INDOZONE.ID - Kisah tukang pos yang membangun istana megah sendirian selama 33 tahun ini bukan dongeng, melainkan peristiwa nyata yang terjadi di Prancis pada akhir abad ke-19.
Ia adalah Joseph Ferdinand Cheval, seorang tukang pos pedesaan yang mewujudkan imajinasinya menjadi karya arsitektur unik yang kini dikenal dunia.
Berikut adalah perjalanan hidup dan proses panjang di balik berdirinya istana yang ia bangun seorang diri.
Baca juga: Dari Dinas Code hingga menjadi Badan Siber dan Sandi Negara
Awal Mula: Batu Aneh yang Mengubah Hidupnya
Pada April 1879, saat berusia 43 tahun, Ferdinand Cheval menemukan sebuah batu dengan bentuk yang tidak biasa ketika sedang mengantarkan surat.
Kakinya tersandung batu tersebut hingga hampir terjatuh. Rasa penasaran membuatnya memungut batu itu dan menyimpannya.
Keesokan harinya, ia kembali ke lokasi yang sama dan menemukan lebih banyak batu dengan bentuk menarik.
Dari situlah muncul gagasan besar dalam benaknya. Ia berpikir, jika alam mampu membentuk patung yang indah, maka ia pun bisa menciptakan bangunan dari batu-batu tersebut.
Momen sederhana itu menjadi titik awal lahirnya sebuah mimpi besar.
Baca juga: Engku Mohamma Sjafei, Pelopor Pendidikan Pribumi dari Sumatera Barat yang Luput dari Spotlight
Latar Belakang Ferdinand Cheval
Joseph Ferdinand Cheval lahir pada 19 April 1836 di Charmes-sur-l’Herbasse, dekat Hauterives, Prancis.
Ia berasal dari keluarga petani sederhana dan mulai bekerja sejak kecil membantu ayahnya. Pendidikan formalnya pun terbatas. ia hanya bersekolah dari usia 6 hingga 12 tahun.
Setelah sempat bekerja sebagai magang di toko roti dan merantau untuk mencari pekerjaan, ia kembali ke desanya dan menjadi tukang pos pedesaan. Profesi inilah yang kemudian memberinya kesempatan menjelajahi pedesaan setiap hari dan mengumpulkan batu-batu unik yang ia temui di sepanjang perjalanan.
Baca juga: Kolese Kanisius, Bukti Pendidikan Formal Jesuit Sejak 1927
Membangun Istana Impian di Kebun Sendiri
Setiap hari, Cheval menempuh jarak lebih dari 30 kilometer untuk mengantarkan surat. Di sela-sela pekerjaannya, ia mengumpulkan batu yang ditemukannya dan membawanya pulang dengan gerobak dorong.
Selama 33 tahun, ia membangun istana impiannya di kebun sayurnya sendiri. Ia bekerja seorang diri tanpa latar belakang arsitektur, tanpa mengikuti aturan teknik bangunan resmi, dan tanpa bantuan tenaga profesional.
Istana tersebut kemudian dikenal dengan nama Palais Idéal du Facteur Cheval. Pembangunannya selesai pada tahun 1912.
Di salah satu sisi bangunan, ia menuliskan kalimat yang menggambarkan perjuangannya, 10.000 hari, 93.000 jam, dan 33 tahun kerja keras.
Baca juga: Asal-Usul Nenek Moyang Bangsa Indonesia, Ini 4 Teori yang Perlu Diketahui
Arsitektur Unik yang Sulit Diklasifikasikan
Istana ini tidak dirancang untuk dihuni. Cheval membayangkannya sebagai dunia imajinasi yang dipenuhi makhluk luar biasa seperti gurita, rusa, buaya, gajah, pelikan, beruang, hingga tokoh mitologi dan peri.
Fasad timur menjadi bagian pertama yang ia bangun. Di sana terdapat air mancur bernama “Sumber Kehidupan” yang dikelilingi patung singa dan anjing.
Ia juga menambahkan gua, kuil, serta makam bergaya Mesir yang awalnya ia rencanakan sebagai tempat peristirahatan bersama istrinya, meski rencana itu tidak terwujud.
Di sisi barat, ia membuat ceruk-ceruk yang merepresentasikan berbagai arsitektur dunia, seperti chalet Swiss, kuil Hindu, Gedung Putih, kastil abad pertengahan, hingga masjid.
Semua itu terinspirasi dari kartu pos dan majalah bergambar yang ia distribusikan sebagai tukang pos.
Bagian galeri interior dipenuhi relief hewan seperti unta, beruang, gajah, kucing, serigala, dan flamingo.
Sementara di teras, ia meletakkan batu pertama yang dulu membuatnya tersandung, batu yang menjadi sumber inspirasinya.
Karya ini sering disebut sebagai arsitektur naif karena dibangun tanpa mengikuti kaidah formal, namun tetap memiliki daya tarik artistik yang kuat.
Pengakuan dan Pengaruh di Dunia Seni
Keunikan Istana Ideal menarik perhatian banyak seniman. Karya ini dikagumi kalangan surealis dan dianggap sebagai contoh arsitektur naif yang langka.
Pada tahun 1969, Menteri Kebudayaan Prancis saat itu, André Malraux, menetapkan bangunan tersebut sebagai monumen bersejarah, meski keputusan itu sempat bertentangan dengan sebagian pejabat kementerian.
Sejumlah tokoh seni seperti Pablo Picasso, Max Ernst, dan Salvador Dalí diketahui memiliki kekaguman terhadap karya Cheval.
Bahkan Max Ernst pernah membuat lukisan berjudul “Facteur Cheval”.
Pengaruhnya juga tampak dalam seni kontemporer, termasuk pembuatan model skala istana dalam ajang seni di Lyon pada 1997.
Baca juga: Tutankhamun, Firaun dengan 80 Sendal Emas di Makamnya
Makam Keheningan dan Akhir Perjalanan
Setelah menyelesaikan istananya pada usia 77 tahun, Cheval masih memiliki semangat untuk membangun karya lain. Karena tidak diizinkan dimakamkan di dalam istana, ia membangun makamnya sendiri di pemakaman Hauterives.
Makam tersebut ia beri nama "Tomb of Silence and Endless Rest" (Makam Keheningan dan Istirahat Abadi) dan membutuhkan waktu delapan tahun untuk diselesaikan. Ia menyelesaikannya pada usia 86 tahun.
Kini, ia dimakamkan di sana bersama keluarganya. Makam tersebut, seperti istananya, dikenal karena keaslian dan keunikannya.
Baca juga: Kisah Rakai Pikatan, Raja Jawa Kuno yang Satukan Dua Dinasti Lewat Cinta dan Strategi
Warisan Seorang Tukang Pos
Kisah tukang pos yang membangun istana megah sendirian selama 33 tahun ini menjadi bukti bahwa mimpi dapat diwujudkan dengan ketekunan dan keyakinan. Tanpa pendidikan arsitektur dan tanpa dukungan besar, Ferdinand Cheval mampu menciptakan karya yang diakui dunia.
Istana yang ia bangun bukan sekadar tumpukan batu, melainkan wujud imajinasi, kerja keras, dan keteguhan hati seorang pria sederhana yang berani bermimpi besar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Facteurcheval.com