Zhu Xi merupakan filsuf besar dari Dinasti Song (sumber: wikipedia)
INDOZONE.ID - Zaman terus berubah, tapi nilai-nilai yang dibawa oleh pemikir hebat seperti Zhu Xi (1130–1200 M) masih terasa relevan sampai sekarang. Nama Zhu Xi memang nggak sepopuler tokoh-tokoh pop culture masa kini, tapi pemikirannya punya pengaruh luar biasa terhadap moral, pendidikan, dan tatanan sosial Asia Timur selama berabad-abad.
Zhu Xi lahir di Youxi, Provinsi Fujian, Tiongkok, pada tahun 1130 M, saat Dinasti Song sedang berjaya. Sejak kecil, ia dikenal sebagai anak yang jenius. Gimana nggak? Di usia 19 tahun, ia sudah lulus ujian kekaisaran dan langsung mendapat posisi di birokrasi pemerintahan. Tapi alih-alih mengejar karier politik, Zhu Xi justru memilih jalan yang berbeda.
Ia lebih tertarik pada dunia pengetahuan dan filsafat. Setelah berguru pada Li Tong, seorang master Konfusianisme, Zhu Xi memutuskan untuk mendalami ajaran klasik dan mencoba membangun ulang dasar-dasar pemikiran Konfusianisme yang sudah mulai melemah.
Zhu Xi bukan cuma baca-baca buku, tapi juga aktif menulis dan memberi komentar mendalam terhadap teks-teks klasik Konfusianisme seperti Analekta dan Mencius. Dalam proses itu, ia memperkenalkan konsep penting yang jadi dasar pemikirannya: “Li” (prinsip).
Menurut Zhu Xi, di balik segala hal di dunia, baik itu alam, manusia, atau moral, selalu ada prinsip dasar yang mengaturnya. Dengan memahami “Li”, manusia bisa mencapai kebenaran dan hidup selaras dengan semesta. Buat Zhu Xi, hidup bukan cuma soal logika, tapi soal mengenali keteraturan alam dan menemukan tempat kita di dalamnya.
Meski terkenal sebagai akademisi, Zhu Xi juga nggak segan turun ke dunia politik. Ia pernah menjabat sebagai hakim distrik, gubernur, dan posisi lainnya. Tapi karier politiknya nggak mulus-mulus amat.
Zhu Xi sering vokal mengkritik kebijakan pemerintah yang menurutnya nggak adil atau merugikan rakyat. Ia menekankan pentingnya moral dan integritas dalam kepemimpinan. Sayangnya, keberaniannya ini bikin dia nggak disukai pejabat-pejabat tinggi yang merasa terganggu.
Puncaknya, tahun 1196, Zhu Xi dipecat dari jabatannya dan dituduh menyebarkan ajaran sesat. Tapi ia tetap teguh pada pendiriannya, bahwa negara harus dibangun di atas nilai moral, bukan sekadar kekuasaan.
Baca juga: Kisah Tragis Thomas Urquhart, Filsuf Matematika yang Mati Karena Terlalu Banyak Tertawa
Meski hidupnya penuh konflik, Zhu Xi nggak pernah berhenti berkarya. Ia terus menulis dan mengembangkan sistem filsafat Neo-Konfusianisme hingga akhir hayatnya di tahun 1200.
Ironisnya, setelah meninggal, barulah dunia benar-benar mengakui kehebatan Zhu Xi. Pada tahun 1208, pemerintah Dinasti Song memberi gelar kehormatan Wen (Budaya) sebagai bentuk apresiasi atas kontribusinya.
Yang lebih keren lagi, ajaran Zhu Xi bahkan jadi standar wajib dalam sistem ujian negara kekaisaran Tiongkok selama lebih dari 600 tahun!
Zhu Xi bukan cuma mengubah Tiongkok. Di Korea, ajarannya jadi dasar pendidikan selama enam abad. Di Jepang, pemikirannya memengaruhi para pemimpin pada era Tokugawa.
Pengaruhnya nggak berhenti di dunia akademik aja, tapi juga masuk ke dalam nilai-nilai sosial, kebijakan pemerintahan, dan cara orang memandang hidup.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Newworldencyclopedia.org