Ilustrasi Kisah Rakai Pikatan. (Foto: Freepik @Freepik)
INDOZONE.ID - Kalau dengar kata “kerajaan Jawa kuno”, yang kebayang biasanya perang, perebutan kekuasaan, dan drama istana yang ribet.
Tapi kisah Rakai Pikatan punya warna yang beda. Ceritanya bukan cuma soal adu pasukan atau siapa paling kuat, tapi soal cara cerdas menyatukan perbedaan di tengah situasi yang lagi panas-panasnya.
Rakai Pikatan adalah raja Mataram Kuno yang hidup di abad ke-9, masa ketika tanah Jawa lagi terbelah oleh dua dinasti besar dengan keyakinan berbeda.
Alih-alih memperkeruh keadaan, ia justru datang membawa ide besar seperti persatuan.
Bukan lewat kekerasan, tapi lewat diplomasi, strategi, dan keputusan yang berani banget untuk ukuran zamannya.
Yuk, simak kisah Rakai Pikatan dilansir dari YouTube/Tos Nusantara selengkapnya!
Baca juga: Kisah Cinta Rakai Pikatan dan Pramodawardhani, Saat Perbedaan Menyatukan Mataram Kuno
Di abad ke-9, Jawa bukan tempat yang adem ayem. Wilayah Mataram Kuno terbagi antara dua kekuatan besar.
Di satu sisi ada Wangsa Sanjaya yang berpegang pada ajaran Hindu Siwa. Di sisi lain berdiri Wangsa Syailendra yang menganut Buddha Mahayana.
Awalnya masih satu akar, tapi lama-lama perbedaan ini berubah jadi jarak yang susah dijembatani.
Masalahnya bukan cuma soal agama. Ini juga soal siapa yang pegang kendali, siapa yang duduk di takhta, dan siapa yang punya pengaruh paling besar.
Situasi seperti ini bikin konflik gampang meledak kapan aja. Rakyat pun jadi korban tarik-ulur kekuasaan elite.
Di tengah kondisi yang serba tegang itulah, muncul sosok Rakai Pikatan.
Rakai Pikatan, atau dikenal juga sebagai Diah Saladu, berasal dari keluarga Wangsa Sanjaya. Meski masih tergolong muda, cara berpikirnya jauh dari kata gegabah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: YouTube