Ilustrasi restorasi Meiji. (Istimewa)
INDOZONE.ID - “Macan Asia” adalah julukan negara Jepang saat ini, namun sebelum menyandang gelar tersebut Jepang juga pernah menjadi negara “primitif” yang tertinggal oleh negara negara maju lainnya.
Perjalanannya pun tidak mudah karena harus bersaing negara Barat yang sudah maju jauh di depan.
Restorasi Meiji menjadi Tonggak Sejarah Baru yang mengubah wajah Jepang, menjadikan negara feodal yang terisolasi dari dunia luar menjadi sebuah negara yang lebih modern.
Di bentuk pada tahun 1868 di pimpin oleh Kaisar Mutsuhito, nama Meiji di ambil dari “Pemikiran Tercerahkan” yang bermakna bagi perubahan sistem pemerintahan di Jepang.
Artikel The Meiji Restoration and Modernization di Jurnal Asia for Educators (Columbia University) menjelaskan bahwa Restorasi Meiji mampu mengambil kedali perdagangan internasional lewat dua perang dengan Eropa.
Baca juga: Disintergrasi India: Perjalanan Panjang Konflik Sejak Prakemerdekaan, Hingga Kelahiran Bangladesh
Dalam kurun waktu yang cukup singkat, kurang dari satu generasi, Jepang mampu mencapai puncak tujuannya lewat perombakan struktur masyarakat.
Kepemimpinan pada Era Restorasi Meiji begitu visioner dan terpusat. Hal itu menjadi kekuatan yang tidak mudah dipecah belah.
Dengan begitu, reformasi yang ingin diimplementasikan dapat diberlakukan secara merata.
Sistem pembayaran pajak tanah juga dari yang sebelumnya menggunakan beras menjadi menggunakan uang.
Pemerintah akhirnya berhasil menstabilkan anggara negara. Melalui suntikan anggaran tersebut Jepang membentuk tentara nasional lewat wajib militer pada tahun 1872.
Baca juga: Fakta Unit 731: Eksperimen Sadis Tentara Jepang terhadap Warga Cina Berkedok Penelitian Epidemi
Modernisasi secara progresif mengutamakan pendidikan yang akhirnya menciptakan SDM yang terdidik, patuh dan loyal terhadap negara.
Pemerintah sebagai lakon penggerak ekonomi melahirkan raksasa industri seperti Mitshubishi, Sumitomo, Mitsui, yang mampu memimpin industrialisasi awal Jepang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal Asia For Educators