Mohammad Husni Thamrin (sumber: perpusnas.go.id)
INDOZONE.ID - Mohammad Husni Thamrin, salah satu tokoh nasionalis terkemuka Indonesia pada masa kolonial, memainkan peran penting dalam perjuangan menuju kemerdekaan. Berkiprah antara tahun 1919 hingga 1941, Thamrin dikenal sebagai pemimpin vokal yang berjuang melalui Volksraad (Dewan Rakyat), Dewan Kotapraja Batavia, serta berbagai organisasi politik, termasuk Parindra dan GAPI (Gabungan Politik Indonesia). Perjuangannya berfokus pada hak-hak politik, sosial, dan ekonomi rakyat pribumi yang kerap terpinggirkan akibat kebijakan kolonial Belanda.
Thamrin mengawali karier politiknya di Dewan Kotapraja Batavia pada tahun 1919. Ia menjadi salah satu wakil pribumi yang dihormati karena keberaniannya memperjuangkan kepentingan rakyat. Salah satu gagasannya yang terkenal adalah pembangunan lapangan sepak bola khusus untuk pribumi di Jakarta. Inisiatif ini bukan sekadar soal olahraga, melainkan simbol perlawanan terhadap diskriminasi sosial yang saat itu mengakar kuat di bawah pemerintahan kolonial.
Pada 1927, Thamrin dipercaya menjadi anggota Volksraad, lembaga perwakilan yang dibentuk Belanda. Di forum inilah ia mendirikan Fraksi Nasional, kelompok yang berfungsi sebagai suara politik rakyat pribumi. Melalui Fraksi Nasional, Thamrin memperjuangkan isu-isu penting seperti pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan sosial.
Salah satu kontribusi besarnya adalah menentang kebijakan Poenale Sanctie, aturan yang memberi kuasa perusahaan perkebunan menghukum pekerja pribumi secara sewenang-wenang. Ia juga menolak Ordonansi Sekolah Liar, regulasi diskriminatif yang membatasi akses pendidikan bagi anak-anak pribumi.
Di Volksraad, Thamrin dikenal bukan hanya sebagai orator ulung, tetapi juga negosiator andal yang mampu membangun aliansi dengan politisi lain untuk mendesak perubahan. Kritik kerasnya terhadap alokasi anggaran kolonial yang lebih banyak untuk militer daripada pembangunan rakyat, menjadikannya salah satu suara paling berpengaruh pada masa itu.
Selain berjuang di Volksraad, Thamrin aktif dalam organisasi pergerakan nasional. Ia bergabung dengan Partai Indonesia Raya (Parindra), partai yang berdiri pada 1935 dengan tujuan memperjuangkan kemerdekaan melalui jalur parlementer. Di sinilah ia bekerja sama dengan tokoh-tokoh besar seperti Sutardjo Kartohadikusumo dan Sukarno.
Pada 1939, Thamrin turut berperan dalam pembentukan GAPI, federasi yang menyatukan berbagai organisasi politik Indonesia. Dengan slogan “Indonesia Berparlemen,” GAPI menuntut pemerintahan yang dikelola rakyat Indonesia sendiri. Gerakan ini menjadi salah satu langkah strategis dalam memperluas skala perlawanan nasional dan mempercepat tuntutan kedaulatan politik.
Thamrin menjalin kerja sama erat dengan tokoh-tokoh nasional seperti Sukarno, Mohammad Hatta, dan Sutardjo Kartohadikusumo. Selain memperkuat gerakan dalam negeri, ia juga berusaha membawa isu Indonesia ke panggung internasional. Kritiknya terhadap kebijakan ekonomi Belanda yang hanya menguntungkan kolonialis dan merugikan pribumi, menjadi salah satu bentuk diplomasi politiknya.
Baca juga: Kisah Idham Chalid, Ketua DPR Paling Sederhana yang Haramkan Fasilitas Negara untuk Keluarganya
Perjuangan Thamrin tidak lepas dari tekanan. Pada 1941, pemerintah kolonial menuduhnya memiliki hubungan dengan Jepang, kekuatan besar Asia yang menjadi ancaman bagi Belanda kala itu. Rumahnya digeledah dan ia berada di bawah pengawasan ketat. Tekanan mental akibat peristiwa ini membuat kesehatannya memburuk hingga akhirnya wafat pada Januari 1941.
Kematian Thamrin menjadi kehilangan besar bagi gerakan nasional. Namun, dedikasi dan perjuangannya terus hidup dalam semangat generasi penerus. Sebagai pahlawan nasional, ia dikenang bukan hanya karena keberaniannya menentang kolonialisme, tetapi juga karena strateginya membangun jaringan politik lintas kelompok demi cita-cita kemerdekaan Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Uns.ac.id