Ilustrasi. Peninggalan Kerajaan Sriwijaya: Prasasti dan Candi (Nano Banana)
INDOZONE.ID - Pernahkah Anda membayangkan sebuah kemaharajaan maritim Nusantara yang kekuasaannya membentang hingga ke Thailand, Kamboja, dan Semenanjung Malaya, jauh sebelum era modern dimulai? Itulah Sriwijaya, sebuah imperium besar yang menguasai jalur perdagangan Selat Malaka sejak abad ke-7 Masehi. Kejayaan masa lalu ini tidak lenyap begitu saja ditelan zaman; ia mewariskan artefak dan struktur kuno yang terus dipelajari oleh para sejarawan di seluruh dunia. Lantas, apa saja jejak yang menjadi saksi bisu kebesaran mereka, dan pesan apa yang sebenarnya ingin mereka sampaikan kepada generasi kita saat ini?
Artikel di Indozone.id ini akan mengupas tuntas berbagai peninggalan Kerajaan Sriwijaya, menelusuri akar sejarah, fungsi, serta maknanya yang sangat penting bagi pembentukan identitas kemaritiman dan toleransi beragama di Nusantara.
Kerajaan Sriwijaya adalah salah satu kerajaan maritim terbesar dalam sejarah Indonesia yang berpusat di Pulau Sumatera, tepatnya di sekitar Palembang. Nama "Sriwijaya" berasal dari bahasa Sansekerta, di mana Sri berarti bercahaya atau gemilang, dan Wijaya berarti kemenangan. Keberadaan Sriwijaya pertama kali diungkap ke dunia akademis modern oleh sejarawan Prancis, Prof. George Cœdès, pada tahun 1918 melalui esainya yang berjudul "Le Royaume de Çrīvijaya".
Apakah Kerajaan Sriwijaya Buddha atau Hindu? Pertanyaan ini sering kali muncul dalam diskursus sejarah. Secara resmi dan dominan, Kerajaan Sriwijaya adalah kerajaan yang bercorak agama Buddha Mahayana dan Vajrayana. Meskipun demikian, kerajaan ini sangat toleran dan inklusif. Terdapat perpaduan budaya dan sinkretisme dengan ajaran Hindu (terutama aliran Siwa) di beberapa wilayah kekuasaannya. Hal ini membuktikan bahwa sejak berabad-abad lampau, masyarakat Nusantara telah mengenal harmoni dan hidup berdampingan di tengah keragaman keyakinan.
Baca juga: Kerajaan Kutai: Kerajaan Tertua di Indonesia yang Jadi Titik Awal Peradaban Nusantara
Kejayaan Sriwijaya di masa lampau dapat dibuktikan melalui ragam temuan arkeologis. Peninggalan Kerajaan Sriwijaya ini umumnya terbagi menjadi dua kategori utama, yakni bukti tertulis berupa prasasti dan bukti arsitektural berupa candi maupun situs permukiman kuno.
Untuk mempermudah pemahaman mengenai letak dan esensi dari masing-masing prasasti, berikut adalah tabel ringkasan peninggalan Kerajaan Sriwijaya berupa prasasti:
| Nama Prasasti | Lokasi Penemuan | Bahasa & Aksara | Isi atau Makna Singkat |
| Kedukan Bukit | Palembang, Sumatera Selatan | Melayu Kuno, Pallawa | Kisah perjalanan suci (Siddhayatra) Dapunta Hyang dan kemenangan Sriwijaya. |
| Telaga Batu | Palembang, Sumatera Selatan | Melayu Kuno, Pallawa | Sumpah dan kutukan bagi pejabat atau rakyat yang memberontak. |
| Talang Tuo | Palembang, Sumatera Selatan | Melayu Kuno, Pallawa | Pembangunan Taman Sriksetra oleh Sri Jayanasa untuk kemakmuran rakyat. |
| Kota Kapur | Pulau Bangka | Melayu Kuno, Pallawa | Kutukan bagi mereka yang melanggar perintah raja, penaklukan Bhumi Jawa. |
| Karang Berahi | Jambi | Melayu Kuno, Pallawa | Ancaman dan kutukan bagi daerah yang tidak tunduk pada Sriwijaya. |
| Palas Pasemah | Lampung Selatan | Melayu Kuno, Pallawa | Penaklukan wilayah selatan dan kutukan bagi pembangkang. |
| Ligor | Nakhon Si Thammarat, Thailand | Sansekerta | Pembangunan Tisamaya Caitya dan ekspansi ke Semenanjung Malaya. |
| Hujung Langit | Lampung Barat | Melayu Kuno, Jawa Kuno | Penetapan daerah sima (bebas pajak) berangka tahun 997 Masehi. |
| Leiden | KITLV Leiden, Belanda (Lempeng Tembaga) | Sansekerta, Tamil | Hubungan diplomasi antara dinasti Chola (India) dan Syailendra (Sriwijaya). |
| Nalanda | Nalanda, India | Sansekerta | Permintaan Raja Balaputradewa untuk mendirikan vihara bagi pelajar Sriwijaya di India. |
Penjelasan Detail Prasasti:
1. Prasasti Kedukan Bukit
Prasasti Kedukan Bukit (Gunawan Kartapranata, wikimedia.org
Ditemukan di tepi Sungai Tatang, Palembang. Prasasti ini memuat angka tahun yang merujuk pada era 680-an Masehi. Prasasti ini sangat fundamental karena menjadi akta kelahiran tidak resmi dari kedatuan Sriwijaya, menceritakan Dapunta Hyang yang membawa puluhan ribu tentara untuk membangun wanua (perkampungan) yang makmur.
2. Prasasti Telaga Batu
Prasasti Telaga Batu, Peninggalan Kerajaan Sriwijaya (Gunawan Kartapranata, wikimedia.org
Berlokasi di sekitar Kolam Telaga Biru, Palembang. Prasasti ini sangat unik karena bentuknya yang menyerupai batu prasasti dengan hiasan tujuh kepala ular kobra. Isinya adalah kutukan berlapis bagi siapa saja yang melakukan makar terhadap raja.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Peraturan.bpk.go.id, Gramedia