Salah satu relief Candi Borobudur. (Dok. BRIN.)
INDOZONE.ID - Candi Borobudur bukan sekadar warisan arsitektur Buddha, tapi struktur candi ini menyimpan sistem pengetahuan astronomi yang canggih.
Para peneliti dari BRIN dan ITB membuktikan bahwa nenek moyang kita memahami langit jauh lebih dalam dari yang selama ini kita bayangkan.
Endang Soegiartini dari Kelompok Keilmuan Astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB) menjelaskan, Candi Borobudur mampu menunjukkan arah Timur-Barat secara tepat.
Stupa utama yang berada di titik tengah candi berfungsi sebagai gnomon, penanda waktu dan musim, seperti jam matahari raksasa yang dibangun di atas bukit.
Ada sembilan relief perahu layar di dinding candi yang bukan sekadar dekorasi.
Relief-relief itu menggambarkan fungsi navigasi berbasis bintang. Hal ini membuktikan bahwa pelaut Nusantara sudah membaca langit jauh sebelum ada GPS.
Baca juga: Daftar Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno: Candi dan Prasasti
Baca juga: Peninggalan Sriwijaya: Prasasti, Candi, dan Jejak Sejarahnya
Pada 28 Februari lalu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema Rintisan Riset Multi Disiplin Arkeo-astronomi Candi Borobudur: Dari Budaya Syailendra ke Budaya Lanna di Kampus BRIN Kawasan Sains Sarwono Prawirohardjo, Jakarta.
Arkeo-astronomi adalah disiplin ilmu yang mengkaji bagaimana masyarakat masa lalu memahami dan menggunakan pengetahuan tentang langit dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Peneliti PRA BRIN Gerhana Puannadra Putri menjelaskan metode yang digunakan dalam kajian ini, mulai dari penentuan alignment benda langit, koordinat, pola pergerakan, hingga observasi topografi di sekitar situs. Tujuannya untuk merekonstruksi tampilan langit pada era candi itu dibangun.
"Hasil pengukuran dapat digunakan untuk memodelkan penampakan langit dan posisi benda langit pada saat situs dibuat. Perlu dukungan bukti kontekstual yang kuat seperti relief, transkrip, atau sejarah untuk validasi hasil pengukuran arkeo-astronomi terkait penanggalan, agama dan kepercayaan, sosial budaya, dan sebagainya," paparnya dikutip dari laman BRIN.
Astronomi bukan hanya soal candi. Peneliti Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan (PR MLTL) BRIN, Agus Iswanto, mengungkap bahwa masyarakat Jawa membagi satu tahun ke dalam 12 mangsa berdasarkan peredaran matahari.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: BRIN