Ilustrasi ahli pedang Miyamoto Musashi. (Freepik)
INDOZONE.ID - Bayangkan seorang kakek tua duduk sendirian di dalam kegelapan Gua Reigando, Pulau Kyushu, pada musim semi tahun 1645. Di bawah cahaya obor yang temaram, tangannya yang gemetar karena usia dan dipenuhi noda tinta perlahan menggoreskan kuas di atas lembaran kertas.
Tubuh kakek ini sebenarnya sudah hancur-hancuran, dipenuhi bekas luka dan persendian yang aus akibat perang selama enam dekade. Dia adalah Miyamoto Musashi, sosok legendaris sekaligus samurai paling mematikan dalam sejarah Kekaisaran Jepang yang memutuskan menghabiskan sisa umurnya bukan untuk pamer kesaktian, melainkan bertapa dan menulis filsafat.
Musashi lahir sekitar tahun 1584 di wilayah yang sekarang kita kenal sebagai Provinsi Mimasaka atau Harima. Pada akhir abad ke-16, Jepang bukanlah tempat yang ramah atau aman untuk bersantai. Negara ini sedang diamuk perang saudara berkepanjangan yang dikenal sebagai Periode Sengoku.
Bagi anak laki-laki dari kasta samurai seperti Musashi, ilmu pedang bukanlah sebuah hobi seni atau olahraga, melainkan bekal utama untuk bertahan hidup. Beruntung, ayahnya yang bernama Shinmen Munisai adalah seorang petarung tangguh yang diakui kekaisaran. Musashi kecil sudah kenyang dengan teori taktik pertempuran bahkan sebelum badannya tumbuh tinggi.
Uniknya, Musashi tumbuh dewasa tepat saat Jepang mulai memasuki masa transisi menuju kedamaian di bawah Keshogunan Tokugawa (Zaman Edo). Dia dilatih untuk menjadi mesin pembunuh di medan perang, namun dunia di sekitarnya justru perlahan berubah menjadi damai dan stabil.
Saat menginjak usia 21 tahun, pemuda nekat ini merantau ke Kyoto, ibu kota budaya Jepang yang dipenuhi oleh sekolah bela diri elite dan pendekar pedang senior berprestasi. Sebagai anak bawang yang belum punya nama, Musashi sama sekali gak gentar dengan reputasi besar para maestro di sana.
Dia langsung menantang duel para jawara dari klan Yoshioka, salah satu keluarga bela diri paling dihormati di Kyoto. Hasilnya? Musashi membantai mereka semua dalam serangkaian pertarungan sengit dan menghancurkan reputasi sekolah tersebut.
Strategi Musashi ini terbilang cerdas tapi berisiko tinggi. Dia sengaja mengincar para master yang sudah punya nama besar. Mengapa? Karena mengalahkan orang biasa gak akan membuktikan apa-apa, tapi kalau berhasil menumbangkan orang yang ditakuti semua orang, otomatis namamu langsung meroket ke puncak! Sejak saat itu, nama Miyamoto Musashi langsung viral di seantero Kekaisaran Jepang.
Sepanjang kariernya, Musashi tercatat telah melakoni puluhan duel maut dan tidak pernah kalah sekalipun. Di zaman ketika kalah duel berarti mati, konsistensi Musashi ini benar-benar di luar nalar.
Rahasia kesaktiannya gak cuma terletak pada teknik pedang ganda unik buatannya yang disebut Niten Ichi-ryū yaitu gaya bertarung menggunakan pedang panjang (katana) dan pedang pendek (wakizashi) secara bersamaan. Aliran konvensional saat itu menganggap gaya Musashi ini aneh, ngawur, dan menyalahi aturan, tapi catatan sejarah membuktikan kalau gaya "sesat" inilah yang justru paling efektif membunuh lawan.
Hebatnya lagi, Musashi sadar kalau duel itu sudah dimulai bahkan sebelum pedang dicabut. Dia kerap menggunakan trik psikologis yang bikin lawannya naik pitam. Musashi sengaja datang terlambat berjam-jam ke lokasi duel! Teknik mengulur waktu ini sukses bikin musuhnya emosi, tegang, dan kehilangan ketenangan mental sebelum bertarung.
Begitu menginjak usia awal 30-an, Musashi mendadak berhenti mencari duel. Dia merasa membunuh orang tidak lagi memberikan pelajaran baru baginya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Nationalgeographic