Ilustrasi Ilmuan di Luar Angkasa (Freepik)
INDOZONE.ID - Seiring ambisi manusia untuk membangun pangkalan di Bulan dan pemukiman di Mars, pertanyaan tentang reproduksi manusia di luar angkasa semakin penting.
Melansir laman Space, isu ini sudah bergeser dari spekulasi ilmiah menjadi perhatian praktis, karena misi luar angkasa tidak lagi singkat, melainkan berpotensi berlangsung bertahun-tahun atau lebih.
Para ilmuwan menekankan bahwa saat manusia tinggal lebih lama di orbit atau planet lain, kita perlu memahami bagaimana lingkungan ekstrem di luar Bumi memengaruhi kesehatan reproduksi, baik pria maupun wanita.
Baca juga: Otak Astronot Alami Perubahan Usai Misi Antariksa, Ini Penyebabnya!
Kurangnya standar penelitian dan data ilmiah memunculkan kekhawatiran akan risiko yang mungkin terjadi sebelum teknologi dan ambisi komersial melebihi pengawasan etika.
Mengutip laman yang sama, kondisi luar angkasa berbeda jauh dengan Bumi. Paparan radiasi kosmik, gravitasi mikro, gangguan ritme sirkadian, stres psikologis, dan isolasi berkepanjangan semuanya dapat memengaruhi sistem reproduksi manusia.
Radiasi menjadi perhatian utama karena jaringan reproduksi sangat sensitif terhadap kerusakan DNA, sehingga paparan jangka panjang dapat menurunkan kesuburan.
Baca juga: Astronot Bisa Sakit di Antariksa? Ini Fakta dan Penanganannya!
Selain itu, belum ada protokol atau standar global untuk mengatur kesehatan reproduksi selama misi panjang. Para peneliti mempertanyakan hal-hal mendasar seperti, bagaimana mencegah kehamilan tidak disengaja?, bagaimana efek mikrogravitasi dan radiasi terhadap ovum dan sperma?, serta batas etika apa yang harus diterapkan untuk penelitian reproduksi di luar Bumi?.
Lebih dari 50 tahun setelah pendaratan manusia pertama di Bulan dan keberhasilan fertilisasi in vitro (IVF) di Bumi, para ilmuwan menyadari bahwa kedua revolusi ini kini “bertabrakan” dalam kenyataan praktis.
Giles Palmer, ahli embriologi senior di International IVF Initiative, mengatakan dalam laporan baru bahwa teknologi IVF di luar angkasa bukan lagi teori, melainkan potensi yang bisa diwujudkan dalam jangka menengah hingga panjang.
Baca juga: Pernah Jadi Bagian Tata Surya, Mengapa Pluto 'Ditendang' dan Tidak Dianggap Planet Lagi?
Kolaborasi internasional sangat penting untuk menutup kesenjangan pengetahuan dan menetapkan pedoman etika yang melindungi astronot profesional maupun warga sipil yang terlibat dalam misi komersial atau kolaboratif.
Seperti diungkap Fathi Karouia, ilmuwan senior NASA, “Kesehatan reproduksi tidak boleh menjadi titik buta kebijakan saat manusia mulai menetap secara berkelanjutan di luar Bumi.”
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Space