Pemberontakan Satsuma. (Utagawa Yoshitora/Wikipedia)
INDOZONE.ID - Restorasi Meiji tahun 1868 bisa dibilang jadi awal malapetaka buat para eks-ksatria pedang di Jepang. Setelah berabad-abad menguasai tatanan sosial dan politik, klan samurai mendadak dipaksa pensiun dan copot jabatan. Jelas saja, banyak yang gak rela kekuasaan mereka dipreteli begitu saja. Para samurai ini masih pede kalau cuma mereka yang punya nyali dan bakat buat melindungi Jepang. Di mata mereka, tentara baru bentukan pemerintah yang isinya cuma petani-petani biasa tuh gak ada apa-apanya!
Puncaknya terjadi pada tahun 1877. Para samurai di Provinsi Satsuma nekat angkat senjata melawan pemerintah pusat di Tokyo. Peristiwa epik nan berdarah ini dikenal sebagai Pemberontakan Satsuma atau Seinan Senso (Perang Barat Daya). Lalu, gimana akhir tragis dari riwayat para samurai ini? Yuk, kita ulas kronologinya.
Berada jauh di ujung selatan Pulau Kyushu, wilayah Satsuma selama ratusan tahun memang hidup mandiri tanpa banyak dicampuri pemerintah pusat. Nah, menjelang Restorasi Meiji, klan Satsuma ini ternyata diam-diam berinvestasi besar-besaran buat bikin galangan kapal, pabrik senjata, sampai gudang amunisi di Kagoshima.
Meskipun secara hukum aset-aset ini milik pemerintah Kaisar Meiji sejak 1871, aslinya orang-orang Satsuma yang memegang kendali penuh. Merasa terancam, pada 30 Januari 1877, pemerintah Tokyo melakukan operasi senyap tanpa permisi untuk menyita dan memindahkan senjata-senjata tersebut ke Osaka.
Sialnya, aksi Angkatan Laut Kekaisaran di malam buta itu ketahuan warga lokal yang langsung membunyikan alarm. Gak pakai lama, sekitar 1.000 samurai Satsuma langsung datang mengepung, mengusir para pelaut, dan menjarah fasilitas militer kekaisaran. Senjata-senjata hasil rampasan itu bahkan dipamerkan dengan bangga di jalanan kota Kagoshima.
Tokoh samurai paling disegani di Satsuma, Saigo Takamori, sebenarnya lagi di luar kota pas kerusuhan itu pecah. Pas pulang, dia sempat ngamuk melihat kelakuan para samurai juniornya yang dinilai gegabah.
Tapi situasi langsung berbalik 180 derajat begitu ketahuan kalau ada 50 mata-mata kepolisian Tokyo yang menyusup ke Satsuma dengan perintah rahasia: habisi Saigo Takamori kalau ada pemberontakan. Merasa posisinya terancam dan gak punya pilihan lain, Saigo akhirnya membulatkan tekad buat memimpin pasukan pemberontak.
Pada pertengahan Februari 1877, sekitar 12.900 prajurit Satsuma berbaris ke arah utara menembus badai salju ekstrem. Mereka membawa senapan plus 100 butir peluru per orang, puluhan meriam kecil, dan tentu saja pedang katana andalan yang wajib terselip di pinggang. Saat berpamitan di gerbang kastel, sang penguasa wilayah (Daimyo) bahkan gak sudi memberi salam perpisahan. Itu jadi tanda kalau perjalanan mereka adalah tiket satu arah menuju kematian.
Baca juga: Tragedi Gwangju 1980: Pemberontakan Rakyat yang Mengubah Sejarah Korea Selatan
Alih-alih bertahan di kandang sendiri seperti perkiraan Tokyo, Saigo malah nekat membawa pasukannya langsung ke jantung Kyushu. Rencananya simpel: tembus ke Tokyo sambil mengumpulkan massa samurai dari daerah lain di sepanjang jalan.
Namun, ambisinya dijegal oleh Kastel Kumamoto yang dijaga ketat oleh 3.800 tentara dan 600 polisi kekaisaran di bawah komando Mayor Jenderal Tani Tateki. Sadar pasukannya kalah jumlah dan ragu akan loyalitas anak buahnya, Jenderal Tani memilih main aman dengan bertahan di dalam benteng.
Pada 22 Februari, serangan pertama Satsuma dimulai. Para samurai nekat memanjat tembok tinggi kastel, tapi langsung rontok ditembaki senapan modern. Sadar serbuan langsungnya gagal total, Saigo mengubah taktik menjadi pengepungan total selama hampir dua bulan.
Selama pengepungan, pasukan Saigo sempat membengkak jadi 20.000 orang karena dibantu mantan samurai lokal. Di sisi lain, saking apesnya, bek benteng yang kehabisan peluru meriam sampai harus memungut peluru nyasar milik Satsuma yang gak meledak buat ditembakkan balik! Sayangnya, napas Satsuma gak panjang. Pemerintah pusat mengirimkan lebih dari 45.000 pasukan bala bantuan yang sukses memukul mundur klan samurai dengan korban jiwa yang masif. Kekalahan telak di Kumamoto ini bikin Saigo cuma bisa main bertahan di sisa perang.
Baca juga: Blunder Fatal Dinasti Qing di Balik Tragedi Pemberontakan Boxer
Bulan demi bulan berlalu, pasukan pemberontak terus terdesak ke selatan. Mereka sempat bertahan di parit-parit Hitoyoshi hingga Gunung Enodake. Karena jumlah mereka terus menyusut dan dikepung puluhan ribu tentara, banyak samurai yang memilih melakukan seppu-ku (bunuh diri demi kehormatan) daripada menyerah kalah.
Pada pertengahan Agustus, sisa pasukan yang tadinya belasan ribu kini cuma tersisa sekitar 400 sampai 500 orang saja. Kehabisan peluru, mereka terpaksa murni mengandalkan sebilah katana. Saigo memimpin sisa-sisa pasukan ini mundur ke Gunung Shiroyama, tepat di atas kota Kagoshima, tempat di mana semua kekacauan ini dimulai 7 bulan lalu.
Di sinilah babak akhir itu ditulis. Sekitar 30.000 tentara kekaisaran mengepung bukit tempat persembunyian ratusan samurai yang tersisa. Gak mau gegabah, tentara kaisar sengaja menunggu dua minggu untuk menyiapkan serangan pamungkas.
Pada subuh 24 September 1877, meriam tentara kekaisaran membombardir bukit itu selama tiga jam non-stop, disusul serbuan ribuan infanteri. Saigo Takamori tewas dalam serangan awal ini, tetapi ada legenda yang menyebut dia sempat melakukan seppu-ku setelah terluka parah. Biar kepalanya gak jatuh ke tangan musuh sebagai trofi, sang pengawal setianya langsung memenggal kepala Saigo demi menjaga kehormatan terakhir sang jenderal.
Sisa-sisa samurai yang masih hidup kemudian melakukan aksi nekat terakhir: mereka berlari menyerbu moncong senapan mesin Gatling milik tentara modern dan langsung habis ditembaki. Tepat jam 7 pagi, fajar menyingsing di Shiroyama, dan seluruh samurai Satsuma telah gugur.
Kekalahan di Shiroyama otomatis menghapus eksistensi kelas samurai dari sejarah Jepang untuk selamanya. Meski dicap pemberontak oleh negara, sosok Saigo Takamori justru dipuja habis-habisan oleh rakyat jelata karena kegigihannya mempertahankan tradisi. Dialah yang menginspirasi istilah populer "The Last Samurai". Saking dicintainya oleh publik, Kaisar Meiji akhirnya memberikan pengampunan resmi kepada Saigo pada tahun 1889.
Secara militer, perang ini membuktikan kalau pasukan wajib militer dari kalangan rakyat biasa dan petani sekalipun bisa mengalahkan ksatria elit sekelas samurai, asalkan menang di jumlah pasukan dan teknologi senjata. Peristiwa ini juga menjadi batu loncatan bagi Tentara Kekaisaran Jepang untuk tumbuh menjadi kekuatan militer paling agresif dan menakutkan di Asia Timur selama beberapa dekade ke depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Nationalgeographic