Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Rabu, 17 DESEMBER 2025 • 10:35 WIB

Naga yang Bangun Tidur: Dari Dinasti ke Republik, Kisah Seratus Tahun Gairah Tiongkok

Naga yang Bangun Tidur: Dari Dinasti ke Republik, Kisah Seratus Tahun Gairah TiongkokRevolusi Xinhai 1911. (sumber: nationalgeographic.grid.id)

INDOZONE.ID - Abad ke-19 menandai luka besar bagi Tiongkok kalah dalam Perang Candu (1839-1842 dan 1856-1860), dipaksa membuka pelabuhan melalui perjanjian-perjanjian tidak seimbang. 

Tiongkok  tercerai-berai oleh pengaruh asing yang membagi wilayahnya menjadi "lingkaran pengaruh" (spheres of influence). 

Kekalahan telak dalam Perang Sino-Jepang Pertama (1894-1895) menjadi pukulan psikologis terdalam bagaimana mungkin negara tetangga yang selama ini dianggap murid peradaban Tiongkok bisa mengalahkan sang guru? 

Rasa malu kolektif ini bukan sekadar kebencian pada kekuatan luar, melainkan pemicu pertanyaan mendasar: mengapa bangsa Tiongkok dengan peradaban ribuan tahun, teknologi tinggi masa lampau, dan sistem birokrasi yang canggih bisa kalah?

Pertanyaan eksistensial itu menumbuhkan kebangkitan gagasan baru: modernisasi, kedaulatan, dan konsep bangsa (民族, minzu) yang sebelumnya tidak pernah ada dalam kerangka berpikir kekaisaran tradisional.  

Baca juga: Bagaimana Restorasi Meiji Mengubah Wajah Jepang yang Terbelakang?

Kaum intelektual seperti Kang Youwei dan Liang Qichao memperkenalkan ide reformasi konstitusional, sementara Sun Yat-sen menuntut penggantian total sistem kekaisaran. 

Reformasi Seratus Hari (1898) yang gagal menunjukkan mendesaknya kebutuhan perubahan sekaligus kuatnya resistensi elite konservatif.

1911: Titik Balik Kerajaan Runtuh, Republik Lahir

Pemberontakan Wuchang pada 10 Oktober 1911 dan gelombang pemberontakan berikutnya di berbagai provinsi menandai akhir dinasti Qing yang telah berkuasa selama 268 tahun dan pembukaan era republik. 

Revolusi Xinhai tidak serta-merta menghapus semua masalah: ia menghancurkan simbol kekuasaan lama tetapi meninggalkan kekosongan politik yang berbahaya, perebutan pengaruh militer oleh para panglima perang (warlords), dan persaingan elit yang berkepanjangan. 

Puyi, kaisar terakhir yang masih anak-anak, turun tahta pada Februari 1912, mengakhiri lebih dari dua ribu tahun tradisi kekaisaran Tiongkok.

Baca juga: Disintergrasi India: Perjalanan Panjang Konflik Sejak Prakemerdekaan, Hingga Kelahiran Bangladesh

Revolusi Xinhai

Namun secara simbolik, 1911 menjadi legenda pemersatu yang kuat: citra Sun Yat-sen sebagai "Bapak Republik" dan gagasan "tiga prinsip rakyat" (san min zhuyi: nasionalisme, demokrasi, dan kesejahteraan rakyat) memberi narasi alternatif kebanggaan transformasi dari subjek kekaisaran pasif menjadi warga bangsa modern yang aktif. 

Meskipun republik yang baru lahir segera terjerumus dalam kekacauan Era Panglima Perang (1916-1928), momentum psikologis dari 1911 tidak pernah hilang. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Berbagai Sumber

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Naga yang Bangun Tidur: Dari Dinasti ke Republik, Kisah Seratus Tahun Gairah Tiongkok

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!