomi yang dilakukan kedua klan ini.
Kondisi ekonomi Jepang mencapai puncak inflasi pada tahun 1866.
Di masa ekonomi yang buruk, Satsuma dan Choso melakukan beberapa tindakan ekonomi yang cerdas.
Satsuma sendiri mengalami masalah ekonomi di mana beberapa beberapa rumah pedagang bangkrut.
Untuk menghindari meminjam uang, Satsuma meningkatkan produksi gula, memeras para petani, dan meningkatkan harga barang-barang.
Di Choso sendiri, tindakan ekonomi yang dilakukan adalah menghentikan monopoli langsung pada indigo, lilin, garam, sake, dan kapas.
Baca juga: Restorasi Meiji, Kebangkitan Negeri Matahari Terbit Menatap Era Modern
Hak monopoli tersebut kemudian dijual ke asosiasi-asosiasi pedagang.
Manuver ekonomi inilah yang membuat kedua klan tersebut mampu membeli senjata-senjata modern di tahun 1850an dan 1860an.
Masa Anti-Barat
Kedua klan ini memiliki peran besar dalam politik Jepang di abad ke-19. Kondisi
Politik Jepang pada tahun 1850-an terbagi menjadi tiga kelompok yakni pemerintah Tokugawa; daimyo-daimyo kuat yang menentang orang-orang luar dan pro kaisar; dan kaum loyalis yang terdiri dari kelas bawah hingga menengah samurai.
Kaum loyalis sendiri mendapatkan simpati daimyo-daimyo dari klan Satsuma, Choso, Tosa, dan Hizen.
Baca juga: Bangkitnya Negeri Matahari Terbit: Transformasi Jepang Dimulai Di Era Meiji
Di tahun 1862 dan 1863, semua loyalis dari seluruh Jepang berkumpul di Kyoto dan berhasil membuat kaisar Komei untuk meminta Shogun untuk mengusir orang-orang Barat.
Di sini klan Satsuma tahu bahwa tidak mungkin untuk mengusir orang-orang Barat secara langsung.
Namun, daimyo klan Satsuma tetap diam dan bahkan meninggalkan negosiasi di titik penting.
Negosiasi shogun dan kaisar tanggal 10 Maret 1864 dianggap sebagai tanggal pengusiran orang-orang Barat.
Tanggal 10 Maret 1864 berlalu begitu saja tanpa ada serangan, kecuali dari para loyalis yang berada di Chosu.
Para loyalis di Chosu langsung menyerang kapal-kapal Amerika dan langsung dibalas dengan dihancurkannya beberapa artileri di pelabuhan.
Serangan ini gagal dan diperburuk dengan klan Satsuma dan Keshogunan Tokugawa yang bekerja sama untuk mengusir para pejuang Chosu dan kaum antipemerintahan Keshogunan Tokugawa.
Baca juga: Naga yang Bangun Tidur: Dari Dinasti ke Republik, Kisah Seratus Tahun Gairah Tiongkok
Konflik antara Chosu dan Keshogunan Tokugawa berlanjut di mana semua loyalis samurai berkumpul di Chosu pada tahun 1864 dan melaksanakan kudeta.
Kudeta ini gagal karena pasukan loyalis Chosu dipukul mundur oleh pasukan Satsuma dan Aizu yang loyal pada Keshogunan Tokugawa.
Konflik ini dilanjutkan dengan keberhasilan ekspedisi militer ke Chosu.
Namun, Chosu dibiarkan tetap ada dengan syarat mengeksekusi para pemimpin kudeta ke Kyoto.
Masa Pro-Barat dan Perang Boshin
Tahun-tahun selanjutnya dapat dikatakan tahun perubahan bagi kedua klan ini.
Baca juga: Bagaimana Restorasi Meiji Mengubah Wajah Jepang yang Terbelakang?
Chosu sendiri berada di kondisi yang sangat buruk lantaran mengalami perang saudara pada tahun 1864-1865.
Perang saudara ini dimenangkan oleh pihak Takasugi Shinsaku.
Keberhasilannya tidak lepas dari perekrutan orang-orang biasa meskipun kadang mereka direkrut secara paksa.
Kondisi keuangan Chosu pada saat itu di posisi yang aman sehingga Chosu mampu membeli senjata dan kapal dari orang-orang Inggris.
Bisa dikatakan Chosu di masa itu meninggalkan pandangan anti-Barat dan melakukan reformasi-reformasi militer melalui pembelian produk-produk Barat.
Di Satsuma, kondisi yang mirip juga terjadi namun tanpa adanya perang saudara.
Satsuma mulai melakukan modernisasi militer dan posisi ekonominya juga aman akibat perdagangan gula.
Suatu hal yang menjadi kesamaan antara kedua klan ini adalah jumlah rasio yang tinggi antara samurai dan penduduk biasa.
Baca juga: Disintergrasi India: Perjalanan Panjang Konflik Sejak Prakemerdekaan, Hingga Kelahiran Bangladesh
Aliansi rahasia kedua klan ini terjadi pada tahun 1866 melalui perantara Sakamoto Ryoma, seorang samurai dari Tosa yang berubah pandangan dari anti-Barat ke reformis.
Ia ingin membuka Jepang ke dunia luar.
Aliansi ini mendapat serangan dari Keshogunan Tokugawa yang mengirimkan pasukannya untuk menghukum Chosu.
Ekspedisi ini berakhir dengan kekalahan brutal Keshogunan Tokugawa.
Klan Satsuma bermain peran dengan tidak mengirimkan pasukannya untuk membantu pasukan Keshogunan Tokugawa.
Tahun 1867 dan 1868 menjadi tahun signifikan bagi kedua klan ini.
Baca juga: Fakta Unit 731: Eksperimen Sadis Tentara Jepang terhadap Warga Cina Berkedok Penelitian Epidemi
Di tahun 1867, tentara dari dua klan ini bergerak menuju Kyoto menuntut Shogun Tokugawa Yoshinobu turun dari jabatannya.
Pada Desember 1867, pasukan dari Choso dan Satsuma pergi ke Kyoto, menguasai istana kaisar. Mereka mengangkat Kaisar Meiji sebagai penguasa.
Naiknya Kaisar Meiji sebagai penguasa baru Jepang menandakan akhirnya masa pemerintahan Keshogunan Tokugawa dan dimulainya restorasinya kekaisaran Jepang.
Periode 1868 sampai 1869 merupakan tahun di mana kekuasaan Tokugawa benar-benar runtuh akibat Perang Boshin.
Klan Satsuma dan Chosu memiliki andil yang besar di dalamnya.
Kedua klan ini dan klan-klan yang loyal pada Kaisar Meiji bertempur melawan klan-klan yang ingin sistem Keshogunan tetap ada.
Perang ini berakhir setelah kekalahan Ezo pada bulan Juli 1869.
Baca juga: Bagaimana Revolusi Meiji Membangkitkan Jepang dari Reruntuhan Feodalisme?
Era Restorasi Meiji
Di masa Restorasi Meiji, Choso dan Satsuma memiliki peran yang unik.
Di tahun 1871, sistem perwilayahan lama dihapuskan dan diganti menjadi preferektur.
Choso dan Satsuma menjadi dua dari beberapa klan pertama yang mengembalikan wilayah dan pemerintahan mereka ke Kaisar Meiji di tahun 1871.
Hal ini secara efektif membuat pemerintahan Jepang pada saat itu menjadi tersentralisasi.
Penyerahan wilayah ini tidak terlalu merugikan bagi para daimyo. Mereka mendapatkan bayaran berupa gaji tahunan yang setara dengan sepuluh persen pendapatan pajak bekas wilayah mereka.
Meskipun dua klan ini telah melepas wilayah mereka kepada Kekaisaran jepang, bukan berarti tidak ada kontribusi dari dua klan ini.
Baca juga: Universitas Nalanda, Institusi Pendidikan Penting Bagi Kaum Buddhisme di India Kuno
Dari klan Chosu, banyak orang-orang yang bermain peran besar dalam restorasi Meiji seperti Ito Hirobumi yang menjadi perdana menteri pertama Jepang.
Satsuma juga memiliki orang-orang penting yang memiliki peran besar dalam restorasi Meiji seperti Mori Arinori.
Ia memiliki andil besar dalam perubahan sistem pendidikan Jepang dan menjabat sebagai menteri pendidikan tahun 1886 sampai 1889.
Tidak selamanya masa restorasi Meiji menjadi waktu damai, ada kalanya pemberontakan yang muncul di masa ini.
Salah satu pemberontakan yang terjadi pada masa restorasi Meiji adalah pemberontakan Satsuma.
Pemberontakan ini terjadi pada tahun 1877. Penyebab utamanya ialah terancamnya hak-hak istimewa samurai dan berbagai alasan-alasan khusus lainnya.
Pemberontakan ini berakhir pada tanggal 24 September 1877 di mana Saigo Takamori beserta orang-orangnya yang loyal melakukan serangan bunuh diri.
Baca juga: Gebrakan Sun Yat Sen di 72 Hari Masa Jabatan Presiden yang Mengubah Wajah Tiongkok Modern
Di sini kita dapat melihat betapa pentingnya peran klan Satsuma dan Choso bagi sejarah Jepang pada abad ke-19.
Kedua klan ini berperan besar dalam gerakan anti-Barat, pro-Barat, bahkan hingga era Restorasi Meiji.
Meskipun mereka tidak memiliki wilayah lagi pada masa restorasi Meiji, namun orang-orang dari kedua klan ini memiliki pengaruh yang sangat besar bagi restorasi Meiji.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Buku To Stand With Nations Of The World: Japan’s Meiji Restoration In World History, Buku A Modern History Of Japan: From Tokugawa Times To The Present