Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Senin, 07 JULI 2025 • 19:07 WIB

Yongzheng dan Reformasi Tusi: Misi Menggabungkan Perbatasan Barat Daya China ke Dalam Kekaisaran Qing

Yongzheng dan Reformasi Tusi: Misi Menggabungkan Perbatasan Barat Daya China ke Dalam Kekaisaran QingIlustrasi Kaisar Qing (sumber: wikipedia)

INDOZONE.ID - Kalau kamu pikir kolonialisme cuma terjadi di dunia Barat, kamu perlu tahu sejarah ekspansi Dinasti Qing ke wilayah barat daya Tiongkok. Di balik kebijakan yang terkesan administratif, ada misi besar yaitu mengubah kawasan liar dan otonom menjadi wilayah yang patuh pada pusat kekuasaan. Salah satu kebijakan paling ikonik dalam proses ini dikenal dengan nama reformasi tusi atau gaitu guiliu.

Guizhou, Wilayah 'Bandel' di Tengah Kekaisaran

Provinsi Guizhou, meskipun secara resmi sudah menjadi bagian dari Tiongkok sejak masa Dinasti Ming tahun 1413, sebenarnya masih jadi wilayah yang ‘liar’. Wilayah ini didominasi oleh berbagai etnis non-Han yang punya bahasa, budaya, dan cara hidup yang berbeda. Beberapa memang berbaur dengan budaya Tionghoa, tapi banyak yang tetap mempertahankan kemandirian mereka.

Sistem pemerintahan lokal kala itu dipimpin oleh tusi, semacam kepala suku yang diberi gelar oleh kekaisaran tapi tetap menjalankan hukum dan kekuasaan mereka sendiri. Singkatnya, kekaisaran cuma ‘nempel nama’, tapi nggak punya kontrol nyata.

Reformasi Tusi: Ganti Kepala Suku dengan Pejabat Kekaisaran

Melihat potensi konflik dan ketidakpatuhan di wilayah ini, Kaisar Yongzheng mengambil langkah tegas. Ia meluncurkan kebijakan gaitu guiliu, yang artinya mengganti pemerintahan lokal tradisional dengan sistem birokrasi resmi yang dikontrol langsung oleh Qing.

Sasaran pertamanya? Daerah Dingfan-Guangshun dan Nanlong di Guizhou. Kawasan ini terkenal rawan perampokan dan pemberontakan dari kelompok etnis Zhongjia. Tahun 1724, Qing melancarkan kampanye militer ke wilayah ini dan mendapat perlawanan sengit. Namun, setelah dua tahun pertempuran, Qing berhasil menancapkan kekuasaan militer dan administratif di sana.

Baca juga: Zhu Xi: Sang Penyusun Sistem Filsafat Neo-Konfusianisme yang Abadi dari China

Ortai: Tangan Kanan Kaisar dalam Penaklukan Guizhou

Nama Ortai mungkin belum familiar, tapi dia adalah sosok penting di balik suksesnya reformasi ini. Ditunjuk sebagai gubernur jenderal Yunnan-Guizhou pada 1725, Ortai jadi dalang strategi penaklukan dan integrasi wilayah perbatasan. Dia tak hanya mengatur ulang struktur pemerintahan, tapi juga mengatasi kriminalitas dan kekacauan yang meresahkan masyarakat lokal.

Berkat keberhasilan di Guizhou, Kaisar Yongzheng jadi makin percaya diri menerapkan kebijakan serupa di wilayah lain seperti tanah suku Miao, Lolo (Yi), dan komunitas Tai di Yunnan. Tapi, tak semua berjalan mulus. Beberapa wilayah menolak dengan keras, bahkan memicu konflik berdarah.

Kolonialisasi Gaya Qing, Politik Bukan Cuma Pajak

Banyak yang menyebut ekspansi ini sebagai bentuk kolonialisme dalam negeri. Kenapa? Karena tujuannya bukan cuma untuk pungutan pajak atau pemanfaatan sumber daya, tapi juga untuk menundukkan budaya lokal dan menciptakan sistem “tertib” versi pemerintah pusat.

Meskipun daerah seperti Nanlong punya tambang perak dan hasil hutan yang menggiurkan, ekonomi bukanlah motivasi utamanya. Yang dikejar adalah kestabilan politik dan pengendalian atas seluruh daratan Tiongkok.

Dari “Non-State Space” ke “State Space”

Menurut para ahli, ekspansi Qing ini bisa dijelaskan lewat konsep “state space” dan “non-state space”. Kawasan dataran rendah yang mudah diawasi dan cocok untuk bercocok tanam adalah state space, wilayah ideal untuk birokrasi. Sementara daerah pegunungan seperti Guizhou kala itu masuk kategori non-state space: susah dijangkau, susah diatur, dan tidak menghasilkan surplus ekonomi.

Dengan reformasi tusi, Qing ingin mengubah Guizhou dari semi-state space menjadi wilayah yang sepenuhnya bisa dikontrol, dimonitor, dan ditertibkan.

Baca juga: Pemberontakan Huang Chao: Dari Kemarahan Petani hingga Runtuhnya Dinasti Tang

Ambisi Kekuasaan yang Dibungkus Rapi

Reformasi tusi bukan cuma soal mengganti kepala suku dengan pejabat kekaisaran. Ini adalah upaya besar untuk menciptakan negara yang satu sistem, satu hukum, satu kekuasaan. Bagi Dinasti Qing, wilayah perbatasan yang mandiri adalah ancaman. Dan satu-satunya cara menaklukkannya? Dengan mengganti akar pemerintahan lokal menjadi versi "resmi" kekaisaran.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Jstor.org

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Yongzheng dan Reformasi Tusi: Misi Menggabungkan Perbatasan Barat Daya China ke Dalam Kekaisaran Qing

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!