Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Selasa, 23 DESEMBER 2025 • 10:18 WIB

Kisah Jacomina Fay dan Wajah Kehidupan Perempuan Indo di Masa Kolonial

Kisah Jacomina Fay dan Wajah Kehidupan Perempuan Indo di Masa KolonialIlustrasi seorang perempuan Indo sedang menjamu tamu Eropanya, sambil dilayani dua budak perempuannya. (AI)

INDOZONE.ID - Istilah Indo, yang kerap dibahas dalam berbagai karya sastra dan kajian akademik, merujuk pada kelompok peranakan keturunan Eropa dan pribumi. Namun, aspek kehidupan sehari-hari mereka relatif jarang mendapat sorotan. 

Dalam tulisannya di Historiek berjudul Een dag uit het leven van een Indische ‘voormoeder’ yang terbit pada 12 Mei 2025, Suze Zijlstra mengangkat potret keseharian Jacomina Fay, seorang perempuan Indo, sebagai gambaran pengalaman hidup kelompok tersebut.

Dari segi penampilan, perempuan Indo umumnya digambarkan memiliki rambut berwarna gelap, mata kecokelatan, serta warna kulit yang relatif lebih terang dibandingkan penduduk pribumi. Ciri-ciri tersebut juga melekat pada sosok Jacomina Fay. 

Baca juga: Jejak Karma di Papan Permainan: Sejarah Ular Tangga dari India Kuno

Sosok Jacomina Fay

Ia lahir di Makassar pada 26 November 1783, dan kemudian menyandang nama keluarga Rosenquist setelah menikah dengan Jacob Happon Rosenquist pada 1798 di kota yang sama, saat usianya masih 14 tahun.

Sejak itu, ia lebih dikenal sebagai Jacomina Rosenquist dan dikaruniai beberapa anak. Salah seorang putranya, Albertus Levinus Rosenquist, kemudian dikenal sebagai juru tulis ternama di kantor Madoera. 

Setelah VOC dinyatakan bangkrut, besar kemungkinan keluarga Jacomina Fay berpindah ke Pulau Jawa sekitar awal 1800-an. Mereka menetap di Grissee, kini dikenal sebagai Gresik, di mana Jacomina melahirkan Albertus pada Februari 1824.

Walaupun perdagangan dan pemberlakuan perbudakan sudah dihapuskan, namun kehidupan Hindia Belanda belum dapat lepas dari kehidupan para budak. Termasuk para budak yang dipekerjakan di keluarga Jacomina Fay.

Sebagian besar pekerja perempuan di rumah tangganya dibawa dari Makassar, meskipun tidak terbatas dari wilayah tersebut. Jacomina juga mempekerjakan laki-laki dan perempuan yang berasal dari Preangan (Jawa Barat) serta Madoera. 

Baca juga: Sekolah Raja: Alat Kontrol Pemerintah Kolonial Berkedok Pendidikan

Kendati mereka kerap disebut sebagai budak, hubungan kerja yang dijalani tidak sepenuhnya bersifat perbudakan, karena para pekerja tersebut menerima upah, meskipun jumlahnya tergolong sangat kecil.

Para Pelayan Dipekerjakan untuk Berjualan di Pasar

Para pelayannya, baboe (pengasuh) atau djongos (pelayan laki), mereka dipekerjakan untuk berjualan di pasar. Mereka mengangkut makanan dan bahan-bahan mentah untuk dijual di pasar atau dari rumah ke rumah.

Para pelayannya kerap kali dianggap sebagai bagian dari rumah tangga. Kalau Jacomina membutuhkan lebih banyak bantuan rumah tangga, ia bisa mempekerjakan orang-orang dari daerah sekitarnya dengan biaya kecil.

Dalam kesehariannya, Jacomina kerap menghabiskan waktu beristirahat di serambi rumah dengan tikar yang digelar, ditemani para pekerjanya di sekeliling. Sambil bersantai, ia biasa mengunyah sirih hingga meninggalkan semburat merah di bibir dan mulutnya. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Historiek

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Kisah Jacomina Fay dan Wajah Kehidupan Perempuan Indo di Masa Kolonial

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!