Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Sabtu, 30 AGUSTUS 2025 • 14:05 WIB

Serat Nitipraja warisan Sultan Agung Hanyakrakusuma sebagai pedoman pemimpin Indonesia

Serat Nitipraja warisan Sultan Agung Hanyakrakusuma sebagai pedoman pemimpin IndonesiaSultan Agung Hanyakrakusuma. Kitab sastra jawa (sumber: Wikipedia)

INDOZONE.ID - Indonesia sudah merdeka selama 79 tahun dengan delapan presiden yang pernah memimpin negeri ini. Menariknya, mayoritas presiden Indonesia berasal dari Jawa. Bahkan Presiden BJ Habibie yang bukan orang Jawa pun, ibunya tetap orang Jawa. Hal ini bikin banyak orang berpikir, apakah ada nilai budaya Jawa yang bisa jadi pedoman buat para pemimpin bangsa?

Jawabannya ada di Serat Nitipraja, sebuah karya sastra klasik peninggalan Sultan Agung Hanyakrakusuma (1613–1645).

Apa Itu Serat Nitipraja?

Serat Nitipraja ditulis Sultan Agung pada tahun 1630, setelah ia gagal menaklukkan Batavia dari VOC. Tapi jangan salah, Sultan Agung tetap dikenang sebagai raja terbesar Mataram Islam dan orang Indonesia pertama yang berani menyerang VOC bahkan sampai dua kali, di tahun 1628 dan 1629.

Lewat Serat Nitipraja, Sultan Agung meninggalkan warisan berupa ajaran moral dan etika bagi para pejabat pemerintahan: dari raja, patih, bupati, jaksa, hingga duta negara. Kalau diterjemahkan, “niti” berarti tuntunan, sedangkan “praja” berarti pemerintahan. Jadi, Serat Nitipraja bisa dibilang semacam “kitab etika politik” ala abad ke-17.

Baca juga: Peran Ideologi dan Kebijakan dalam Mengelola Sosial-Budaya Tiongkok: Dari Mao Zedong hingga Xi Jinping

Ajaran Penting dalam Serat Nitipraja

Dari 72 bait yang ada, beberapa bait punya pesan yang relevan banget buat calon pemimpin zaman sekarang. Berikut beberapa di antaranya:

1. Pemimpin Harus Tegar dan Konsisten

Bait pertama menggambarkan bahwa seorang pemimpin harus kuat seperti “lautan api”. Artinya, meski menghadapi tekanan atau kritik, ia tetap berpegang pada kebenaran dan kebaikan.

2. Ingat Asal-Usul dan Jadi Teladan

Bait kedua menekankan pentingnya pemimpin untuk tidak lupa asal-usul, tetap rendah hati, serta menjadi teladan bagi rakyatnya. Keputusan pun harus diambil lewat musyawarah, bukan otoriter.

3. Sopan Santun Itu Penting

Di bait ketiga, Sultan Agung menulis bahwa meninggalkan norma kesopanan sama saja dengan kehilangan harga diri. Sebaliknya, pemimpin yang tahu tata krama akan dihargai seperti permata yang tersembunyi di dalam batu.

4. Pandai Mendengarkan Rakyat

Bait kedelapan mengajarkan bahwa pemimpin harus tahu kapan saat tepat bicara dan mendengarkan keluhan rakyatnya. Intinya, jangan asal bicara, tapi peka terhadap kebutuhan masyarakat.

5. Bijak dalam Ucapan

Bait ke-52 menekankan pentingnya berkata dengan santun dan menghindari emosi. Pemimpin tidak boleh arogan atau gampang tersulut. Ucapan yang salah bisa memicu konflik besar.

Baca juga: Dari Jakarta untuk Indonesia : Perjuangan M. H. Thamrin untuk Indonesia Merdeka

Relevansi Buat Generasi Sekarang

Kalau dilihat, ajaran Sultan Agung dalam Serat Nitipraja masih relevan banget buat calon pemimpin Indonesia masa kini. Mulai dari soal integritas, sopan santun, kerendahan hati, sampai kemampuan mendengarkan rakyat, semuanya adalah nilai yang dibutuhkan di era modern.

Buat generasi millennial dan gen Z yang suatu hari mungkin jadi pemimpin bangsa, Serat Nitipraja bisa jadi semacam reminder: bahwa kepemimpinan bukan cuma soal kekuasaan, tapi juga soal tanggung jawab, etika, dan pelayanan terhadap rakyat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Ugm.ac.id

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Serat Nitipraja warisan Sultan Agung Hanyakrakusuma sebagai pedoman pemimpin Indonesia

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!