INDOZONE.ID - Indonesia kaya akan sejarah kerajaan-kerajaan besar, dan salah satunya adalah Kerajaan Wajo di Sulawesi Selatan.
Berdiri pada abad ke-15 dan mencapai puncak kejayaan di abad ke-18 melalui sektor perniagaan, Wajo dikenal sebagai kerajaan yang maju dalam berbagai bidang, mulai dari pemerintahan, kepemimpinan, hingga demokrasi yang menjunjung tinggi hak rakyatnya.
Bagi Anda yang penasaran dengan jejak-jejak kejayaan masa lalu, kanal YouTube Catatan Kaki Kita telah merangkum sepuluh peninggalan bersejarah yang masih bisa kita saksikan hingga kini. Mari kita telusuri satu per satu:
Masjid Tua Tosora di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. (Ardiansyah Indozone/Z Creators)
Masjid Tosora, didirikan sekitar tahun 1621, merupakan salah satu peninggalan bersejarah penting di Kabupaten Wajo. Tosora sendiri dulunya adalah ibu kota Kabupaten Wajo. Bangunan masjid ini memiliki kemiripan dengan struktur masjid-masjid kuno di beberapa wilayah kerajaan Islam lain, berbentuk bujur sangkar tanpa serambi. Nilai sejarahnya menjadikan masjid ini masuk dalam daftar cagar budaya Sulawesi Selatan.
Baca juga: Tombolotutu: Raja dari Sulawesi yang Bikin Belanda Frustrasi Sampai Mati
Terletak di sebelah barat Makam Puangrimaggalatung, makam ini memiliki nisan menhir tunggal setinggi 180 cm dengan lebar 88 cm dan tebal antara 9 hingga 13 cm. La Salewangeng To Tenriruwa adalah Arung Matowa Wajo ke-30 yang berjasa membangun ekonomi dan militer Wajo, termasuk pembelian senjata dan pelatihan perang.
La Tadampare Puangrimaggalatung adalah sosok berpengaruh di masa lalu, dikenal sebagai cendekiawan, ahli strategi perang, ahli pertanian, sejarawan, dan ahli hukum. Bakat kepemimpinannya terlihat sejak muda, menjabat sebagai Arung Matowa Wajo pada 1491 hingga 1521. Diperkirakan wafat pada usia 80 tahun.
La Mungkace To Damang adalah Arung Matowa Wajo ke-11 yang memerintah sekitar tahun 1567 hingga 1607. Dikenal cerdas dan bijaksana, beliau terlibat dalam perjanjian kerja sama tiga kerajaan yang disebut Kelompok Koe bersama Bone dan Soppeng. Pesan-pesan kearifan dan kebijaksanaannya tertulis dalam Lontar Arung Matowa Wajo dan diterbitkan dalam buku Makassar Christomati pada tahun 1890 oleh Dr. B.F. Matthes.
Makam Syekh Jalaluddin Al-Akbar di Wajo, Sulawesi Selatan. (FB/I La Galigo Passompe'E)
Makam ini diyakini sebagai tempat peristirahatan keturunan Rasulullah yang datang ke Indonesia melalui Kamboja. Beliau singgah di Aceh dan Jawa (dikenal sebagai Maulana Jumadil Kubra) sebelum melanjutkan perjalanan dan menetap di Tosora, Wajo, hingga wafatnya. Meskipun waktu kedatangannya tidak tercatat jelas, silsilahnya terhubung dengan Wali Songo pertama, Maulana Malik Ibrahim.
Tika Besse dikenal sebagai wanita tercantik di Tosora. Makamnya terbuat dari kayu yang didatangkan dari Malaysia dengan ukiran dari Kalimantan. Konon, nisan wanita yang terkenal ramah dan sopan ini dibuat dua bulan sebelum wafatnya.
La Tenri Lai Tosengeng merupakan Arung Matowa Wajo ke-23 yang memimpin dari tahun 1658 hingga 1670. Beliau adalah pendiri Tosora sebagai ibu kota Kerajaan Wajo. La Tenri Lai Tosengeng gugur saat berperang melawan Bone dan Belanda, dengan berbagai versi cerita tentang kematiannya, termasuk ledakan meriamnya sendiri.
Baca juga: Menjelajahi Jejak Kejayaan: 12 Peninggalan Kerajaan Aceh yang Masih Kokoh Hingga Kini
Putra dari Arung Peneki, La Madukelleng, wafat pada tahun 1765. Makamnya berupa bongkahan batu besar. La Madukelleng dikenal sebagai tokoh yang berhasil menjadikan armada laut Wajo sangat ditakuti Belanda pada abad ke-17. Atas jasanya, ia dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada tahun 1998.
Geddongnge (Gudang Mesiu) di Wajo, Sulawesi Selatan. (FB/I La Galigo Passompe'E)
Selain tempat ibadah, Kerajaan Wajo juga memiliki gudang mesiu yang dikenal sebagai Geddonge. Bangunan ini digunakan untuk menyimpan dan menyuplai persenjataan seperti meriam atau senapan untuk benteng pertahanan. Berbentuk segi empat dengan dinding setebal 20 cm dan bergaya Eropa, Geddonge memiliki peran krusial dalam pertahanan kerajaan dari serangan musuh.
Saoraja Mallangga adalah rumah tempat tinggal Arung Bettempola. Peninggalan ini menarik karena di dalamnya tersimpan benda-benda bersejarah milik raja. Kini, Saoraja Mallangga telah menjadi museum keluarga, menjaga apik berbagai peninggalan leluhur.
Keberadaan peninggalan-peninggalan ini menjadi saksi bisu kejayaan Kerajaan Wajo, memberikan pengetahuan berharga bagi generasi penerus tentang sejarah dan kebudayaan yang tak ternilai harganya. Jangan lupa kunjungi langsung situs-situs bersejarah ini untuk merasakan sentuhan masa lalu yang megah!
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: YouTube/Catatan Kaki Kita