Ilustrasi Rover dan permukaan Mars. (photo/Ilustrasi/Pexels/Pixabay)
INDOZONE.ID - Perhatian ilmuwan sedang tertuju pada molekul karbon kompleks yang diidentifikasi Rover Perseverance NASA pada batuan Mars.
Temuan ini berpotensi menjadi jejak kehidupan mikroba kuno di Mars. Bentuk karbon yang terdeteksi dikenal sebagai macromolecular carbon atau MMC (karbon makromolekul).
Dr. Ashley Murphy dari Planetary Science Institute di Arizona mengatakan MMC dapat ditemukan di berbagai lingkungan dan jenis batuan.
MMC dapat terbentuk dari reaksi antara batuan dan air atau terbawa oleh jatuhan meteorit. Namun, ada pula kemungkinan material yang ditemukan ini berasal dari mahkluk hidup.
"Karbon ini bisa berasal dari sumber biologis seperti bahan organik terfosilisasi yang ditemukan pada microbial mats dan batu bara," ujarnya.
Molekul karbon diidentifikasi menggunakan instrumen Sherloc yang dibawa rover dalam batuan lumpur di singkapan Bright Angel. Bright Angel merupakan bekas sungai kering yang mengalirkan air ke Kawah Jezero di permukaan Mars miliaran tahun lalu.
"Kita sudah bisa melihat bahwa Jezero merupakan lingkungan yang layak huni bagi kehidupan primitif apa pun," timpal Profesor John Bridges, seorang ilmuwan planet dari University of Leicester.
Batuan lumpur sempat bikin heboh pada 2024 karena terdapat bintik-bintik dan nodul permukaan unik. Bentuknya menyerupai fitur fosil mikroba di Bumi.
Baca juga: Intip Jadwal dan Cara Melihat Strawberry Moon Langka di Langit Indonesia
"Ini bisa jadi merupakan tanda kehidupan paling jelas yang pernah kita temukan di Mars," kata Sean Duffy, mantan pelaksana tugas kepala NASA, ketika rincian laporannya dipublikasikan tahun lalu.
Sayangnya, Rover Mars milik NASA tidak dilengkapi peralatan untuk memastikan apakah karbon kompleks tersebut berasal dari mikroba kuno Mars atau dari proses alam biasa.
NASA semula berniat membawa sampel batuan Mars ini kembali ke Bumi untuk pengujian di laboratorium Bumi. Misi itu terpaksa dibatalkan Januari lalu. Misi selanjutnya direncakan dilakukan pada tahun 2030-an.
"Cara terbaik untuk menentukan biogenisitas (asal-usul biologis) dari batuan ini adalah dengan melakukan analisis lanjutan di Bumi," kata Dr. Kyle Uckert, ilmuwan di Jet Propulsion Lab NASA.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: The Guardian