INDOZONE.ID - Tak banyak yang menyadari bahwa sejarah Indonesia mengenal dua sosok penting bernama Douwes Dekker, Eduard Douwes Dekker dan Ernest Francois Eugene Douwes Dekker. Meskipun berasal dari keluarga yang sama, keduanya memiliki latar belakang serta kontribusi berbeda dalam konteks kolonialisme dan pergerakan nasional.
Eduard, sang paman buyut, dikenal sebagai sosok yang mengguncang dunia lewat karya sastranya. Sementara Ernest, keponakan generasi berikutnya, memilih jalan perjuangan langsung di medan politik dan aktivisme demi membangkitkan kesadaran nasional.
Eduard Douwes Dekker (1820–1887), atau lebih dikenal dengan nama pena Multatuli, adalah pegawai kolonial Belanda yang kecewa terhadap praktik penindasan di Hindia Belanda. Kritiknya terhadap sistem cultuurstelsel dituangkan dalam novel Max Havelaar (1860), sebuah karya yang menggambarkan penderitaan rakyat akibat eksploitasi kolonial.
Max Havelaar bukan sekadar karya sastra. Buku ini mengguncang opini publik di Eropa dan turut mendorong perubahan kebijakan kolonial Belanda, menjadikan Eduard simbol dari "kesadaran moral" terhadap ketidakadilan di tanah jajahan.
Baca juga: Kisah Perlawanan Lokal yang Sering Dilupakan dalam Buku Sejarah
Berbeda dengan Eduard, Ernest Douwes Dekker (1879–1950) lahir di Pasuruan dari ayah Belanda dan ibu Indo. Ia adalah salah satu tokoh kunci dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia. Semangat revolusionernya yang mungkin diwarisi dari Multatuli, mendorongnya menjadi pelaku langsung dalam upaya membebaskan Indonesia dari cengkeraman kolonial.
Pada 1912, bersama Tjipto Mangoenkoesoemo dan Ki Hajar Dewantara, Ernest mendirikan Indische Partij, partai politik pertama yang mengusung semangat nasionalisme inklusif di Hindia Belanda. Ernest tak hanya bicara soal kemerdekaan, ia menciptakan ruang nyata bagi persatuan lintas etnis: Indo, Pribumi, Tionghoa, hingga Arab.
Meski tidak pernah bertemu secara langsung, pengaruh Multatuli sangat membekas dalam diri Ernest. Semangat kritik terhadap kolonialisme yang digaungkan Eduard menjadi inspirasi bagi Ernest dalam merumuskan gagasan kebangsaan. Bahkan, ia disebut sebagai tokoh yang turut mendorong Soekarno menyusun dasar ideologi negara.
Perjuangan Ernest tak hanya lewat politik. Ia juga mendirikan Ksatrian Institute, sebuah lembaga pendidikan yang menanamkan semangat kemerdekaan melalui ilmu dan karakter. Tak heran jika namanya diabadikan sebagai Danudirja Setiabudi, salah satu pahlawan nasional Indonesia.
Baca juga: Mengenal Infrastruktur dan Bangunan Bersejarah Peninggalan Bupati Cokronegoro I di Purworejo
Eduard memperjuangkan keadilan melalui pena, sedangkan Ernest melalui aksi politik dan pendidikan. Eduard menggugah hati nurani dunia lewat karya sastra, sementara Ernest menjadi penggerak nyata nasionalisme yang lebih progresif dan transformatif.
Eduard berkarya di pertengahan abad ke-19, sementara Ernest aktif sejak awal abad ke-20 hingga kemerdekaan Indonesia. Keduanya menempuh jalur berbeda namun bertemu dalam satu titik, semangat melawan ketidakadilan dan mimpi tentang Indonesia yang merdeka, adil, dan setara.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Research Gate