Ilustrasi Perang Vietnam (lithub.com)
INDOZONE.ID - Amerika Serikat selalu menjadi wajah sebagai polisi dunia yang masuk ke negara lain dan berperang dengan negara tersebut. Namun, tak semua peperangan bisa mereka menangkan, salah satunya kekalahan di perang Vietnam.
Dalam konteks hasil akhir perang, banyak sejarawan menyimpulkan bahwa Amerika Serikat kalah dalam Perang Vietnam karena gagal mencapai tujuan politik utamanya.
Tujuan utama Amerika Serikat adalah mempertahankan keberadaan Vietnam Selatan sebagai negara non-komunis dan mencegah Vietnam Utara menyatukan seluruh Vietnam di bawah pemerintahan komunis. Setelah pasukan AS ditarik dan dukungan militer berkurang, Vietnam Selatan runtuh ketika pasukan Vietnam Utara merebut Saigon pada 30 April 1975.
Dalam buku sejarah dan kajian akademis, Perang Vietnam sering dijadikan contoh situasi di mana keunggulan militer tidak otomatis menghasilkan kemenangan politik.
Baca juga: Mengenal Agent Orange, Senjata yang Digunakan Tentara Amerika saat Perang Vietnam Selain Senjata Api
Menurut sejarawan Geoffrey Wawro di situ Literary Hub, Perang Vietnam merupakan "perang pilihan" bagi Amerika Serikat. Washington tidak diserang secara langsung oleh Vietnam Utara dan tidak berada dalam posisi mempertahankan diri. Meski pemerintah saat itu menggunakan alasan membendung komunisme dan teori domino, sebenarnya tidak ada ancaman langsung terhadap keamanan Amerika.
Yang mendorong keterlibatan Amerika justru lebih banyak berasal dari kekhawatiran politik. Para pemimpin AS takut dianggap lemah terhadap komunisme jika membiarkan Vietnam Selatan jatuh ke tangan Vietnam Utara.
Presiden John F. Kennedy dan penerusnya, Lyndon B. Johnson, menghadapi tekanan politik yang besar dari kelompok konservatif di dalam negeri. Mereka khawatir dicap lemah jika menarik diri dari Vietnam.
Johnson bahkan meningkatkan keterlibatan militer bukan karena yakin bisa menang, melainkan karena takut lawan politiknya menggunakan Vietnam sebagai senjata politik dalam pemilu.
Situasi ini membuat Amerika terus terjebak dalam perang yang sebenarnya ingin mereka hindari.
Baca juga: Sejarah Kriptografi Mesin Enigma dan Rahasia Kemenangan Intelijen di Perang Dunia II
Pada dekade 1960-an, Amerika Serikat menguasai sekitar 40 persen ekonomi dunia. Keberhasilan dalam Perang Dunia II dan kemajuan teknologi membuat banyak pemimpin Amerika yakin bahwa mereka mampu menyelesaikan hampir semua konflik.
Vietnam Utara dianggap negara kecil dan miskin yang seharusnya mudah dikalahkan. Presiden Johnson bahkan pernah menyebut Vietnam Utara sebagai "negara kecil kelas empat."
Namun kenyataannya jauh berbeda.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Literary Hub