Daftar Peninggalan Kerajaan Mataram Kuno (Nano Banana)
INDOZONE.ID - Pernahkah Anda membayangkan bagaimana sebuah peradaban Nusantara di abad ke-8 mampu membangun monumen batu raksasa dengan presisi matematis tanpa bantuan teknologi modern? Jawabannya terukir jelas dalam lembaran sejarah peninggalan Kerajaan Mataram Kuno.
Berpusat di jantung Pulau Jawa, kerajaan bercorak Hindu-Buddha ini tidak hanya mewariskan kemegahan arsitektur berskala global, tetapi juga meninggalkan jejak tata kelola pemerintahan, toleransi beragama, dan kemajuan teknologi pertanian yang luar biasa. Mempelajari warisan peninggalannya bukan sekadar menghafal artefak mati, melainkan menelusuri akar identitas kecerdasan peradaban bangsa Indonesia.
Kerajaan Mataram Kuno, atau yang sering disebut dengan Bumi Mataram, merupakan salah satu kerajaan terbesar yang pernah menguasai Pulau Jawa. Awalnya, kerajaan ini terletak di Jawa Tengah, membentang di wilayah subur aliran Sungai Bogowonto, Progo Elo, dan Bengawan Solo. Namun, karena faktor bencana alam, letusan Gunung Merapi, dan pertimbangan politik, pusat kerajaan kemudian dipindahkan oleh Mpu Sindok ke wilayah Jawa Timur.
Sejarah mencatat bahwa kerajaan ini dikendalikan oleh tiga dinasti (wangsa) besar yang saling memberikan pengaruh kuat terhadap corak peninggalannya:
"Peninggalan Mataram Kuno adalah bukti nyata toleransi beragama di Nusantara. Wangsa Sanjaya yang Hindu dan Syailendra yang Buddha mampu hidup berdampingan dan mewariskan karya arsitektur monumental yang tak lekang oleh waktu." Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI (Kemdikbud), dalam catatan sejarah Candi Borobudur dan Prambanan.
Baca juga: Peninggalan Kerajaan Samudra Pasai: Sejarah, Letak, dan Bukti Kejayaannya Lengkap
Peninggalan fisik yang paling menonjol dari Kerajaan Mataram Kuno adalah bangunan suci berupa candi. Candi-candi ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat pemujaan, tetapi juga sebagai simbol legitimasi kekuasaan raja.
Biksu mengikuti Pradaksina di Borobudur (Heri nugroho (commons.wikimedia.org))
Monumen Buddha terbesar di dunia ini terletak di Magelang, Jawa Tengah. Dibangun pada masa Dinasti Syailendra (abad ke-8), candi ini memiliki panjang 121,66 meter dan tinggi 35,40 meter. Bentuknya menyerupai punden berundak dengan relief yang menceritakan ajaran Buddha.
Candi Prambanan adalah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia yang dibangun sekitar abad ke-9 (sekitar 850 M) oleh Raja Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya (Kerajaan Mataram Kuno). Candi ini didedikasikan untuk Trimurti (Siwa, Brahma, Wisnu) sebagai tandingan candi Buddha (Borobudur/Sewu) dan penanda kembalinya kekuasaan Hindu.
Berada tak jauh dari Prambanan, ini adalah kompleks candi Buddha terbesar kedua setelah Borobudur. Candi Sewu yang beraliran Buddha Mahayana ini berusia lebih tua daripada Candi Prambanan. Meskipun aslinya terdapat 249 candi, oleh masyarakat setempat candi ini dinamakan Sewu yang berarti seribu dalam bahasa Jawa. Penamaan ini berdasarkan kisah legenda Loro Jonggrang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber