Sepak Terjang Yuan Shikai, Memulai Karier di Militer Hingga Terlibat Periode Penuh Gejolak Tiongkok
INDOZONE.ID - Yuan shikai merupakan seorang pejabat militer dan politikus di Dinasti Qin. Ia lahir pada 16 September 1859 di Xiangcheng, Provinsi Henan.
Yuan memulai karier militer di brigade Qing dari tentara Anhui, di bawah komando Li Hongzhang.
Ia dikirim ke Korea pada tahun 1882 untuk mencoba mencegah Jepang di wilayah tersebut.
Krisis politik kerajaan terpencil itu berulang kali memberi Yuan kesempatan untuk membuktikan ketepatan penilaiannya dan kecepatan tindakannya, terutama dalam urusan militer dan ekonomi.
Pada tahun 1884, pasukan Jepang yang ditempatkan di Korea berusaha menculik Kaisar Korea Li Xi (Kaisar Gaozong) selama kudeta militer.
Li Xi meminta bantuan pemerintah Qing. Yuan Shikai diperintahkan memimpin Tentara Huai dan membantu rakyat Korea mengalahkan Jepang.
Baca juga: Kisah Jacomina Fay dan Wajah Kehidupan Perempuan Indo di Masa Kolonial
Pada tahun 1885 ia diangkat menjadi komisaris Tiongkok di Seoul. Pengabdiannya yang energik dan setia kepada takhta berkontribusi pada pecahnya Perang Sino-Jepang tahun 1894–95.
Karena rekam jejaknya yang luar biasa di Korea, Yuan direkomendasikan oleh Li Hongzhang untuk bertanggung jawab atas pelatihan tentara baru
Sebelum Perang Sino-Jepang Pertama, Yuan Shikai kembali ke Tiongkok melalui Incheon, dengan menyamar sebagai petani.
Yuan Shikai mulai melatih pasukan baru di Tianjin pada tahun 1895.
Kemudian, ia bertanggung jawab atas pelatihan dan perluasan Tentara Dingwu di bawah komando Li Hongzhang.
Baca juga: Sejarah Hari Ibu: Bukan Sekadar Perayaan, Tapi Refleksi Perjuangan Kaum Perempuan
Tentara Dingwu kemudian berkembang menjadi Tentara Beiyang, kekuatan darat utama pada akhir Dinasti Qing (1644-1912).
Sebagian besar panglima perang selama Republik Tiongkok (1911-1949) telah dilatih di Tentara Beiyang
Pada tahun 1899, Yuan diangkat menjadi gubernur Provinsi Shandong. Saat pemberontakan Boxer pecah, daerah Jinan yang menjadi salah satu episentrum pergolakan merupakan bagian dari Shandong.
Yuan menolak untuk membantu atau mendukung pemberontakan Boxer. Ia justru menggunakan pasukan Angkatan Darat Baru untuk menekan pemberontak.
Karena kebijakan keras Yuan, pemberontak Boxer tidak dapat menemukan pijakan di Shandong. Mereka pun melarikan diri ke Tianjin dan Beijing. Alhasil, daerah Shandong tetap stabil di bawah pemerintahan Yuan.
Baca juga: Kisah Mao Zedong, Tokoh yang Mengubah Wajah Tiongkok Selamanya
Prestasi itu membuat Yuan dipromosikan. Ia diberi jabatan wakil raja provinsi metropolitan.
Dalam jabatan itu, dan kemudian sebagai penasihat gung Kaisar Guangxu, ia memainkan peran penting dalam program modernisasi Tiongkok. Universitas Shandong yang didirikan pada tahun 1901 berdiri atas anjuran Yuan.
Pada November 1908, Kaisar Guangxu dan Ibu Suri meninggal dunia. Kemudian Pangeran muda Pu Yi naik tahta, dengan Zai Feng sebagai wali raja.
Zai Feng diruga sangat membenci Yuan Shikai lantaran kebijakan dan perilakunya pada masa Reformasi Wu Hsu.
Istana Qing khawatir ia akan memimpin kudeta militer. Yuan pun diberhentikan dari jabatannya di pemerintahan dan harus menghilang di Anyang, Provinsi Henan.
Baca juga: Bong Cino Sering Dianggap Angker, Ini Fakta Sejarah dan Makna Budayanya
Perubahan terjadi ketika Pemberontakan Wuchang meletus pada tanggal 10 Oktober 1911. Provinsi-provinsi di Selatan Tiongkok mendeklarasikan kemerdekaannya dari kaisar qing.
Pada 1 November 1911, Kaisar Guangxu (Pu Yi) memanggil kembali dan menunjuk Yuan Shikai sebagai Kanselir (Perdana Menteri).
Yuan tiba di Beijing pada tanggal 13 November dan membentuk kabinet barunya tiga hari kemudian.
Yuan memahami dengan jelas bahwa penindasan besar-besaran terhadap Pemberontakan Wuchang dan revolusi Xinhai akan membuatnya kehilangan pengaruh di mata penguasa Qing.
Ia lantas mulai bernegosiasi dengan para revolusioner, alih-alih menindas mereka.
Yuan bernegosiasi dengan Li Yuanhong dan mencapai kesepakatan untuk mengadakan majelis nasional untuk memilih presiden pada tanggal 18 Desember 1911.
Baca juga: Bagaimana Tekanan Barat Meruntuhkan Keshogunan Tokugawa dan Melahirkan Jepang Modern?
Pada tanggal 29 Desember 1911, perwakilan dari 17 provinsi di Tiongkok Selatan memilih Sun Yat-sen sebagai presiden sementara pertama Republik Tiongkok.
Sun dilantik di Nanjing pada tanggal 1 Januari 1912, memproklamirkan berdirinya Republik Tiongkok.
Marah atas hasil tersebut, Yuan memerintahkan pasukannya untuk menyerang pasukan revolusioner di Wuhan dan Nanjing. Hal ini menyebabkan para revolusioner mundur berulang kali.
Karena posisi militer mereka yang lemah, Liga Persatuan yang dipimpin oleh Sun Yat-sen bernegosiasi dengan Yuan Shikai.
Sun berjanji kepada Yuan bahwa ia akan menyerahkan jabatan Presiden Republik Tiongkok kepada Yuan jika Kaisar Pu Yi turun takhta.
Baca juga: Peran Penting Klan Choso dan Satsuma dalam Sejarah Jepang Abad 19
Pada 12 Februari 1912, Yuan memaksa Pu Yi untuk turun takhta, atas dasar revolusi Xinhai dan para perwira Tentara Beiyang menuntut pengunduran diri kaisar, meskipun Permaisuri Yulong enggan menerima tuntutan tersebut.
Pada akhirnya, ia memerintahkan Yuan untuk membentuk kabinet Republik Tiongkok dan ini menandai jatuhnya Dinasti Qing secara resmi (1644-1912).
Pada tanggal 15 Februari 1912, dewan penasihat di Nanjing secara resmi memilih Yuan Shikai sebagai Presiden Sementara Republik Tiongkok.
Namun, di bawah Konstitusi Sementara Republik Tiongkok, kekuasaan Yuan sangat lemah karena sistem pemerintahan parlementer.
Sepanjang tahun 1912, presiden baru itu mengisi kabinetnya dengan para pengikut setia dan membuat keputusan eksekutif tanpa konsultasi.
Baca juga: Organisasi Ini Jarang Dibahas, Padahal Jadi Titik Awal Pendidikan Modern di Indonesia
Ia juga menunjukkan penghinaan terhadap Majelis Nasional. Perebutan kekuasaan muncul antara presiden dan Kuomintang yang baru terbentuk, partai terbesar di kedua majelis Majelis Nasional.
Kritikus Shikai yang paling vokal adalah pemimpin parlemen Kuomintang, Song Jiaoren, yang pidato-pidato publiknya menyerukan pembatasan kekuasaan eksekutif presiden.
Pada Maret 1913, Song Jiaoren terluka parah oleh seorang penembak di Shanghai. Bukti yang ada menunjukkan bahwa pembunuh tersebut bertindak atas anggota kabinet Shikai.
Pada bulan Juli, Sun Yat Sen dan pasukan Kuomintang melancarkan 'revolusi kedua' untuk menggulingkan Shikai, tetapi pasukan militer sang jenderal segera menumpas pemberontakan ini.
Melalui manipulasi dan paksaan, Yuan Shikai membuat Guomindang dinyatakan sebagai organisasi ilegal (November 1913).
Baca juga: Strategi Sun Yat-sen Menggulingkan Kekaisaran Tiongkok: Dari Anti-Manchu ke Tiga Prinsip Rakyat
Kemudian Yuan berupaya membubarkan Majelis Nasional sepenuhnya (Januari 1914).
Pada Mei 1914, Yuan mengubah konstitusi sementara tersebut. Ia mengubah sistem pemerintahan dari parlementer menjadi presidensial.
Yuan berusaha meningkatkan kekuasaannya lebih jauh dengan menghidupkan kembali Konfusianisme dengan mengembalikan sistem monarki kekaisaran.
Pada 20 November 1915, Yuan mengadakan sidang perwakilan khusus, di mana ia terpilih secara bulat sebagai Kaisar Tiongkok berikutnya.
Pada bulan Desember, dengan dukungan anggota kongres, mahasiswa universitas, dan kelompok-kelompok petisi massa, Yuan mendirikan monarki konstitusional dan Kekaisaran Tiongkok.
Ia dilantik sebagai Kaisar pada tanggal 12 Desember 1915 dan menobatkan dirinya sebagai Kaisar Hongxian.
Baca juga: Restorasi Meiji, Kebangkitan Negeri Matahari Terbit Menatap Era Modern
Ketika monarki konstitusional baru akan diterapkan di Kekaisaran Tiongkok, Yuan mengganti nama Istana Kepresidenan menjadi Istana Xinhua.
Norma-norma baru untuk keluarga kerajaan diberlakukan, termasuk penghapusan sistem kasim, sistem pemilihan dayang, dan sistem pemberian upeti.
Namun, monarki konstitusional baru ini ditentang oleh para panglima perang dari Tiongkok selatan, yang bangkit satu demi satu dalam pemberontakan.
Pada tanggal 25 Desember 1915, Jenderal Cai E dan Jenderal Tang Jie Yao mengumumkan penentangan mereka terhadap Yuan Shikai, diikuti oleh para jenderal dari Provinsi Guizhou dan Provinsi Guangxi.
Pada bulan Maret tahun berikutnya, Yuan Shikai terpaksa membubarkan kekaisaran baru tersebut, dan ia menunjuk Sekretaris Negara, untuk menumpas pasukan pemberontak dari Tiongkok Selatan.
Yuan merasa patah semangat dan jatuh sakit pada Mei 1916. Ia meninggal karena uremia pada usia 57 tahun pada tanggal 6 Juni 1916. Ia dimakamkan pada tanggal 24 Agustus 1916 di Anyang, Provinsi Henan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber