upacara yang memperingati terbentuknya Gerakan Wanita Indonesia (GERWANI) pada tahun 1954 (Sumber: Wikipedia)
INDOZONE.ID - Diskusi tentang peran perempuan tak pernah berhenti. Sejarah mencatat pergerakan perempuan Indonesia sebagai upaya meraih kesetaraan. Mereka berjuang melawan ketidakadilan gender di berbagai bidang kehidupan, terutama pendidikan. Perjalanan ini penuh gelombang pasang surut.
Penggunaan kata "perempuan" dan "wanita" punya arti berbeda. Dulu, "wanita" dianggap lebih mulia tapi bermakna lemah dan patuh. Sementara "perempuan" berasal dari kata "empu" yang berarti ahli atau pemimpin. Kini, aktivis lebih memilih "perempuan" untuk simbol pemberdayaan.
R.A. Kartini (1879-1904) dari Jepara menjadi simbol perlawanan. Lewat suratnya "Habis Gelap Terbitlah Terang", ia mengkritik praktik pingitan, kawin paksa, dan poligami. Ia yakin pendidikan adalah kunci membebaskan perempuan dari penindasan. "Dengan ilmu, perempuan merdeka menentukan hidupnya," tulisnya.
Kartini menolak pernikahan tanpa cinta dan kesetaraan. Ia merumuskan lima konsep pendidikan yaitu, perempuan sebagai pendidik pertama anak, pembawa peradaban, pendidik budi pekerti, pendukung kesetaraan gender, dan pencinta tanah air. Sekolah yang didirikannya menjadi batu pertama perjuangan.
Baca juga: The Forty Elephants, Geng Perempuan Paling Licin dan Ditakuti dalam Sejarah London
Tahun 1912, organisasi perempuan pertama Poetri Mardika lahir di Batavia. Didukung Budi Utomo, mereka fokus pada pendidikan. Dua program utamanya, menerbitkan koran berisi pemikiran emansipasi dan memberikan beasiswa untuk anak perempuan kurang mampu.
Poetri Mardika juga mendorong perempuan keluar dari kungkungan adat. Mereka menentang poligami, pernikahan anak, dan kawin paksa. Organisasi ini membuka jalan bagi gerakan perempuan lain. Jaringannya menyebar lewat kongres-kongres di berbagai daerah.
Poetri Mardika (1912) jadi organisasi perempuan pertama (sumber: Senibudayabetawi.com)
Setelah Poetri Mardika, puluhan organisasi perempuan bermunculan. Di Sumatera ada KAS (1914) pimpinan Rohana Kudus, di Manado berdiri PIKAT (1917) oleh Maria Walanda Maramis, sementara Aisyiyah lahir di Yogyakarta (1917). Semua bersatu dalam visi, tingkatkan pendidikan perempuan!
Mereka mendirikan sekolah dan pelatihan keterampilan. Tujuannya jelas yaitu, perempuan mandiri secara finansial dan berani bersuara. Di Bandung, Isteri Sedar (1930) bahkan terjun ke politik. "Kesetaraan hak baru tercapai jika Indonesia merdeka!" seru pemimpinnya, Suwarni Pringgodigdo.
Baca juga: Di Balik Tirai Kolonial: Kisah Nyai dan Perempuan Pribumi yang Terlupakan
Pasca-kemerdekaan, Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) muncul tahun 1950. Organisasi ini radikal dan vokal. Mereka menuntut persamaan hak politik, perlindungan perkawinan, dan hak waris untuk janda. Gerwani aktif mengkritik pemerintah melalui demonstrasi massa.
Program Gerwani mencakup tiga pilar yaitu, hak perempuan, hak anak, dan demokrasi. Mereka memperjuangkan pendidikan gratis, melawan buta huruf, serta mendukung pembebasan Irian Barat. Sayangnya, Gerwani dihancurkan pasca peristiwa 1965 dengan tuduhan tak berdasar.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Jurnal Doi.org