Unit pengembangan senjata biologi Jepang 731 (new.qq.com)
INDOZONE.ID - Film horor sering menampilkan adegan penyiksaan manusia yang membuat penonton bergidik. Namun, apa jadinya jika kenyataan ternyata jauh lebih mengerikan dibandingkan cerita fiksi?
Banyak orang mengenal kekejaman Nazi dalam eksperimen medisnya, tetapi sedikit yang tahu bahwa Jepang pernah melakukan praktik yang tak kalah sadis, bahkan disebut lebih brutal terhadap rakyat sipil Cina.
Di balik dalih “penelitian medis” dan “kemajuan ilmu pengetahuan”, tentara Jepang pada masa pendudukan di Manchuria membangun sebuah fasilitas rahasia untuk menguji senjata biologis langsung pada manusia.
Eksperimen itu bukan lagi sekadar imajinasi film thriller, melainkan tragedi nyata yang menewaskan ribuan orang tak berdosa dan hingga kini meninggalkan luka sejarah yang sulit dilupakan.
Di balik dalih “penelitian medis” dan “kemajuan ilmu pengetahuan”, tentara Jepang pada masa pendudukan di Manchuria membangun sebuah fasilitas rahasia untuk menguji senjata biologis langsung pada manusia.
Baca juga: Gebrakan Sun Yat Sen di 72 Hari Masa Jabatan Presiden yang Mengubah Wajah Tiongkok Modern
Eksperimen itu bukan lagi sekadar imajinasi film thriller, melainkan tragedi nyata yang menewaskan ribuan orang tak berdosa dan hingga kini meninggalkan luka sejarah yang sulit dilupakan.
Fasilitas tersebut dikenal sebagai Unit 731, laboratorium kematian yang beroperasi dengan kedok penelitian epidemi.
Padahal di dalamnya berlangsung percobaan yang lebih sadis dari apa pun yang pernah dibayangkan dunia.
Pada masa itu, dunia bahkan belum memahami konsep senjata biologis, namun Jepang sudah mengembangkannya lewat metode yang mencabut kemanusiaan dari manusia secara harfiah.
Tentara Jepang dibawah kekuasan Kaisar Hiro Hito memberikan dana yang sangat besar untuk membangun fasilitas “Pusat Penelitian dan Pencegahan Epidemi”.
Baca juga: Tanpa Restorasi Meiji, Mungkin Toyota Tidak Pernah Ada
Padahal, fasilitas ini digunakan untuk melakukan eksperimen biologi, kimia, dan medis pada manusia hidup tanpa bius, tanpa perlindungan, dan tanpa belas kasihan.
Para korban disebut sebagai maruta, yang artinya “balok kayu”. Istilah ini sengaja dipakai agar para peneliti merasa mereka bukan menangani manusia, melainkan objek percobaan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Asia-Pacific Journal, Asia-Pacific Journal: Japan Focus