Mao Zedong (sumber: Chineseposters.net)
INDOZONE.ID - Oktober 1934. Nasib komunisme di Tiongkok bergantung pada seutas benang.
Dikelilingi dan dihancurkan oleh lima kampanye pengepungan brutal dari pasukan Nasionalis Kuomintang di bawah Chiang Kai-shek, Tentara Merah Komunis menghadapi kehancuran total di pangkalan mereka di Jiangxi.
Di tengah keputusasaan itu, sekitar 86.000 pria dan wanita membuat keputusan yang tidak terbayangkan, mereka tidak akan menyerah, tetapi memilih untuk melarikan diri.
Inilah awal dari sebuah epik, sebuah perjalanan mundur sejauh lebih dari 12.500 kilometer melintasi pegunungan bersalju, rawa-rawa tak berujung, dan sungai-sungai ganas Tiongkok.
Perjalanan ini, yang kemudian dikenal sebagai Lintas Panjang (The Long March), dimulai sebagai pelarian putus asa, namun berujung pada sesuatu yang jauh lebih besar.
Perjalanan itu bukan hanya menjadi penyelamatan gerakan Komunis, tetapi juga kelahiran mitos pendiri Partai, dan yang paling penting, momen krusial kebangkitan seorang pria yang akan mengubah sejarah dunia: Mao Zedong.
Baca juga: Dilematis atau Dramatis : Langkah Politik Chiang Kai-shek dalam Perang Saudara dan Masa Depan Taiwan
Namun, pelarian itu segera berubah menjadi mimpi buruk yang berdarah. Dalam bulan-bulan pertama, strategi militer yang diterapkan oleh pimpinan Partai saat itu, yang didominasi oleh penasihat Soviet, ternyata gagal total.
Alih-alih melakukan gerakan gerilya yang lincah, Tentara Merah bertempur dalam pertempuran frontal yang mengakibatkan banyak korban, mengubah rute pelarian menjadi jalur kematian.
Ribuan prajurit tewas atau ditangkap, dan Tentara Merah kehilangan lebih dari dua pertiga kekuatan awalnya.
Kekalahan demi kekalahan ini mencapai puncaknya menjelang akhir tahun 1934.
Kegagalan ini menciptakan kekosongan kredibilitas, membuka celah bagi munculnya suara-suara yang selama ini terpinggirkan.
Di sinilah letak peran seorang agitator dari Hunan, Mao Zedong, yang bersikeras bahwa satu-satunya cara untuk bertahan hidup di medan perang Tiongkok adalah dengan meninggalkan doktrin asing dan kembali pada taktik perang gerilya yang revolusioner.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Berbagai Sumber