Ilustrasi Yoritomo Minamoto (sumber: nationalgeographic.grid.id)
INDOZONE.ID - Selama tujuh abad, ketika samurai memerintah Jepang, wanita memainkan peran penting dalam membentuk dan mempertahankan negara ksatria. Mulai dari mempertahankan kastil hingga memimpin pasukan, pengaruh mereka sangat luas, meskipun sejarah tidak selalu memberikan penghargaan kepada mereka.
Selama abad ke-12, di bawah Shogun pertama Jepang, Yoritomo Minamoto, wanita memegang posisi kekuasaan, bertindak sebagai penegak hukum lokal, dan terkadang secara langsung menjalankan tugas militer. Di Keshogunan Kamakura, anak perempuan dan laki-laki sering diperlakukan sama dalam hal warisan.
Meskipun pada perkembangannya peran mereka kemudian bergeser ke arah aliansi politik melalui pernikahan, para wanita samurai tidak pernah jauh dari medan perang, terutama selama perang saudara pada zaman Sengoku (abad ke-15 hingga ke-17), di mana pertahanan kastil sering kali menjadi tanggung jawab para wanita bangsawan. Para wanita ini terlatih dalam pertempuran, siap mempertahankan rumah dan kehormatan mereka bila diperlukan. Onna-Bugeisha (ahli bela diri wanita) yang legendaris meninggalkan jejak mereka dalam sejarah. Mari kita lihat tiga wanita luar biasa yang keberaniannya mendefinisikan periode yang berbeda dari zaman samurai.
Baca juga: Mengenal “Chonmage” Model Rambut Samurai Jepang: Mengungkap Sejarah, Gaya, dan Makna Budaya
Tomoe Gozen adalah Onna-Bugeisha yang paling terkenal dalam sejarah Jepang, meskipun hidupnya berada di antara mitos dan kenyataan. Ia bertugas selama Perang Genpei (1180–1185) dan dikatakan memimpin ratusan samurai ke medan perang serta menebas ribuan musuh. Kisahnya menggambarkan seorang komandan yang memiliki kegagahan luar biasa, yang dengan garang menebas musuh-musuhnya dalam pertempuran.
Ia mencapai puncak karir legendarisnya saat pertempuran pada tahun 1184, berjuang bersama tuan dan rekannya, Yoshinaka Minamoto. Ketika kekuatan mereka berkurang, Yoshinaka mendesaknya untuk melarikan diri. Sebelum meninggalkan medan perang, dilaporkan bahwa Tomoe melepaskan kuda seorang samurai yang terampil dan memenggal kepalanya dengan satu pukulan cepat. Meskipun nasib terakhirnya tidak diketahui, warisannya sebagai pejuang tangguh tetap abadi.
Setia pada klan Taira yang kalah setelah Perang Genpei, Hangaku Gozen mengangkat senjata pada tahun 1201 untuk memimpin pertahanan melawan Minamoto yang berkuasa. Ia mengorganisir kastil keluarganya untuk pengepungan dan bertahan selama tiga bulan melawan pasukan yang jauh lebih besar.
Hangaku terkenal karena keahliannya yang luar biasa dalam menggunakan busur, dengan cerita-cerita yang menyatakan bahwa ia berhasil mengenai semua target selama pengepungan. Pada akhirnya, ia ditangkap setelah terluka oleh anak panah. Keberaniannya menarik perhatian para penculiknya, salah satunya menikahinya karena menganggapnya sebagai pejuang yang layak dihormati. Meskipun tidak banyak yang diketahui tentang kehidupannya kemudian, keberanian Hangaku tetap menjadi simbol pembangkangan dan kekuatan abadi.
Kisah Takeko Nakano terjadi pada masa senja periode samurai. Pada tahun 1868, Keshogunan berada di ambang keruntuhan, dan daerah asal Nakano, Aizu, berdiri sebagai salah satu benteng perlawanan terakhir melawan pasukan kekaisaran.
Pada usia 22 tahun, Nakano memimpin sekelompok wanita yang dikenal sebagai Joshitai (Tentara Wanita). Bersenjatakan senjata tradisional seperti naginata (senjata tombak panjang), mereka bergabung dalam pertempuran bersama para pejuang pria. Dalam sebuah pertempuran di Jembatan Yanagai, Nakano secara pribadi mengalahkan beberapa musuh sebelum terluka parah. Menolak membiarkan tubuhnya dihina, ia meminta saudara perempuannya untuk mengambil kepalanya dan menguburkannya dengan aman.
Baca juga: Bushido: Nilai-Nilai Kehormatan Samurai dari Masa Kamakura hingga Jepang Modern
Pengorbanan Nakano menandai berakhirnya sebuah periode. Restorasi Meiji segera menghapuskan kelas samurai, membawa perubahan besar pada struktur sosial Jepang. Namun, keberaniannya, bersama kisah-kisah pejuang wanita yang tak terhitung jumlahnya, terus menginspirasi.
Para pahlawan wanita ini mengingatkan kita bahwa zaman samurai tidak hanya dibentuk oleh pria yang menghunus pedang, tetapi juga oleh wanita yang berdiri di samping mereka dan sering kali bertempur bersama mereka. Kisah-kisah mereka adalah bukti ketangguhan, kepemimpinan, dan semangat para samurai yang tak lekang oleh waktu.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: JSTOR, National Geographic