Perjanjian Renville: Latar Belakang, Tokoh, Isi, dan Dampaknya bagi Indonesia (wikipedia)
INDOZONE.ID - Perjanjian Renville adalah salah satu perundingan antara Indonesia dan Belanda yang dilakukan setelah Indonesia merdeka. Perundingan ini berlangsung pada 17 Januari 1948 di atas kapal perang Amerika Serikat yang bernama USS Renville.
Dalam perjanjian tersebut, Indonesia dan Belanda menyepakati beberapa ketentuan mengenai wilayah dan penghentian konflik. Namun, hasilnya dianggap merugikan Indonesia karena wilayah Republik menjadi lebih sempit akibat penetapan Garis Van Mook.
Untuk memahami peristiwa ini lebih jauh, simak latar belakang, tokoh yang terlibat, isi perjanjian, serta dampak Perjanjian Renville bagi Indonesia berikut ini.
Sebelum Perjanjian Renville terjadi, Indonesia dan Belanda telah menandatangani Perjanjian Linggarjati pada Maret 1947. Dalam perjanjian itu, Belanda mengakui wilayah Republik Indonesia yang meliputi Jawa, Sumatra, dan Madura.
Namun, hubungan kedua pihak kembali memburuk karena Belanda ingin menguasai kembali wilayah dan sumber daya alam Indonesia.
Pada Juli 1947, Belanda melancarkan serangan militer yang dikenal sebagai Agresi Militer Belanda I. Melalui serangan ini, Belanda berhasil menguasai beberapa kota penting, pelabuhan, dan daerah perkebunan di Jawa serta Sumatra.
Tindakan Belanda tersebut mendapat perhatian dari banyak negara. Mereka menilai bahwa konflik ini tidak bisa diselesaikan dengan perang. Karena itu, masalah Indonesia dan Belanda dibawa ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Untuk membantu menyelesaikan konflik, PBB membentuk Komisi Tiga Negara (KTN) yang beranggotakan Australia, Belgia, dan Amerika Serikat. Tugas KTN adalah menjadi penengah dan membantu Indonesia serta Belanda mencapai kesepakatan melalui perundingan.
Atas bantuan KTN, Indonesia dan Belanda akhirnya sepakat untuk kembali berunding. Perundingan tersebut berlangsung di atas kapal perang Amerika Serikat bernama USS Renville yang berlabuh di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Dari perundingan inilah lahir Perjanjian Renville yang ditandatangani pada 17 Januari 1948.
Baca juga: Kisah Teuku Umar: Pahlawan Cerdas dari Aceh yang Menipu Belanda Demi Kemerdekaan
Tokoh-Tokoh dalam Perjanjian Renville (wikipedia)
Dalam perundingan ini, Indonesia dan Belanda mengirimkan delegasi untuk mewakili kepentingan masing-masing negara.
Delegasi Indonesia dipimpin oleh Amir Sjarifuddin sebagai Perdana Menteri Republik Indonesia. Beberapa anggota delegasi Indonesia antara lain:
Delegasi Indonesia berupaya mempertahankan kedaulatan dan wilayah Republik yang saat itu terus mendapat tekanan dari Belanda.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Britanica.com