INDOZONE.ID - Para pencinta fenomena langit, siap-siap buat begadang di akhir bulan ini. Sebuah fenomena astronomi yang super cantik dan unik bakal menghiasi langit malam pada penghujung Juni 2026.
Satelit alami Bumi kita alias Bulan bakal memasuki fase purnama penuh. Tapi, purnama kali ini punya karakteristik yang berbeda banget dan jauh lebih unik dari bulan-bulan biasanya. Banyak yang bilang purnama ini bakal kelihatan lebih imut alias mini. Kok bisa sih? Dan gimana cara paling pas buat melihatnya dari Indonesia? Yuk, simak ulasannya!
Purnama yang jatuh di bulan Juni ini punya julukan yang sangat populer, yaitu Strawberry Moon. Melansir data dari Old Farmer's Almanac, nama gemas ini awalnya berasal dari tradisi suku asli Amerika, Algonquian. Mereka memakai nama ini sebagai penanda kalau musim panen buah stroberi liar di hutan sudah tiba.
Selain itu, Space.com juga mencatat nama-nama unik lain dari suku berbeda. Ada Berries Ripen Moon (Suku Haida), Green Corn Moon (Suku Cherokee), dan Birth Moon (Suku Tlingit). Sementara orang-orang di Eropa kuno sering menyebutnya sebagai Horse Moon, Hot Moon, atau Mead Moon. Bagi umat Buddha di Sri Lanka, momentum ini juga dirayakan sebagai festival Poson Poya untuk memperingati masuknya agama Buddha ke negara mereka lebih dari 2.000 tahun lalu.
Secara ilmiah, media CNET menyebutkan kalau purnama Juni ini merupakan fenomena Micro Moon ketiga sekaligus yang terakhir di tahun 2026. Hal ini terjadi karena Bulan sedang berada di titik apogee, yaitu posisi terjauh dalam jalur orbit elipsnya dari Bumi.
Efeknya, diameter visual Bulan bakal tampak sekitar 7% lebih kecil daripada purnama biasa, dan terlihat 14% lebih kecil kalau dibandingin saat fenomena Supermoon.
Baca juga: Benarkah Bulan Akan Berwarna Biru Saat Blue Moon? Ini Faktanya
Fase puncak bulan bercahaya 100% penuh sebenarnya terjadi pada 29 Juni malam waktu Amerika. Nah, buat kita yang tinggal di wilayah Indonesia, waktu terbaik untuk mengamatinya secara langsung adalah pada malam hari tanggal 30 Juni 2026.
Uniknya lagi, purnama Juni ini memegang rekor sebagai purnama dengan jalur lintasan paling rendah sepanjang tahun. Hal ini dipengaruhi oleh fenomena summer solstice yang baru lewat pada 21 Juni. Karena posisi Bulan yang sangat rendah dekat garis cakrawala selatan, bakal ada fenomena moon illusion yang bikin mata kita melihat bulan seolah-olah tampak besar saat baru terbit, lengkap dengan rona warna kuning-oranye yang hangat akibat efek hamburan Rayleigh.
Ilustrasi Bulan Purnama di AS. (George Grall/ National Geographic)
Buat kamu yang mau menyaksikan langsung, caranya gampang banget. Cukup arahkan pandangan ke arah tenggara sesaat setelah matahari terbenam. Bulan bakal bergerak perlahan melintasi langit selatan dan terbenam di arah barat daya menjelang subuh. Karena posisinya yang tergolong rendah, pastikan kamu tidak terhalang oleh pohon rimbun atau bangunan tinggi, ya!
Menariknya, si Bulan imut ini bakal nongkrong di antara bintang-bintang konstelasi Sagittarius. Space.com membagikan contekan buat kamu yang mau sekalian berburu objek langit keren lainnya di malam yang sama:
Baca juga: Dari Flower Moon hingga Blue Moon, Ini Fenomena Langit Mei 2026
Kondisi langit saat purnama penuh ini pas banget buat memetakan lunar maria atau guratan bekas hantaman meteor.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Nationalgeographic