INDOZONE.ID - Jepang dikenal sebagai salah satu negara dengan aktivitas seismik tertinggi di dunia. Pada Kamis (25/6/2026), negara tersebut kembali diguncang gempa berkekuatan 6,9 magnitudo. Namun, peristiwa ini bukanlah hal yang baru bagi masyarakat Jepang.
Berdasarkan data yang dihimpun sejak 2011, Jepang telah mengalami puluhan gempa besar dengan magnitudo 6 atau lebih.
Kondisi ini membuat Jepang kerap menjadi sorotan setiap kali terjadi aktivitas gempa bumi. Lantas, apa yang menyebabkan negara tersebut begitu sering mengalami gempa? Berikut penjelasannya, sebagaimana dikutip dari Nippon.
Baca juga: 5 Arti Mimpi Gempa Bumi Menurut Primbon Jawa yang Perlu Kamu Tahu
Sama seperti Indonesia, Jepang sering mengalami gempa karena berada di kawasan Cincin Api Pasifik, yaitu zona aktif yang dipenuhi gunung berapi dan pertemuan lempeng tektonik.
Pergerakan serta tumbukan lempeng-lempeng tersebut memicu aktivitas seismik yang tinggi.
Wilayah Jepang berada di pertemuan beberapa lempeng besar, seperti Lempeng Pasifik, Lempeng Laut Filipina, Lempeng Eurasia, dan sebagian Lempeng Amerika Utara.
Interaksi antarlempeng melalui proses subduksi dan pergeseran kerak bumi inilah yang membuat gempa sering terjadi. Selain itu, keberadaan palung laut dalam di sekitar Jepang turut meningkatkan aktivitas geologi.
Salah satunya adalah palung di barat Samudra Pasifik yang menjadi lokasi aktivitas tektonik dan vulkanik tinggi, termasuk yang memicu Gempa Tohoku berkekuatan 9 magnitudo pada 2011 yang disertai tsunami besar.
Menurut berbagai data seismik, Jepang mengalami ribuan gempa setiap tahun. Sebagian besar berkekuatan kecil dan tidak terlalu dirasakan, namun ratusan lainnya memiliki magnitudo yang cukup kuat sehingga berpotensi menimbulkan dampak signifikan.
Untuk mengurangi risiko tersebut, Jepang terus mengembangkan teknologi mitigasi bencana. Salah satu contohnya adalah Tokyo Skytree, menara setinggi 634 meter yang dirancang dengan sistem peredam getaran khusus.
Teknologi ini membantu menstabilkan struktur bangunan saat terjadi gempa sehingga mengurangi dampak guncangan.
Jepang juga terus meningkatkan kesiapsiagaan bencana melalui berbagai fasilitas publik. Salah satunya pada jaringan Shinkansen, yang dilengkapi sistem peringatan dini gempa untuk mendeteksi getaran dan menghentikan kereta secara otomatis sebelum guncangan besar terjadi.
Selain mengandalkan teknologi, Jepang juga menanamkan budaya siaga bencana kepada masyarakat sejak usia dini. Edukasi dan simulasi gempa rutin dilakukan di sekolah maupun lingkungan masyarakat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Nippon