Ilustrasi Sejarah bahasa Jerman. (freepik/magnific.com)
INDOZONE.ID - Mengapa bahasa yang dahulu hanya dituturkan oleh suku-suku kuno di pedalaman Eropa kini bisa berevolusi menjadi salah satu bahasa paling berpengaruh di dunia sains, filsafat, dan ekonomi? Bahasa adalah jendela peradaban, dan menelusuri sejarah sebuah bahasa sama dengan menyusuri jejak langkah umat manusia itu sendiri.
Di antara sekian banyak bahasa di benua biru, bahasa Jerman memiliki daya tarik historis yang sangat kaya dan luar biasa.
Sebelum melangkah lebih jauh, mungkin Anda bertanya-tanya, sejarah bahasa Jermannya apa? Dan dari mana bahasa ini bermula? Sebagai pelengkap wawasan Anda, dalam bahasa Jerman sejarah disebut geschichte, yang memiliki arti "cerita" atau "peristiwa masa lampau".
Baca juga: 11 Fakta Tentang Bahasa Jerman yang Menarik: Lebih dari Sekadar Tata Bahasa Rumit
Evolusi bahasa Jerman dimulai dari akar yang sangat kuno. Bahasa Jerman adalah salah satu bahasa Indo-Eropa yang termasuk dalam kelompok bahasa Jermanik. Berdasarkan jejak historisnya, bahasa ini berasal dari bahasa Proto-Jermanik yang muncul sekitar tahun 500 SM.
Semua bahasa Jermanik Barat, yang mencakup bahasa pengantar Denmark, Afrika, Frisian, Inggris, hingga Yiddish, berkembang dari rumpun Proto-Jermanik tersebut. Tumbuh dan berkembangnya akar bahasa ini dapat ditelusuri melalui jalur migrasi yang terjadi kala itu ke wilayah Jerman dari negara Skandinavia.
Pada perkembangannya di masa lampau, terdapat prasasti dari abad kedua yang mencatat dan mengindikasikan bahwa Proto-Jermanik mulai terpecah menjadi dialek Barat, Timur, dan Utara yang saling berbeda.
Bahasa Jerman modern yang kita pelajari dan kenal saat ini sangat erat kaitannya dengan dialek Jermanik Barat yang mulai bisa dipahami secara jelas struktur katanya sekitar abad ke-8 Masehi. Bahasa ini berkembang pesat setelah runtuhnya Kekaisaran Romawi dan menjadi bahasa utama yang digunakan oleh berbagai suku Jermanik.
Fase pembentukan identitas bahasa ini juga sangat dipengaruhi oleh fenomena linguistik penting yang dikenal sebagai Pergeseran Konsonan Jerman Tinggi. Perubahan, atau yang disebut pergeseran ini, memicu varietas suara pada dialek dan melahirkan dua kelompok dialek geografis yang dominan. Dua dialek utama tersebut adalah Bahasa Jerman Tinggi (Hochdeutsch) yang muncul di daerah Jerman bagian selatan, serta Bahasa Jerman Rendah (Plattdeutsch) yang berkembang dengan pesat di area utara.
Baca juga: 6 Alasan Belajar Bahasa Jerman: Investasi Karier, Edukasi, dan Pengalaman Global
Untuk memahami transformasinya hingga menjadi bahasa yang seragam, sejarah perkembangan bahasa Jerman terbagi menjadi tiga hingga empat fase utama. Periode-periode ini lebih mudah diteliti oleh para ahli bahasa masa kini karena masih banyak meninggalkan bukti tulisan berupa manuskrip bersejarah.
Fase ini atau yang dikenal sebagai Old German berkembang saat era migrasi suku Jermanik sedang berlangsung. Periode ini ditandai secara linguistik oleh Pergeseran Bunyi Kedua (Konsonan) yang sangat sukses membedakan bahasa Jermanik dari bahasa rumpun lainnya.
Kosakata pada masa pembentukan ini sangat banyak menyerap dari bahasa Latin akibat interaksi regional. Sekitar abad keempat, karena campur tangan Kerajaan Romawi, umat Kristiani lebih menguasai kawasan tersebut sehingga bahasa Jerman mulai berkembang dan disebarluaskan secara aktif melalui para biarawan dan biarawati untuk menyebarkan injil.
Beberapa tulisan mengenai injil didapatkan dan tersimpan di biara-biara penting seperti St. Gall, Regensburg, dan Reichenau. Teks tertua yang ditemukan dari era ini juga meliputi puisi kepahlawanan seperti Hildebrandslied. Pada masa penyebaran dialek Old Saxon, ditemukan banyak artefak tulisan yang menceritakan tentang kehidupan Kristus dari abad ke-9 dan ke-10, seperti naskah berjudul Der Heliand (Penyelamat) yang bertujuan membawa filosofi Kristus kepada masyarakat lokal.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: