Zhou Enlai, perdana menteri Cina yang selamat dalam insiden "Kashmir Princess" (Sumber: EtIndonesia)
INDOZONE.ID - Tanggal 11 April 1955 jadi saksi bisu salah satu insiden paling mengejutkan dalam dunia diplomasi internasional. Sebuah pesawat bernama Kashmir Princess milik maskapai Air India yang membawa delegasi Tiongkok menuju Konferensi Asia-Afrika di Bandung, Indonesia, meledak di udara dan jatuh di perairan Indonesia. Bukan kecelakaan biasa, insiden ini ternyata merupakan sabotase yang menargetkan sosok penting Perdana Menteri Tiongkok saat itu, Zhou Enlai.
Pesawat yang lepas landas dari Hong Kong itu awalnya direncanakan mengangkut Zhou bersama delegasinya. Tapi secara mengejutkan, Zhou batal ikut di menit-menit terakhir karena alasan kesehatan, yang kemudian disebut sebagai keputusan "ajaib" karena menyelamatkan nyawanya. Lima jam setelah mengudara, sebuah bom meledak di bagian dalam pesawat. Ledakan itu menyebabkan Kashmir Princess jatuh dan menewaskan 11 dari 19 orang di dalamnya, termasuk awak dan penumpang delegasi Tiongkok. Sebagian lainnya selamat setelah melakukan pendaratan darurat.
Hasil penyelidikan mengungkap bahwa insiden ini bukan aksi teror biasa, tapi bagian dari operasi intelijen yang didalangi oleh agen-agen Kuomintang (KMT), pemerintah Tiongkok versi Taiwan yang saat itu masih berseteru sengit dengan pemerintahan komunis di Beijing. Mereka menyuap seorang teknisi pesawat bernama Zhou Zemin yang bekerja di Hong Kong, untuk menyelundupkan bom ke dalam pesawat dengan janji uang besar dan suaka politik ke Taiwan. Zhou Zemin pun menghilang tak lama setelah kejadian, dan dicurigai melarikan diri ke Taiwan.
Baca juga: Dipercaya Mengandung Emas, Orang Botak Jadi Incaran Pembunuhan Ritual di Mozambik
Yang menarik, intelijen Tiongkok ternyata sudah mencium rencana jahat ini dari awal. Zhou Enlai sengaja mengubah jadwal keberangkatannya, yang membuatnya lolos dari percobaan pembunuhan tersebut. Keberhasilan ini pun dijadikan momentum oleh pemerintah Tiongkok untuk memukul balik musuh-musuh politiknya. Mereka langsung memanfaatkan insiden ini untuk mengekspos jaringan mata-mata KMT yang beroperasi di Hong Kong dan menguatkan narasi bahwa Taiwan dan sekutunya, termasuk Amerika Serikat, memainkan peran kotor dalam percaturan geopolitik Asia.
Sementara itu, posisi Hong Kong yang kala itu masih menjadi koloni Inggris, serba sulit. Meski mereka ikut dalam investigasi, hukum ekstradisi dan tekanan politik membuat penangkapan tersangka utama seperti Zhou Zemin mustahil dilakukan. Ini menambah panas hubungan antara Tiongkok, Taiwan, dan negara-negara Barat, terutama di tengah ketegangan Perang Dingin.
Baca juga: Misteri Pembunuhan West Mesa: 11 Kerangka Perempuan Ditemukan di Gurun
Insiden Kashmir Princess bukan cuma soal bom di pesawat, tapi juga tentang bagaimana satu manuver politik bisa mengubah peta kekuasaan. Zhou Enlai yang seharusnya jadi korban malah keluar sebagai aktor cerdas yang berhasil membalikkan keadaan. Ia tetap hadir di Konferensi Asia-Afrika di Bandung dan memperkuat posisi Tiongkok sebagai salah satu kekuatan besar di dunia baru pasca-perang.
Bagi generasi muda yang menganggap politik itu rumit dan jauh dari kehidupan sehari-hari, kisah ini justru menunjukkan betapa keputusan kecil, seperti membatalkan penerbangan, bisa berdampak besar. Dunia internasional itu penuh kejutan, dan kadang sejarah ditulis oleh mereka yang tahu kapan harus mundur satu langkah untuk maju seribu langkah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Cambridge.org, Researchgate