Mao Zedong (sumber: Chineseposters.net)
INDOZONE.ID - Tiongkok adalah negara dengan sejarah panjang dan peradaban kuno yang telah berkembang melalui berbagai dinasti besar, seperti Zhou, Qin, Qing, dan Song. Selain dikenal melalui tokoh-tokoh filsuf dunia seperti Confucius, Tiongkok juga mengalami berbagai masa sulit, termasuk periode kolonialisasi oleh Jepang, Manchu, dan Britania. Pada abad ke-20, Tiongkok menghadapi tantangan besar dalam perjuangannya melawan para penjajah, yang terlihat melalui Perang Jepang–Tiongkok serta Perang Candu I dan II. Meskipun mengalami penjajahan, Tiongkok tetap mempertahankan budayanya, seperti tidak mengadopsi bahasa Inggris sebagai bahasa resmi meski sempat berada di bawah kekuasaan Inggris.
Baca juga: Zhu Xi: Sang Penyusun Sistem Filsafat Neo-Konfusianisme yang Abadi dari China
Setelah jatuhnya Dinasti Manchu, Tiongkok menjadi negara republik yang dipimpin oleh Kuomintang. Namun, konflik dengan Partai Komunis China (PKC) memicu Perang Sipil yang berakhir pada tahun 1949 dengan kemenangan Mao Zedong dan berdirinya Republik Rakyat Tiongkok. Mao memperkenalkan kebijakan besar, seperti Gerakan Lompatan Jauh dan Revolusi Kebudayaan pada 1960-an, untuk menanamkan ideologi komunis dan menolak kapitalisme. Salah satu dampak kebijakan tersebut adalah buku merah Mao yang menjadi simbol gerakan tersebut. Kebijakan ini semakin kuat pada 1975 dengan peristiwa pembantaian Muslim Hui di Shadian, yang menunjukkan adanya upaya penyeragaman ideologi.
Di masa pemerintahan Xi Jinping, pengelolaan sosial-budaya Tiongkok terus berkembang. Xi meluncurkan proyek ambisius seperti Belt and Road Initiative dan kebijakan yang menegaskan ideologi komunis di seluruh masyarakat, mengikuti model althusserian yang dikembangkan filsuf Louis Althusser. Penelitian ini bertujuan untuk mendalami bagaimana kebijakan Xi dalam mengatur masyarakat Tiongkok dari perspektif sosial-budaya sesuai model althusserian, melengkapi studi-studi sebelumnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Uii.ac.id