INDOZONE.ID - Bulan mengalami siklus fase yang berubah secara berkala, mulai dari sabit, separuh, hingga purnama.
Beberapa fase purnama bahkan dikenal dengan nama-nama khusus yang memiliki latar belakang sejarah dan budaya. Salah satunya adalah Strawberry Moon, yang diperkirakan akan muncul pada 30 Juni 2026.
Meski namanya mengandung kata strawberry atau stroberi, fenomena ini tidak membuat Bulan berubah menjadi berwarna merah muda.
Sebutan tersebut berasal dari tradisi masyarakat di masa lampau dan memiliki makna tersendiri. Lalu, bagaimana asal-usul nama Strawberry Moon? Simak penjelasannya berikut ini.
Baca juga: Intip Jadwal dan Cara Melihat Strawberry Moon Langka di Langit Indonesia
Strawberry Moon merupakan nama yang diberikan untuk fenomena bulan purnama yang muncul pada bulan Juni.
Sebutan ini sering disalahartikan sebagai tanda bahwa Bulan akan tampak berwarna merah muda, padahal anggapan tersebut tidak benar.
Mengutip The Old Farmer's Almanac, nama Strawberry Moon berasal dari tradisi suku Algonquin di kawasan timur laut Amerika Utara.
Mereka menggunakan bulan purnama pada Juni sebagai penanda dimulainya musim panen stroberi liar.
Dari situlah istilah tersebut kemudian dikenal luas sebagai sebutan bagi bulan purnama yang terjadi pada bulan Juni.
Di berbagai belahan dunia, fenomena yang sama juga memiliki nama berbeda sesuai dengan tradisi dan budaya masyarakat setempat.
Meski memiliki nama Strawberry Moon, fenomena ini tidak membuat Bulan berubah menjadi warna merah muda maupun menyerupai buah stroberi.
Sebutan tersebut murni berasal dari tradisi masyarakat pada masa lalu yang menamai bulan purnama berdasarkan pergantian musim atau aktivitas yang berlangsung pada waktu tertentu.
Strawberry Moon diperkirakan mencapai puncak fase purnama pada 30 Juni 2026 dengan tingkat iluminasi 100 persen.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: NASA, Live Science