Ilsutrasi Korea Selatan, Jepang, dan China (Gemini AI)
INDOZONE.ID - Perang digital di sosial media antara netizen Korea Selatan atau Knetz melawan persatuan netizen Asia Tenggara, atau yang disbeut SEAblings mengungkap banyak hal. Salah satunya mengapa netizen Korea Selatan tak dibantu netizen dari dua negara tetangga mereka, yaitu China dengan Jepang.
Salah stau buktinya, beberapa netizen Korea mencoba meminta bantuan untuk ikutan ribut di X saat melihat Malaysia dibantu oleh Indonesia, Thailand, Filiphina, hingga Vietnam. Salah satu akun Knetz mencoba meminta bantuan netizen China, namun ditolak.
Penolakkan tersebut membuka kembali hubungan politik antara tiga negara tersebut yang ternyata berkaitan dengan sejarah Korea Selatan, Jepang dan China.
Mengutip dari situs dari asiasoceity.or, ada segitiga ketegangan antara tiga negara besar Asia Timur - China, Korea, dan Jepang. Ketidakpercayaan dan kebencian, warisan dari konflik selama beberapa dekade di abad ke-19 dan ke-20, membayangi prospek era perdamaian dan kerja sama yang lebih cerah di abad ke-21. .
Baca juga: Perang Korea Selatan dan Jejak Bantuan Internasional yang Jarang Disorot
Berikut ini ada beberapa penjelasan hubungan ketegangan tiga negara tersebut.
Sentimen historis Korea Selatan terhadap Jepang seringkali dipenuhi dengan rasa dendam dan trauma, yang berakar kuat pada masa pemerintahan kolonial Jepang dari tahun 1910 hingga 1945. Pada tahun 1910, Jepang secara resmi menganeksasi Korea setelah melemahkan Dinasti Joseon melalui tekanan politik dan militer.
Selama 35 tahun penjajahan, bahasa dan budaya Korea ditekan; penggunaan bahasa Korea dibatasi di sekolah dan administrasi, sementara banyak warga dipaksa menggunakan nama Jepang. Selain itu, tanah pertanian diambil alih oleh pemerintah dan perusahaan Jepang, dan ratusan ribu warga Korea dijadikan pekerja paksa di tambang, pabrik, dan proyek militer Jepang.
Perang Jepang dan Korea Selatan (Wikipedia)
Salah satu luka terdalam dalam sejarah ini adalah nasib para “wanita penghibur,” perempuan yang dipaksa menjadi budak seksual bagi tentara Jepang selama Perang Dunia II. Trauma kolektif dari periode ini diwariskan antar generasi dan menjadi bagian penting dari identitas nasional Korea Selatan.
Meski perjanjian normalisasi hubungan ditandatangani pada 1965, banyak warga Korea merasa kompensasi yang diberikan tidak cukup. Perselisihan mengenai kerja paksa, isu “comfort women,” dan sengketa kedaulatan pulau Dokdo (Takeshima) terus memicu ketegangan diplomatik hingga saat ini.
Baca juga: Bukan Sekadar Pendekar, Ini Evolusi Panjang Samurai Jepang
Pulau kecil ini memiliki nilai simbolis dan strategis, dan sengketa kedaulatannya terus mempengaruhi hubungan modern antara Korea Selatan dan Jepang. Trauma historis ini masih membentuk pandangan publik Korea terhadap Jepang hingga hari ini.
Hubungan Korea Selatan dengan China memiliki sejarah yang lebih panjang dan bersifat lebih stabil, meskipun bersifat hierarkis. Selama berabad-abad, Korea beroperasi dalam sistem upeti kepada China, mengakui kekuasaan China secara simbolis dan mengirimkan utusan serta upeti.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Asiasociety.org