INDOZONE.ID - Kalau ngomongin sejarah Indonesia, di kepala kita biasanya muncul tokoh-tokoh penting seperti Soekarno, hatta, cut nyak dien dan ibu kartini. Tapi kamu tau? Ada banyak sekali kisah perlawanan lokal yang luar biasa tapi sayangnya sering dilupakan di buku sejarah Indonesia. Padahal mereka ikut andil dalam membentuk semangat perjuangan bangsa, siapa saja itu?
Yuk, kita kenalan sama beberapa tokoh-tokoh dan komunitas yang berani melawan ketidakadilan lewat cara mereka sendiri. Mulai dari pendidik perempuan sampai suku adat yang menjaga tanah leluhur.
Di balik dunia pers yang dulu didominasi pria, ada satu nama perempuan yang bersinar yakni Rohana Kudus. Dia bukan cuma wartawati pertama Indonesia, tapi juga pendiri sekolah khusus perempuan di Sumatera Barat. Bayangin, di zaman di mana perempuan masih dianggap "nggak perlu sekolah", Rohana malah ngajarin mereka baca tulis, menjahit, bahkan berpikir kritis.
Lewat tulisan-tulisannya, Rohana angkat isu kesetaraan gender, pendidikan, dan kebebasan berpikir. Nggak heran kalau dia jadi inspirasi banyak perempuan sampai hari ini.
Nama Dewi Sartika sering disebut waktu Kartinian, tapi tahu nggak sih kalau perjuangannya itu benar-benar nyata di lapangan? Dia mendirikan Sakola Istri di Jawa Barat, sekolah yang ngajarin perempuan bukan cuma teori, tapi juga keterampilan praktis biar mereka bisa mandiri.
Bagi Dewi, pendidikan itu bentuk perlawanan paling damai tapi berdampak panjang. Lewat ilmu, perempuan bisa bangkit dan bebas dari belenggu ketidakadilan.
Kalau kamu suka baca, kamu bakal suka banget sama kisah Lasminingrat. Beliau aktif menerjemahkan karya sastra Barat ke bahasa Sunda biar kaum perempuan bisa punya akses ke dunia luar. Di Garut, Lasminingrat jadi pelopor pendidikan perempuan lewat pendekatan budaya lokal.
Bagi dia, perempuan punya hak untuk cerdas, dan sastra adalah salah satu jalannya.
Kalau bicara soal perlawanan lokal yang sering dilupakan, nama Tan Malaka selalu layak dibawa ke meja. Ia bukan cuma seorang pemikir, tapi juga pejuang yang lahir di masa penuh gejolak dan memilih berdiri tegak di tengah pusaran ideologi. Lahir di Suliki, Sumatera Barat, Tan Malaka tumbuh sebagai sosok cerdas, kritis, dan sangat idealis.
Tan Malaka dikenal sebagai Bapak Komunis Indonesia, tapi jangan buru-buru menyamakan paham Komunisme yang ia anut dengan bayangan kelam yang sering melekat di benak masyarakat sekarang. Ia adalah PKI generasi awal, namun sejak awal pula dia menentang arah yang diambil partai tersebut. Menurut Tan, PKI telah keliru karena tunduk pada garis keras Stalin. Ia sendiri lebih condong pada pemikiran Trotsky, yang kala itu dianggap "pengkhianat" oleh penganut Stalinisme. Ironisnya, Tan Malaka justru dicap pengkhianat oleh PKI sendiri karena menolak pemberontakan PKI pada 1926 dan 1948. Musso bahkan menyebutnya musuh.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Id.quora.com