INDOZONE.ID - Perempuan Indonesia punya sejarah panjang dalam membela hak dan martabatnya. Dulu, peran mereka sering dibatasi hanya untuk urusan rumah tangga. Perjuangan ini penting karena perempuan adalah bagian kunci kemajuan bangsa dan keluarga.
Zaman dulu, perempuan Indonesia hidup sulit. Mereka tak boleh sekolah, bekerja, atau menentukan hidup sendiri. Di beberapa kerajaan, perempuan memang bisa memimpin, seperti Ratu Mas Jaintan di Sukadana atau pejuang Aceh seperti Cut Nyak Dien. Tapi itu lebih pengecualian.
Bahkan sebelum Islam datang di Arab, bayi perempuan sering dikubur hidup-hidup. Perempuan dewasa tak punya hak menolak pernikahan atau cerai sepihak. Di Yunani kuno, demokrasi hanya untuk laki-laki, perempuan dianggap budak. Kondisi serupa terjadi di Nusantara saat masih berbentuk kerajaan.
Perubahan besar dimulai oleh R.A. Kartini (1879-1904). Lewat surat-suratnya (dibukukan jadi "Habis Gelap Terbitlah Terang"), ia protes ketidakadilan. Ia ingin perempuan punya pendidikan dan martabat tinggi. Kartini mendirikan sekolah untuk anak perempuan, percaya ilmu pengetahuan adalah kunci kemajuan.
Baca juga: Fakta Princess Qajar, Simbol Kecantikan Wanita Persia Abad ke-19 yang Bikin Banyak Pria Bunuh Diri
Ia melawan budaya "pingitan" yang mengurung perempuan di rumah. Hidupnya terbatas, tapi pikirannya bebas. Ia belajar bahasa Belanda dan berkirim surat dengan orang Eropa. Perlawanannya bukan meniru Barat, tapi menuntut hak dasar sebagai manusia.
Penetapan Hari Kartini oleh Presiden Soekarno (Wikipedia) (Wek)
Tak hanya Kartini, banyak perempuan hebat bangkit. Di Jawa, Dewi Sartika mendirikan "Sekolah Isteri" (1904) agar perempuan jadi ibu cerdas dan mandiri. Di Minangkabau, Rohana Kudus mendirikan sekolah Kerajinan Amai Setia (1914) dan jadi wartawati pertama Indonesia.
Di Sulawesi Utara, Maria Walanda Maramis membentuk organisasi PIKAT (1917) untuk pendidikan perempuan dan keluarga. Mereka membuktikan, keterbatasan bukan halangan. Mereka belajar secara formal maupun nonformal demi membuka jalan bagi yang lain.
Baca juga: Perjuangan Perempuan Indonesia: Pendidikan sebagai Senjata Melawan Ketidakadilan
Perjuangan makin kuat dengan berdirinya organisasi. Poetri Mardika (1912) jadi organisasi perempuan pertama, didukung Budi Utomo. Kemudian muncul Aisyiyah (1918) dari Muhammadiyah dan Muslimat NU (1946). Setelah kemerdekaan, lahir GERWANI (1950) yang memperjuangkan keadilan sosial.
Organisasi-organisasi ini fokus pada pendidikan, pemberantasan buta huruf, dan pemberdayaan ekonomi. Mereka ajarkan perempuan punya keterampilan agar mandiri secara finansial. Tujuannya jelas, perempuan setara dan jadi mitra sejajar laki-laki, bukan pelengkap.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal Doi.org