Engku Mohammad Sjafei (wikimedia.org).
INDOZONE.ID - Kalau kita menyebut tokoh pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara menjadi nama yang paling sering muncul.
Padahal, di Sumatera Barat, ada seorang tokoh pendidik yang gagasannya sama berani bahkan terasa sangat modern untuk ukuran zamannya.
Ia ialah Engku Mohammad Sjafei (sering ditulis Mohammad Sjafei/Syafei). Ia tidak hanya bicara soal “sekolah untuk pribumi”.
Ia menciptakan sekolah yang membentuk manusia utuh yang bisa berpikir, bekerja, dan berkarakter.
Dan sekolah itu lahir pada 31 Oktober 1926 di Kayutanam dalam wujud Indonesische-Nederlandsche School Kayutanam.
Baca juga: Sejarah Syair Tombo Ati dan Makna Lima Obat Hati
Di masa Hindia Belanda, pendidikan modern memang ada tetapi aksesnya sempit. Atmosfernya pun sering membuat pribumi merasa “tamu” di negerinya sendiri.
Banyak sekolah diarahkan untuk menghasilkan pegawai yang terampil, patuh, dan tidak banyak bertanya.
Mohammad Sjafei melihat masalah yang lebih dalam: sekolah yang hanya mengejar nilai dan jabatan telah melahirkan generasi yang pintar tapi tidak merdeka.
Makanya, ia membayangkan sekolah yang berbeda. Baginya, belajar tidak boleh hanya di kepala, tapi juga harus turun ke tangan dan membentuk hati.
INS Kayutanam didirikan sebagai sekolah alternatif bukan mengikuti pakem kolonial, melainkan menawarkan cara belajar yang lebih hidup.
Baca juga: Sejarah dan Makna Sakral Tembok Ratapan di Yerusalem yang Dikaitkan dengan Tembok Ratapan Solo
Dalam berbagai tulisan akademik tentangnya, INS sering digambarkan sebagai ruang pendidikan yang menyatukan kemandirian, keterampilan, seni, dan pembentukan karakter.
INS Kayutanam dikenal menekankan tiga pilar yang sering diringkas sebagai tangan, otak, dan hati sebuah konsep yang terasa dekat dengan pendidikan modern berbasis kompetensi dan karakter.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal Sejarah