Chiang Kai-shek (Sumber: britannicauctions.com)
INDOZONE.ID - Sebagai salah satu tokoh penting Partai Nasionalis China, Kuomintang (KMT) di abad ke-20, setiap langkah politik Chiang Kai-shek selalu menjadi sorotan publik dan bahan pertimbangan para politikus. Hal ini memunculkan pertanyaan: apakah keputusan-keputusannya bersifat dilematis karena situasi yang kompleks, atau justru dramatis karena dampaknya yang besar bagi sejarah Taiwan dan dunia?
Mengutip artikel Jay Taylor berjudul The Generalissimo: Chiang Kai-shek and the Struggle for Modern China, periode 1946–1949 digambarkan sebagai masa paling dramatis dalam sejarah Asia. Dalam waktu singkat, Tiongkok berubah dari republik besar yang dipimpin Chiang menjadi negara komunis di bawah Mao Zedong. Ironisnya, kekalahan inilah yang kemudian melahirkan Taiwan modern, yang hingga kini menjadi penantang paling tegas terhadap klaim Beijing. Taylor menyebut bahwa keputusan-keputusan Chiang saat itu “berdampak jauh melampaui apa yang pernah ia bayangkan.”
Meski memasuki era pasca perang sebagai pemenang melawan Jepang, kemenangan Chiang sebenarnya hanya terlihat di atas kertas. Ekonomi porak-poranda, kota-kota rusak, dan hiperinflasi membuat masyarakat frustrasi. Taylor juga menuliskan bahwa birokrasi yang sarat korupsi membuat pemerintahan KMT kesulitan memulihkan keadaan. Sementara itu, Partai Komunis Tiongkok (PKT) memanfaatkan masa perang untuk memperkuat jaringan di desa dengan menampilkan diri sebagai kekuatan yang dekat dengan rakyat kecil, sesuatu yang tak disadari KMT hingga terlambat.
Baca juga: Langkah Dr Sun Yat-sen dan Peran Strategis Taiwan dalam Revolusi Tiongkok
Saat Perang Saudara kembali pecah pada 1946, Chiang melangkah maju dengan percaya diri berbekal peralatan modern dari Amerika Serikat. Ia yakin PKT bisa dilemahkan dalam hitungan bulan. Namun Taylor menjelaskan bahwa strategi Chiang terlalu sentralistis dan kaku. Ia kerap mengabaikan nasihat jenderal-jenderal terbaiknya dan mengambil keputusan berdasarkan intuisi politik, bukan analisis militer. Sebaliknya, Mao menjalankan perang dengan pola yang lebih lincah: mobilitas tinggi, logistik berbasis rakyat desa, dan kepemimpinan kolektif yang fleksibel.
Kekalahan KMT mencapai puncaknya pada tiga kampanye besar 1948–1949: Liaoshen, Huaihai, dan Pingjin. Kampanye Huaihai disebut sebagai titik kehancuran mutlak. Meski unggul peralatan dan didukung udara AS, KMT tumbang oleh “logistik rakyat” PKT yang mampu mengerahkan jutaan warga sebagai pengangkut suplai. KMT sendiri terjebak konflik internal, persaingan antar jenderal, hingga runtuhnya moral pasukan.
Kekalahan KMT bukan hanya terjadi di medan perang. Masyarakat kota maupun desa kehilangan kepercayaan kepada Chiang akibat ekonomi merosot, harga barang meroket, dan korupsi yang merajalela. Taylor menyebut bahwa citra moral pemimpin PKT yang berpenampilan sederhana serta retorika antikorupsi menjadi faktor psikologis kuat yang memenangkan dukungan rakyat.
Ketika Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) merebut Nanjing pada April 1949, Chiang mundur secara formal dan memberikan ruang kepada Li Zongren untuk mencoba bernegosiasi. Namun menurut Taylor, Chiang “tidak pernah benar-benar melepaskan kendali” dan tetap menarik tali pemerintahan dari balik layar sambil menyiapkan langkah besar: pindah ke Taiwan.
Banyak yang mengira kepindahan ini hanya pelarian sementara. Namun Taylor mengungkap bahwa langkah tersebut sangat terencana. Chiang memerintahkan pemindahan cadangan emas nasional sekitar 114 ton ke Taiwan. Emas inilah yang kemudian menjadi penyangga ekonomi Taiwan dan mencegah negara itu mengalami hiperinflasi seperti yang terjadi di daratan Tiongkok.
Namun perjalanan ke Taiwan tidak mulus. Dua tahun sebelum gelombang pengungsi KMT tiba pada 1949, Taiwan diguncang Insiden 28 Februari 1947 yang ditumpas secara brutal. Taylor mencatat bahwa trauma ini membentuk hubungan penuh ketegangan antara penduduk lokal dan pemerintah KMT. Selanjutnya, masa Teror Putih 1949–1987 menjadi periode represi terhadap mereka yang dicurigai simpatisan komunis. Meski keras, era ini menciptakan stabilitas politik yang diperlukan KMT untuk membangun kekuasaan baru.
Chiang mempertahankan pulau-pulau kecil seperti Kinmen dan Matsu sebagai simbol tekad bahwa Republic of China (ROC) belum menyerah. Pulau-pulau ini bukan hanya pos militer, tetapi simbol politik yang memperkuat klaim bahwa ROC tetap “Tiongkok yang sah.”
Nasib Taiwan berubah drastis ketika Perang Korea pecah pada 1950. Amerika Serikat yang sebelumnya enggan mendukung Chiang akhirnya mengirim Armada Ketujuh ke Selat Taiwan untuk mencegah invasi komunis. Taylor menyebut momen ini sebagai “penyelamatan strategis” yang membuat ROC bertahan.
Baca juga: Kekhawatiran Perang Dunia Ke-3 Muncul Usai China Dipaksa Menyangkal Rumor 'Invansi Taiwan'
Memasuki 1950–1960-an, Taiwan menjalankan reformasi agraria di bawah Chen Cheng, mulai dari pembagian tanah hingga pembangunan ekonomi pedesaan. Reformasi ini kemudian menjadi fondasi transformasi Taiwan dari wilayah miskin menjadi salah satu model pertumbuhan Asia. Taylor menilai bahwa ironi besar justru muncul: apa yang gagal dilakukan KMT di daratan berhasil dilakukan di Taiwan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Britannica, JSTOR