INDOZONE.ID - Mao Zedong dikenal sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh sekaligus kontroversial dalam sejarah dunia abad ke-20. Ia merupakan pendiri Republik Rakyat Tiongkok dan pemimpin utama Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang berhasil mengubah arah politik, sosial, dan ekonomi negaranya secara radikal.
Lahir pada 26 Desember 1893 di Desa Shaoshan, Provinsi Hunan, Mao berasal dari keluarga petani yang relatif mapan. Masa kecilnya diwarnai konflik dengan sang ayah yang otoriter, pengalaman yang disebut-sebut membentuk sikap kritisnya terhadap kekuasaan. Pendidikan formal Mao dimulai di sekolah desa, lalu berlanjut ke Changsha, tempat ia mulai mengenal pemikiran modern dan ide-ide revolusioner.
Periode 1911 hingga 1921 menjadi fase penting dalam pembentukan ideologi Mao. Revolusi Xinhai yang menggulingkan Dinasti Qing membuka wawasannya terhadap perubahan politik besar. Ia aktif membaca berbagai literatur, termasuk pemikiran Barat, dan terlibat dalam Gerakan Empat Mei 1919 yang menentang imperialisme serta menyerukan modernisasi Tiongkok.
Pada 1921, Mao menjadi salah satu pendiri Partai Komunis Tiongkok di Shanghai. Berbeda dengan kebanyakan tokoh partai yang fokus pada buruh perkotaan, Mao justru melihat petani sebagai kekuatan utama revolusi. Pandangan ini dianggap menyimpang dari Marxisme-Leninisme klasik, namun Mao berargumen bahwa kondisi Tiongkok sebagai negara agraris menuntut pendekatan berbeda. Gagasannya diperkuat melalui riset lapangan tentang gerakan petani di Hunan pada 1927.
Ketika aliansi PKT dan Kuomintang pecah pada 1927, kaum komunis mengalami penindasan hebat. Mao dan pengikutnya mundur ke wilayah pedesaan Jiangxi dan membangun basis perjuangan. Di sana, Mao mengembangkan strategi perang gerilya yang kelak menjadi ciri khas perlawanan PKT.
Momen penting lainnya adalah Long March pada 1934–1935. Sekitar 80.000 pasukan komunis melakukan perjalanan hampir 10.000 kilometer untuk menghindari pengepungan Kuomintang. Meski hanya sekitar 8.000 orang yang selamat, peristiwa ini mengangkat posisi Mao sebagai pemimpin utama PKT dan membangun mitos kepemimpinannya.
Situasi berubah saat Jepang menginvasi Tiongkok pada 1937. PKT dan Kuomintang kembali bersatu melawan musuh bersama. Di balik front persatuan tersebut, Mao memanfaatkan situasi untuk memperluas pengaruh PKT di pedesaan melalui perang gerilya, reformasi tanah, dan mobilisasi massa.
Setelah Jepang kalah pada 1945, perang saudara kembali pecah. Meski Kuomintang unggul secara persenjataan dan mendapat dukungan Amerika Serikat, lemahnya kepercayaan publik akibat korupsi dan krisis ekonomi membuat posisi mereka goyah. PKT yang didukung petani akhirnya meraih kemenangan.
Mao Zedong (sumber: Chineseposters.net)
Pada 1 Oktober 1949, Mao Zedong memproklamasikan berdirinya Republik Rakyat Tiongkok di Tiananmen, Beijing. Pernyataan “Rakyat Tiongkok telah bangkit” menjadi simbol lahirnya rezim baru, sementara Chiang Kai-shek dan sisa pasukan Kuomintang mundur ke Taiwan.
Di awal pemerintahannya, Mao fokus pada konsolidasi kekuasaan dan reformasi agraria. Namun, kebijakan ambisius Lompatan Jauh ke Depan pada 1958 berujung bencana. Program kolektivisasi dan industrialisasi desa yang tidak realistis memicu kelaparan massal yang menewaskan puluhan juta orang.
Setelah pengaruhnya menurun, Mao meluncurkan Revolusi Kebudayaan pada 1966 untuk menyingkirkan lawan politiknya. Gerakan ini memicu kekacauan nasional, penindasan intelektual, serta kerusakan budaya besar-besaran hingga berakhir dengan wafatnya Mao pada 9 September 1976.
Baca juga: The Long March, Perjalanan Epik yang Mengubah Sejarah dan Bangkitnya Mao Zedong
Warisan Mao Zedong hingga kini masih diperdebatkan. Di satu sisi, ia dianggap berjasa menyatukan Tiongkok, meningkatkan literasi, dan memperkuat identitas nasional. Namun di sisi lain, kebijakan otoriternya menimbulkan penderitaan massal dan trauma sosial mendalam.
Pemerintah Tiongkok sendiri menilai Mao “70 persen benar dan 30 persen salah.” Meski demikian, potret Mao tetap terpampang di Tiananmen dan mata uang Tiongkok, menegaskan perannya yang masih sentral dalam narasi nasional.
Pemikiran Maoisme juga berpengaruh di berbagai negara berkembang dan menginspirasi sejumlah gerakan revolusioner dunia, meski sering kali dengan interpretasi ekstrem yang memicu kontroversi baru.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Ebsco-com, Wikipedia