Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Kamis, 12 FEBRUARI 2026 • 15:05 WIB

Kisah Cinta Rakai Pikatan dan Pramodawardhani, Saat Perbedaan Menyatukan Mataram Kuno

Kisah Cinta Rakai Pikatan dan Pramodawardhani, Saat Perbedaan Menyatukan Mataram KunoIlustrasi Kisah Cinta Rakai Pikatan dan Pramodawardhani. (Foto: Freepik @Freepik)

INDOZONE.ID - Sejarah Jawa kuno ternyata nggak melulu soal perang dan perebutan takhta. Ada satu kisah yang sampai sekarang masih relevan buat dibicarakan, terutama di tengah masyarakat yang sering ribut karena perbedaan.

Kisah cinta itu datang dari pasangan Rakai Pikatan dan Pramodawardhani, dua tokoh penting Mataram Kuno yang cintanya bukan cuma urusan pribadi, tapi ikut mengubah arah sejarah.

Di abad ke-9, ketika agama dan kekuasaan sering jadi pemicu konflik, pernikahan Rakai Pikatan dan Pramodawardhani justru jadi jembatan persatuan.

Mereka datang dari dua wangsa besar dengan keyakinan berbeda, tapi berhasil membuktikan bahwa, perbedaan nggak harus berakhir dengan permusuhan.

Yuk, simak kisah cinta Rakai Pikatan dan Pramodawardhani dilansir dari YouTube/Embara Lensa selengkapnya!

Baca juga: Mitos Kisah Cinta Sunan Kalijaga dan Nyi Roro Kidul: Asmara Mistis di Balik Ombak Pantai Selatan

Awal Mula Konflik Dua Wangsa Besar

Kerajaan Mataram Kuno, atau sering juga disebut Kerajaan Medang, pernah berada di situasi yang cukup rumit.

Sejak awal berdirinya, kerajaan ini dipimpin oleh Wangsa Sanjaya yang menganut ajaran Hindu Siwa.

Namun, seiring berjalannya waktu, muncul Wangsa Syailendra yang beragama Buddha Mahayana, dan perlahan mengambil peran besar dalam pemerintahan.

Perpecahan mulai terasa saat kekuasaan terbagi secara wilayah. Wangsa Sanjaya menguasai Jawa Tengah bagian utara, sementara Wangsa Syailendra berkuasa di bagian selatan.

Perbedaan agama, kepentingan politik, dan ambisi kekuasaan membuat hubungan dua wangsa ini makin renggang.

Bukan cuma elite kerajaan yang terdampak, rakyat pun ikut merasakan ketegangan yang terus membesar.

Kejayaan Wangsa Syailendra dan Borobudur

Di bawah kepemimpinan Raja Samaratungga, Wangsa Syailendra mencapai puncak kejayaannya.

Masa ini ditandai dengan pembangunan Candi Borobudur, sebuah mahakarya luar biasa yang sampai sekarang diakui dunia sebagai simbol kejayaan Buddha Mahayana di Nusantara.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: YouTube

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Kisah Cinta Rakai Pikatan dan Pramodawardhani, Saat Perbedaan Menyatukan Mataram Kuno

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!