Masjid Tua Indrapuri (sumber: ANTARA)
INDOZONE.ID - Kerajaan Aceh Darussalam, sebuah mercusuar peradaban Islam di Nusantara, meninggalkan jejak sejarah yang tak lekang oleh waktu.
Dari sistem pemerintahan yang teratur hingga pendidikan yang maju, kemegahan kerajaan ini masih dapat kita saksikan melalui berbagai peninggalan bersejarahnya.
Wadah Kita, melalui kanal YouTubenya, merangkum 12 peninggalan Kerajaan Aceh yang masih berdiri megah dan menyimpan kisah heroik. Mari kita selami lebih dalam!
Tak ada yang tak mengenal Masjid Raya Baiturrahman. Berlokasi di pusat Kota Banda Aceh, masjid yang dibangun oleh Sultan Iskandar Muda pada tahun 1612 ini menjadi ikon Aceh.
Sempat dibakar Belanda namun dibangun kembali, masjid ini juga menjadi saksi bisu keganasan tsunami 2004, menjadi satu-satunya bangunan yang kokoh berdiri. Sebuah simbol ketahanan dan keimanan rakyat Aceh.
Dulunya sebuah candi dan benteng saat Aceh masih dikuasai Hindu pada abad ke-14, Masjid Tua Indrapuri mengalami transformasi signifikan.
Seiring masuknya Islam, candi berbentuk segi empat sama sisi ini beralih fungsi menjadi masjid pada masa Sultan Iskandar Muda (1607–1637). Ini menunjukkan akulturasi budaya yang harmonis di masa itu.
Baca juga: Benteng Indra Patra, Pertahanan Strategis Pasukan Aceh Melawan Serangan Kolonial dari Selat Malaka
Benteng Indra Patra, yang awalnya dibangun Kerajaan Lamuri (kerajaan Hindu pertama di Aceh), kemudian menjadi garis pertahanan utama melawan penjajah Portugis.
Sultan Iskandar Muda bahkan mempercayakan Laksamana Malahayati, laksamana perempuan pertama di dunia, untuk memimpin pasukan di benteng ini. Sebuah bukti keberanian dan strategi militer yang hebat.
Pintu Khop, sebuah gerbang berbentuk kubah, didirikan di era Sultan Iskandar Muda. Lokasinya tak jauh dari Gunongan, pintu ini menjadi tempat peristirahatan Putri Pahang setelah berenang, di mana para dayang akan membersihkan rambut permaisuri.
Di dalamnya juga terdapat kolam dan berfungsi sebagai pintu penghubung antara istana dan taman putri.
Berkat transfer teknologi dari Turki Usmani pada masa Sultan Slim II, Aceh mampu memproduksi meriamnya sendiri dari kuningan.
Meriam-meriam ini menjadi tulang punggung pertahanan Aceh saat perang melawan Belanda, menunjukkan kemandirian dan keunggulan teknologi militer kerajaan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: YouTube/WadahKita