Ilustrasi Foto Uang Rp 10.000 (AI/Gemini)
INDOZONE.ID - Setiap kali memegang uang Rp10.000, kita pasti melihat wajah yang familiar. Akan tetapi, tak banyak yang benar-benar mengetahui kisah heroik di balik sosok Frans Kaisiepo, pahlawan dari Papua yang jasanya tercatat dalam sejarah perjuangan bangsa.
Frans Kaisiepo adalah tokoh sentral yang memastikan Papua kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi. Salah satu momen penting perjuangannya terjadi saat Konferensi Malino pada 1946.
Di tengah upaya Belanda membentuk "Negara Indonesia Timur" yang pro kolonial, Frans dengan berani mengusulkan nama "Irian" sebagai pengganti "Papua". Nama ini bukan sekadar kata, tetapi simbol perlawanan dan semangat kebangsaan.
Baca juga: Runtuhnya Dinasti Qing dalam Gelombang Nasionalisme yang Menyalakan Revolusi Cina 1911
Dalam bahasa Biak, Irian berarti “panas” atau “cahaya matahari”. Lebih dari itu, Frans mempopulerkan akronim politik I.R.I.A.N yang berarti Ikut Republik Indonesia Anti Nederland, sebagai seruan keberanian untuk rakyat Papua melawan penjajahan Belanda.
Keberaniannya tidak datang tanpa risiko. Frans Kaisiepo mengalami tekanan berat, diisolasi, dan diasingkan di tanah kelahirannya sendiri.
Belanda bahkan menawarkan jabatan, harta, dan kemewahan agar ia berkhianat, tapi Frans menolak dengan tegas. Baginya, “Merah Putih di dada saya, tidak untuk diperjualbelikan.”
Baca juga: Jepang Menggila, Mengapa Ekspansi ke Asia Tenggara Begitu Cepat dan Tak Terbendung?
Meski hidup dalam kesepian dan tekanan, Frans tetap menjaga semangat integrasi Papua dengan Indonesia. Ia adalah orang pertama yang dengan nyali baja, mengibarkan bendera Merah Putih di Biak, menantang moncong senjata kolonial mengepungnya.
Hari ini, nama Irian tidak hanya melegenda sebagai nama wilayah, tetapi juga sebagai simbol keberanian dan sumpah setia Frans Kaisiepo terhadap bangsa.
Saat menatap uang Rp10.000, kita diingatkan akan perjuangan pahlawan dari Timur yang menyalakan api semangat persatuan hingga Papua benar-benar kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.
Baca juga: Sun Yat Sen, Menukar Stetoskop dengan Pena Gagasan Pergerakan demi Revolusi Xinhai 1911
Frans Kaisiepo bukan hanya wajah di selembar uang. Ia adalah teladan keberanian, keteguhan, dan cinta Tanah Air yang pantas dihormati.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Instagram/@arsip.peristiwa, KPU