Apa Itu Perjanjian Bongaya? Ini Latar Belakang, Isi, dan Dampaknya (Wikipedia).
INDOZONE.ID - Perjanjian Bongaya adalah salah satu peristiwa penting dalam sejarah Indonesia pada masa penjajahan Belanda. Perjanjian ini menjadi titik balik yang mengakhiri perlawanan Kesultanan Gowa terhadap VOC di Sulawesi Selatan.
Melalui Perjanjian Bongaya, VOC berhasil memperkuat kekuasaannya di wilayah Indonesia bagian timur. Lalu, apa sebenarnya Perjanjian Bongaya? Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.
Perjanjian Bongaya atau Bongaais Verdra gadalah perjanjian damai yang dibuat antara Kerajaan Gowa dan VOC atau perusahaan dagang Belanda. Perjanjian ini ditandatangani pada 18 November 1667 di Desa Bongaya, Sulawesi Selatan.
Dari pihak Kerajaan Gowa, perjanjian ditandatangani oleh Sultan Hasanuddin, sedangkan dari pihak VOC diwakili oleh Laksamana Cornelis Speelman. Perjanjian ini dibuat setelah kedua pihak terlibat dalam Perang Makassar yang berlangsung cukup lama.
Perselisihan antara Kesultanan Gowa dan VOC bermula dari benturan kepentingan di jalur perdagangan maritim Indonesia bagian timur. Sebagai salah satu kerajaan terkuat saat itu, Gowa menjadikan Pelabuhan Makassar sebagai pusat perdagangan dan strategis bagi para pedagang lokal maupun internasional.
Di bawah kepemimpinan Sultan Hasanuddin, Gowa dengan tegas menerapkan sistem perdagangan bebas yang terbuka untuk semua bangsa. Sikap ini ditentang keras oleh VOC yang berambisi memonopoli perdagangan rempah-rempah, sehingga gesekan ekonomi ini lambat laun berubah menjadi konflik militer terbuka.
Menyadari kekuatan pertahanan Gowa yang sulit ditembus, VOC menerapkan strategi politik adu domba (devide et impera). Mereka menjalin kerja sama dengan Arung Palakka, seorang pangeran dari Kerajaan Bone yang saat itu sedang berjuang membebaskan rakyatnya dari pengaruh kekuasaan Gowa.
Pada tahun 1666, VOC meluncurkan ekspedisi militer besar-besaran di bawah pimpinan Cornelis Speelman. Pasukan ini diperkuat oleh sekitar 1.900 prajurit, 21 kapal perang, serta bantuan dari pasukan Ambon dan pasukan Bone yang dipimpin oleh Arung Palakka. Pertempuran sengit ini kemudian dikenal dalam sejarah sebagai Perang Makassar.
Menghadapi situasi perang yang semakin sulit dan menghindari jatuhnya lebih banyak korban jiwa, Sultan Hasanuddin akhirnya bersedia melakukan perundingan damai. Pertemuan tersebut menghasilkan Perjanjian Bongaya yang resmi ditandatangani pada 18 November 1667.
Baca juga: Sejarah Perjanjian Roem-Royen 7 Mei 1949: Latar Belakang, Tokoh, dan Isinya
Perjanjian Bongaya memiliki banyak pasal. Namun, beberapa isi yang paling penting antara lain sebagai berikut.
Kerajaan Gowa harus mengakui monopoli perdagangan VOC di wilayah Sulawesi Selatan dan sekitarnya. Semua pedagang asing selain Belanda dilarang berdagang di wilayah Gowa.
Kerajaan Gowa diwajibkan mengusir bangsa Eropa selain Belanda, seperti Portugis dan Inggris. Dengan begitu, VOC tidak lagi memiliki pesaing dalam perdagangan.
Sebagian besar benteng milik Kerajaan Gowa harus dihancurkan. Sementara itu, Benteng Ujung Pandang diserahkan kepada VOC dan kemudian diubah namanya menjadi Fort Rotterdam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Ruang Guru