Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Minggu, 31 MEI 2026 • 17:09 WIB

PUMMA, Alat Pemantau Tsunami Buatan BRIN yang ‘Murah’ tapi Bukan Murahan

PUMMA, Alat Pemantau Tsunami Buatan BRIN yang ‘Murah’ tapi Bukan MurahanIlustrasi tsunami. (Dok. Freepik.)

INDOZONE.ID - PUMMA (Perangkat Ukur Murah untuk Muka Air Laut) adalah alat pemantau tsunami buatan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang sudah aktif memantau perairan pesisir Indonesia selama enam tahun.

Alat ini mampu mendeteksi anomali permukaan laut setiap 15 detik dan mengirim peringatan ke server dalam kurang dari 5 menit.

PUMMA dikembangkan oleh Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) BRIN sebagai respons atas keterbatasan sistem peringatan dini yang selama ini terlalu bergantung pada sensor seismik.

Di luar negeri, alat ini dikenal dengan nama IDSL atau Inexpensive Device for Sea-Level Measurement.

"PUMMA hadir sebagai jawaban atas keterbatasan sistem peringatan dini yang selama ini bertumpu pada sensor seismik. PUMMA diunggulkan karena sesuai dengan karakteristik tsunami dan kondisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan," ujar Semeidi Husrin, Peneliti Ahli Utama dari Kelompok Riset Volkano Tsunami dan Gelombang Panjang PRKG BRIN dikutip dari laman BRIN.

Sebagian besar tsunami di Indonesia bersifat nearfield dan atipikal. Artinya datang cepat dari sumber yang dekat, bukan dari laut dalam yang jauh.

Sistem konvensional sering tidak cukup responsif untuk skenario seperti ini.

Baca juga: 5 Arti Mimpi Tsunami tapi Selamat Menurut Islam, Pertanda Baik?

Sudah Teruji

Pada periode 2020–2021, delapan unit PUMMA sudah terpasang di berbagai wilayah, yaitu Lampung, Banten, dua unit di Jawa Barat, DIY, Jawa Timur, dua unit di Sumatera Barat, dan Jakarta.

Kemampuannya sudah diuji kondisi nyata pada 2022 silam.

"Ketika tsunami akibat letusan Gunung api Hunga Tonga menghantam perairan Indonesia pada Januari 2022, PUMMA berhasil mendeteksi gelombang tersebut dan mengirimkan sekitar 36 notifikasi peringatan kepada pihak berwenang," kata Semeidi.

Salah satu keunggulan desainnya adalah PUMMA memanfaatkan pulau-pulau kecil sebagai natural offshore buoy, pelampung alami di tengah laut.

"Dengan menempatkan sensor di pulau terdekat dari sumber bencana, seperti kompleks Gunung api Anak Krakatau, informasi mengenai kenaikan air laut yang tidak wajar dapat dikirimkan ke server dalam waktu kurang dari 5 menit," ia menjelaskan.

Murah Bukan Murahan

Kata "murah" dalam nama PUMMA sering disalahartikan. Semeidi meluruskan bahwa istilah itu mencerminkan filosofi efisiensi, bukan kualitas dikurangi.

"Ada usulan untuk mengganti kata 'murah' menjadi 'multiguna', karena memang fungsi alat ini tidak terbatas hanya untuk mendeteksi tsunami tetapi juga untuk hal lain, seperti mitigasi bencana pesisir dan pengelolaan sumber daya di wilayah pesisir," ia mengungkapkan.

Saat ini PUMMA juga mulai digunakan untuk memantau banjir rob. Salah satu lokasi percontohannya adalah kawasan Muara Gembong, Bekasi, area Pantura yang memang rentan terhadap kenaikan muka air laut.

Indonesia Timur Masih Tertinggal

Selama beroperasi di lapangan, tidak satu pun unit PUMMA mengalami vandalisme, keberhasilan yang menurut Semeidi didukung oleh sosialisasi tepat sasaran dan tumbuhnya rasa memiliki di kalangan warga pesisir.

Tantangan terbesarnya sekarang bukan teknologi, tapi cakupan. Wilayah Indonesia bagian timur masih minim jaringan pemantauan, padahal potensi tsunami vulkanik di sana tidak kalah tinggi.

Pemerataan perlindungan bagi seluruh masyarakat pesisir , mulai dari Aceh sampai Papua. Jadi masih pekerjaan rumah besar yang belum selesai.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: BRIN

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

PUMMA, Alat Pemantau Tsunami Buatan BRIN yang ‘Murah’ tapi Bukan Murahan

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!