Ilustrasi mantra pelet jaran goyang (Gemini AI)
INDOZONE.ID - Ketika mendengar nama Jaran Goyang, sebagian besar masyarakat Indonesia mungkin langsung mengaitkannya dengan ilmu pelet atau ajian pengasihan yang konon mampu membuat seseorang jatuh cinta. Popularitasnya semakin meluas setelah menjadi tema lagu, cerita rakyat, hingga perbincangan di media sosial.
Namun, di balik citranya sebagai ilmu mistis, Jaran Goyang sesungguhnya memiliki akar budaya yang panjang dan kompleks dalam tradisi masyarakat Using di Banyuwangi, Jawa Timur.
Bagi kalangan akademisi dan budayawan, Jaran Goyang tidak hanya dipahami sebagai praktik supranatural. Ia merupakan bagian dari kekayaan sastra lisan Nusantara yang merekam cara masyarakat tradisional memahami cinta, hubungan sosial, spiritualitas, hingga harapan manusia terhadap sesuatu yang sulit mereka kendalikan.
Beberapa sumber yang dikutip, salah satunya dari scribd.com, menyebutkan terkait mantra ajian Jaran Goyang tersebut. Begini bunyinya:
"Ingsun amatak aji, ajiku si jaran goyang, teteger tengahing pasar, gegamane cemeti sodo lanang saking suwargo, sun sabetake gunung jugrug, segoro asat, bumi bengkah."
Baca juga: Ajian Saipi Angin: Ketika Kecepatan Bukan Soal Lari, Tapi Menaklukkan Diri Sendiri
"Sun sabetake atine si jabang bayi..... (jenenge sing mbok tresnani). Teko welas, teko asih, andheleng badan sliraku, manut miturut sak karepku"
Jaran Goyang dikenal sebagai salah satu mantra pengasihan yang berkembang dalam budaya masyarakat Using, kelompok etnis yang mendiami wilayah Banyuwangi. Dalam berbagai penelitian budaya, mantra ini disebut sebagai bagian dari tradisi lisan yang diwariskan secara turun-temurun.
Budayawan dan peneliti budaya Using, Heru S.P. Saputra dari Universitas Jember, dalam sejumlah kajiannya menjelaskan bahwa Jaran Goyang merupakan salah satu produk budaya yang hidup di tengah masyarakat dan mengalami transformasi dari generasi ke generasi.
Menurut Heru, Jaran Goyang tidak bisa dipisahkan dari konteks sosial masyarakat yang melahirkannya. Dalam masyarakat tradisional, mantra sering kali berfungsi sebagai media untuk mengekspresikan harapan, kecemasan, maupun keinginan yang sulit diwujudkan melalui cara-cara biasa.
Baca juga: Ajian Puter Giling: Mantra Pemanggil Cinta yang Kandas, Tapi Apa yang Datang?
Karena itu, memahami Jaran Goyang hanya sebagai "ilmu pelet" dianggap terlalu menyederhanakan makna budaya yang terkandung di dalamnya.
Popularitas Jaran Goyang tidak lepas dari tema universal yang dibawanya: cinta.
Sejak dahulu, kisah mengenai seseorang yang berusaha mendapatkan perhatian orang yang dicintainya selalu menarik perhatian masyarakat. Dalam berbagai budaya di dunia, terdapat cerita serupa yang menghubungkan cinta dengan ritual, mantra, atau simbol-simbol tertentu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Scribd