Ilustrasi para Samurai Jepang. (Kusakabe Kimbei/Wikipedia)
INDOZONE.ID - Mendengar kata "Samurai", ingatan kita pasti langsung tertuju pada sosok ksatria tangguh ber-katana yang hidup demi kode kehormatan (bushido). Tapi tahu gak sih, kalau sejarah panjang para petarung elite Kekaisaran Jepang ini gak melulu soal tebas-tebasan di medan perang?
Seiring berjalannya waktu, perubahan politik, gempuran teknologi asing, dan modernisasi massal memaksa para samurai ini gantung pedang. Alih-alih tewas di medan perang, mayoritas dari mereka justru pensiun secara damai dan beralih profesi. Penasaran gimana transformasi mengejutkan dari para pelindung kaisar ini? Yuk, simak ulasan lengkapnya!
Kalau dirunut dari sejarahnya, istilah samurai gak langsung keren begitu saja. Di masa Periode Heian (794–1185), pemerintah pusat di Kyoto mulai kehilangan kontrol atas wilayah-wilayah pelosok. Akhirnya, para tuan tanah kaya di daerah berinisiatif menyewa bodyguard bersenjata untuk menjaga aset mereka.
Nah, para pengawal pribadi inilah yang kelak disebut sebagai samurai. Kata ini ternyata serapan dari bahasa Jepang kuno saburau, yang arti harfiahnya adalah "melayani". Jadi, pada awalnya samurai itu sebutan bagi para pelayan.
Memasuki abad ke-12, klan-klan militer besar seperti Minamoto dan Taira mulai mendominasi. Pasca-Perang Genpei (1180–1185), klan Minamoto sukses membantai rivalnya dan mendirikan Keshogunan Kamakura. Momen inilah yang jadi titik balik di mana kasta pelayan naik kelas menjadi penguasa politik dan penegak hukum tertinggi di Jepang.
Memasuki abad ke-19, masa isolasi Jepang (sakoku) hancur berantakan setelah Komodor Matthew Perry dari Amerika Serikat datang membawa armada tentara modern yang dijuluki "Kapal Hitam" pada 1853. Sadar kalau teknologi militer mereka ketinggalan zaman, goncangan politik pun terjadi di internal Jepang.
Para samurai dari klan Satsuma dan Choshu memutuskan melakukan kudeta untuk menggulingkan keshogunan dan mengembalikan kekuasaan ke tangan kaisar lewat Perang Boshin (1868–1869). Sayangnya, perang ini juga membuktikan kalau keahlian memanah dan ilmu pedang tradisional sudah gak berkutik melawan senapan mesin dan artileri modern Barat.
Setelah Restorasi Meiji sukses, pemerintah baru langsung ngebut melakukan perombakan sosial yang otomatis membubarkan kasta samurai:
Mantan samurai yang sakit hati kemudian menggelar demonstrasi terakhir lewat Pemberontakan Satsuma (1877) di bawah pimpinan Saigo Takamori, namun gerakan ini berhasil ditumpas total dalam pertempuran Shiroyama.
Meski kasta feodalnya dihapus, darah ksatria dan modal kepintaran membaca-menulis membuat eks-samurai gak langsung punah begitu saja. Banyak dari mereka yang sukses bertransformasi menjadi elit baru di era modern, seperti masuk ke dunia politik, hukum, bisnis, hingga akademisi.
Contohnya Ito Hirobumi yang sukses jadi Perdana Menteri pertama Jepang, atau Yamagata Aritomo yang menjadi marsekal lapangan di militer modern. Malahan, nilai-nilai loyalitas, disiplin ekstrem, dan kehormatan ala bushido diadopsi penuh menjadi ideologi nasional militer Jepang menjelang Perang Dunia II. Sampai hari ini, banyak keluarga di Jepang yang masih menyimpan rapi pedang pusaka leluhur mereka sebagai simbol kebanggaan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Nationalgeographic