Selasa, 16 DESEMBER 2025 • 16:27 WIB

Disintergrasi India: Perjalanan Panjang Konflik Sejak Prakemerdekaan, Hingga Kelahiran Bangladesh

Author

Upacara kemerdekaan Paksitan (nam.ac.uk). 

INDOZONE.ID - Pada pertengahan Abad 20, India Britania mengalami peningkatan gejolak nasionalisme setelah Perang Dunia II, ketika Inggris melemah secara ekonomi dan militer. 

Indian National Congress, dipimpin oleh Mahatma Gandhi dan Jawaharlal Nehru, menuntut swaraj atau kemerdekaan penuh dari Inggris. 

Namun, di tubuh India terdapat perbedaan tajam terkait konsep negara yang kelak akan merdeka.   

All-India Muslim League yang dipimpin oleh Muhammad Ali Jinnah mengusung "Two-Nation Theory." 

Ide ini menyatakan bahwa Muslim dan Hindu adalah dua bangsa terpisah yang tidak bisa bersatu dalam satu negara. 

Baca juga: Fakta Unit 731: Eksperimen Sadis Tentara Jepang terhadap Warga Cina Berkedok Penelitian Epidemi

Ketakutan Jinnah akan dominasi Hindu setelah kemerdekaan memuncak pada Resolusi Lahore 1940, yang menuntut entitas negara terpisah yang kini dikenal sebagai "Pakistan" untuk penduduk Muslim India. 

Slogan ini dicetuskan oleh Choudhry Rahmat Ali sejak 1933.

Viceroy Lord Mountbatten, Gubernur Jenderal India yang ditugasi Pemerintah Inggris untuk mengakhiri kolonialisme, mengumumkan rencana partisi melalui Mountbatten Plan pada 3 Juni 1947. 

Rencana itu disahkan oleh Parlemen Inggris pada 18 Juli, sebagai Indian Independence Act 1947. 

Pada 15 Agustus 1947, India dibagi menjadi Union of India mayoritas Hindu dan Dominion of Pakistan mayoritas muslim. Garis Radcliffe memisahkan Punjab dan Bengal berdasarkan demografi agama. 

Baca juga: Bagaimana Revolusi Meiji Membangkitkan Jepang dari Reruntuhan Feodalisme?

Pakistan lahir dengan dua sayap non-kontigu (yang tidak berbatasan langsung): Pakistan Barat meliputi Punjab barat, Sindh, Balochistan, Khyber Pakhtunkhwa; dan Pakistan Timur meliputi Bengal plus Sylhet, Assam.

Dua wilayah Pakistan Barat dan Timur dipisahkan oleh 1.600 km daratan India.

Ketidakadilan Internal Pakistan (1947-1970)

Pakistan yang lahir dari partisi 1947 segera retak karena struktur negara yang cacat: dua wilayah non-kontigu terpisah 1.600 km oleh India, dengan  Pakistan Barat (45% populasi) mendominasi Pakistan Timur (55% populasi) secara politik, militer, dan ekonomi. 

Elite Punjab dan Muhajir di Barat mengendalikan birokrasi pusat. Sementara Bengali di timur yang lebih miskin tapi produktif dijadikan penyumbang utama pendapatan nasional melalui ekspor jute dan teh. 

Masalahnya, Bengali di Timur hanya menerima 30-40% anggaran pembangunan meski telah menyumbang 70% devisa.

Baca juga: Universitas Nalanda, Institusi Pendidikan Penting Bagi Kaum Buddhisme di India Kuno

Diskriminasi budaya memperburuk keadaan. Dimulai Language Movement 1952 di Dhaka, mahasiswa Bengali memprotes penggunaan Bahasa Urdu sebagai bahasa tunggal negara.

Dalam bentrokan, 4-6 orang ditembak. Pengakuan Bengali baru terjadi 1956 setelah protes massal. Tapi semua sudah terlambat.

Pada 1966 muncul tuntutan enam poin Sheikh Mujibur Rahman. Poinnya menuntut otonomi fiskal, mata uang terpisah, dan pembagian kekuatan militer yang proporsional. Namun Islamabad menolak dan menganggapnya sebagai tindakan separatisme.

Akhir dari Disintegrasi India

Pakistan, yang berdasarkan Partisi 1947 lepas dari India dan terbagi menjadi dua wilayah tidak berbatasan langsung (Pakistan Timur dan Barat), kemudian kembali terpecah. 

Pakistan Timur mendeklarasikan kemerdekaan  Bangladesh pada tahun 1971. Hal itu mengubah peta kekuasaan geopolitik Pakistan secara signifikan. 

Baca juga: Gebrakan Sun Yat Sen di 72 Hari Masa Jabatan Presiden yang Mengubah Wajah Tiongkok Modern

Pakistan kehilangan Wilayah Timur dengan populasinya sebesar 55%. Dari sektor ekonomi, Pakistan Timur (yang kemudian menjadi Bangladesh) dikenal sebagai penghasil tekstil dan sumber daya pertanian yang sangat penting untuk Pakistan.

Setelah Bangladesh merdeka, sumber-sumber penghasil tekstil dan pertanian Pakistan merosot signifikan. Pemasukan devisa Pakistan juga anjlok.

India yang saat itu berkonflik dengan Pakistan memperoleh keuntungan dari berpisahnya Bangladesh dari Pakistan. 

Secara geopolitik, India mendapatkan sekutu yang memungkinkan akses menuju Teluk Benggala. 

Selain itu India juga mengurangi ancaman pada bagian Timur dan Barat setelah Pakistan kehilangan bagian Timur.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Nam.ac.uk

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU