Ilustrasi Laksamana Cheng Ho (INDOZONE/M Fadli)
INDOZONE.ID - Lebih dari enam abad lalu, seorang pelaut sekaligus diplomat dari Yunnan, China, menorehkan kisah yang hingga kini masih dikenang di Indonesia. Sosok itu adalah Laksamana Cheng Ho, penjelajah samudra pada masa Dinasti Ming yang memimpin tujuh ekspedisi besar ke kawasan Asia, Asia Selatan, Timur Tengah, hingga Afrika.
Berbeda dengan banyak ekspedisi laut pada masa itu yang identik dengan penaklukan wilayah, pelayaran Cheng Ho justru dikenal membawa misi diplomasi, perdagangan, dan persahabatan. Dalam tujuh pelayarannya ke Samudra Barat antara awal abad ke-15, armadanya tercatat enam kali singgah di Pulau Jawa.
Jejak pelayarannya masih dapat ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Salah satu yang paling terkenal adalah Klenteng Sam Poo Kong di Semarang, Jawa Tengah. Nama Sam Poo Kong sendiri merupakan sebutan yang diberikan masyarakat Indonesia kepada Cheng Ho, yang dikenang sebagai tokoh yang menjalin hubungan baik dengan masyarakat lokal.
Selama singgah di Nusantara, Cheng Ho tidak hanya membuka jalur perdagangan, tetapi juga memperkuat hubungan antarmasyarakat melalui pertukaran budaya. Karena itulah, ia kerap dikenang sebagai simbol perdamaian dan persahabatan antara Indonesia dan China.
Baca juga: Cheng Ho, Sang Penjelajah Terkenal Dari Tiongkok
Hubungan tersebut terus berkembang hingga kini. Dari kerja sama budaya dan pendidikan, hubungan kedua negara juga meluas ke sektor ekonomi, pertanian, energi bersih, hingga pariwisata.
Semangat persahabatan yang diwariskan Laksamana Cheng Ho kembali dihidupkan melalui kegiatan "Perjalanan Laksamana Cheng Ho: Duta Persahabatan" yang digelar di Jakarta pada 30 Juni 2026.
Acara yang berlangsung selama dua hari itu dihadiri lebih dari 160 peserta dari Indonesia dan China, mulai dari perwakilan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, komunitas budaya, hingga masyarakat Tionghoa-Indonesia.
Rangkaian kegiatan menghadirkan lebih dari sepuluh agenda, mulai dari seminar mengenai semangat Laksamana Cheng Ho, bazar budaya, pameran poster kreatif, hingga pengukuhan Duta Persahabatan bagi pelajar dari kedua negara.
Salah satu momen utama adalah penyerahan replika kapal legendaris Bao Chuan kepada Yayasan Sam Poo Kong di Semarang. Replika tersebut dibuat oleh pengrajin warisan budaya dari Kunming, Yunnan, berdasarkan bentuk kapal yang digunakan Cheng Ho pada masa Dinasti Ming.
Baca juga: 'Matahari Buatan' China Cetak Rekor Baru, Reaktor Fusi Tembus Batas yang Dianggap Mustahil
Ketua Yayasan Sam Poo Kong, Mulyadi Setiakusuma, menyebut replika kapal itu memiliki makna istimewa karena berasal langsung dari Yunnan, kampung halaman Laksamana Cheng Ho. Replika tersebut akan menjadi simbol baru hubungan persahabatan Indonesia dan China.
Festival juga dimeriahkan pertunjukan seni dari kedua negara. Tim kesenian Yunnan menampilkan tarian etnis dan musik tradisional, sementara seniman Indonesia membawakan Tarian Nusantara. Melalui panggung budaya, kedua negara menunjukkan bahwa seni dapat menjadi bahasa universal yang mempererat hubungan antarmasyarakat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Liputan