Ilustrasi Boxer Rebellion atau Pemberontakan Boxer. (Sumber: History.com)
INDOZONE.ID - Sejarah dunia sering kali mencatat peristiwa ketika keberanian dan semangat patriotisme justru berujung pada tragedi akibat salah perhitungan. Salah satu contoh paling ironis dan ikonik dalam sejarah Tiongkok modern adalah Boxer Rebellion atau Pemberontakan Boxer.
Peristiwa yang terjadi pada 2 November 1899 hingga 7 September 1901 ini bermula dari niat perlawanan rakyat terhadap dominasi asing, namun harus berakhir tragis akibat blunder strategi para elite penguasa saat itu. Kisah ini menjadi cerminan nyata ketika Dinasti Qing gagal membaca peta “permainan dunia” yang telah berubah total.
Pada akhir abad ke-19, Tiongkok di bawah Dinasti Qing berada dalam kondisi yang kurang baik. Sejak kekalahan dalam Perang Candu, Tiongkok dipaksa menandatangani berbagai perjanjian yang sangat merugikan.
Pelabuhan dibuka secara paksa untuk perdagangan asing, ekonomi lokal hancur lebur, dan warga negara Barat mendapat hak ekstrateritorial yang membuat mereka kebal hukum. Bagi petani dan buruh desa, hal ini bukan sekadar isu politik tingkat tinggi, melainkan masalah harga diri yang terinjak-injak oleh bangsa asing.
Baca juga: Revolusi Xinhai 1911: Akhiri Dinasti Qing dan Awal Republik Tiongkok
Dari kemarahan inilah lahir gerakan Yihetuan, atau yang oleh orang Barat disebut “Boxer” karena keahlian bela diri mereka. Mereka bukan tentara terlatih, melainkan rakyat biasa yang muak dengan kehadiran misionaris dan simbol-simbol kekuasaan Barat.
Namun sayang, semangat yang terlalu menggebu-gebu ini tidak dibarengi dengan pemahaman militer modern. Para Boxer meyakini bahwa ritual spiritual dan seni bela diri tradisional mampu membuat tubuh mereka kebal terhadap peluru senjata api modern yang digunakan pasukan asing.
Hal ini menjadi bentuk keputusasaan kolektif di tengah negara yang gagal melindungi warganya sendiri.
Kesalahan terbesar dalam tragedi ini justru dilakukan oleh pemegang kekuasaan tertinggi saat itu, Permaisuri Cixi dan para elite istana. Alih-alih meredam gejolak atau mencari solusi diplomatik, Dinasti Qing justru ikut terseret arus emosi.
Faksi garis keras di istana melihat gerakan Boxer sebagai alat potensial untuk mengusir kekuatan asing dari tanah Tiongkok. Dalam sebuah keputusan yang kelak akan disesali, Dinasti Qing secara resmi mendukung para pemberontak dan mendeklarasikan perang terhadap hampir seluruh kekuatan dunia saat itu.
Langkah ini sama saja dengan bunuh diri politik. Dinasti Qing masih terjebak dalam pola pikir kuno dan gagal menyadari bahwa dunia awal abad ke-20 telah beroperasi dengan sistem aliansi global.
Menyerang satu perwakilan negara asing berarti memancing amarah komunitas internasional. Dinasti Qing secara tidak sengaja membuka pintu lebar-lebar bagi intervensi militer yang jauh lebih besar dari yang bisa mereka bayangkan.
Respons dunia internasional sangat cepat dan brutal. Terbentuklah Aliansi Delapan Negara atau Eight-Nation Allianceyang terdiri dari Inggris, Prancis, Rusia, Jepang, Amerika Serikat, Jerman, Italia, dan Austria-Hungaria. Negara-negara yang biasanya saling bersaing ini bersatu padu menghadapi musuh bersama.
Pasukan gabungan tersebut bergerak menuju Beijing dengan persenjataan modern yang jauh mengungguli pasukan Dinasti Qing maupun milisi Boxer. Pertempuran berlangsung tidak seimbang. Beijing jatuh, dan istana kekaisaran terpaksa melarikan diri.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber Berita