Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Sabtu, 18 JULI 2026 • 16:21 WIB

Menguak Hybristophilia, Fenomena Ketertarikan terhadap Pelaku Kejahatan

Menguak Hybristophilia, Fenomena Ketertarikan terhadap Pelaku KejahatanIlustrasi pembunuh berantai. (Freepik)

INDOZONE.ID - Ketertarikan seksual terhadap pelaku kejahatan dikenal sebagai hybristophilia. Masa kanak-kanak, sebagai periode paling membentuk dalam kehidupan seseorang, memiliki pengaruh besar terhadap tipe orang yang kita sukai. Orang yang tertarik pada pelaku kriminal cenderung lebih mungkin memiliki riwayat trauma masa kecil.

Trauma masa kecil dapat menyebabkan perubahan pada kadar hormon kortisol serta berdampak jangka panjang pada sumbu HPA (hypothalamic-pituitary-adrenal), hippocampus, amigdala, dan korteks prefrontal. Perubahan ini dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengatur emosi dan membangun hubungan yang sehat.

Kesulitan membentuk hubungan yang sehat akibat trauma di masa lalu dapat membuat seseorang tertarik pada orang yang mereka yakini bisa "diperbaiki" atau "diubah", sebagai cara untuk memenuhi kebutuhan akan validasi, kendali, atau makna emosional.

Jika seseorang mengalami luka psikologis berat akibat kekerasan fisik, emosional, seksual, atau penelantaran, trauma tersebut dapat membentuk pola yang menetap hingga dewasa. Ada ungkapan bahwa "trauma menjadi kimia" dan kita cenderung "mencari gigi yang pernah menggigit kita". 

Baca juga: Auguste Vaillant, Kriminal Sadis yang jadi Pelaku Pengeboman Gedung Parlemen Perancis Tahun 1893

Maksudnya, alam bawah sadar sering kali tertarik pada hal-hal yang terasa akrab. Jika seseorang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang penuh konflik dan tekanan, maka bukan tidak mungkin mereka justru merasa tertarik pada individu yang memiliki sifat antisosial, psikopatik, atau manipulatif karena karakter seperti itu terasa familier.

Seseorang yang mengalami masa kecil penuh kekerasan juga dapat mengalami gangguan pada respons "lawan atau lari" (fight or flight), sehingga tanpa disadari justru mendekati situasi berbahaya, bukan menghindarinya.

Sebaliknya, orang yang sehat secara emosional dan mampu mengatur emosinya mungkin terasa membosankan atau dianggap tidak memberikan "sensasi".

Alam bawah sadar juga berusaha menyelesaikan pengalaman masa kecil yang belum tuntas. Karena itu, seseorang bisa terdorong mendekati orang yang merepresentasikan luka lama tersebut. Misalnya, menjalin hubungan dengan seseorang yang berada di penjara dapat memberikan ilusi rasa kontrol terhadap situasi yang sebenarnya tidak pernah dimiliki di masa kecil.

Masa kecil dengan tingkat stres tinggi dan kadar kortisol yang terus meningkat juga dapat membuat seseorang mencari sensasi neurokimia yang sama di kemudian hari. Hal ini bisa muncul dalam bentuk perilaku berisiko atau ketertarikan pada orang-orang yang juga menjalani kehidupan penuh risiko.

Baca juga: 5 Fakta Kelompok Teror Remaja 764: Jaringan Kriminal Global yang Targetkan Anak dan Remaja di AS

Perlu dicatat bahwa perempuan dilaporkan lebih sering menunjukkan ketertarikan terhadap pelaku kriminal dibandingkan laki-laki. Pelaku kejahatan sering dipersepsikan memiliki kekuasaan dan dominasi, sementara sebagian perempuan memang tertarik pada pasangan yang dominan. 

Media juga kerap menggambarkan tokoh seperti Ted Bundy dengan cara yang menimbulkan daya tarik tertentu.

Arketipe "bad boy" telah lama dipopulerkan dalam budaya populer. Sosok seperti ini sering dianggap percaya diri, tegas, dominan, dan memiliki daya tarik seksual, meskipun citra tersebut belum tentu mencerminkan kondisi psikologis yang sebenarnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Zoeclews-hypnotherapy.co.uk

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Menguak Hybristophilia, Fenomena Ketertarikan terhadap Pelaku Kejahatan

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!