Selasa, 12 DESEMBER 2023 • 11:45 WIB

Menelusuri Eksistensi Miko di Peradaban Lampau hingga Modern Jepang yang Dipercaya jadi Perantara Dunia Manusia dengan Para Dewa

Author

Eksistensi Miko di Jepang.

INDOZONE.ID - Eksistensi Miko telah ada di Jepang sejak berabad-abad lalu. Keberadaan Miko berakar dari kepercayaan bahwa perempuan muda memiliki kemurnian spiritual khusus yang memungkinkan mereka untuk melayani dewa di kuil. Hal inilah yang kemudian membuat orang-orang pada masa itu percaya bahwa Miko berperan sebagai pembawa pesan antara dunia manusia dan alam para dewa.

Meski perannya telah berubah, sampai sekarang keberadaan Miko masih dapat ditemukan dengan mudah di berbagai kuil di Jepang. Seorang Miko biasanya mengenakan hakama berwarna merah dan kimono putih berlengan pendek. Selain itu, Miko biasanya mengikat rambutnya dengan mengenakan kombinasi danshi (kertas Jepang berkualitas), mizuhiki (tali berwarna yang terbuat dari kertas) dan takenaga (kertas untuk hiasan).

Para perempuan muda yang akan bekerja sebagai Miko akan menjalani serangkaian program pelatihan yang intensif dan beragam. Saat ini mereka berperan penting dalam melestarikan tradisi dan budaya Shinto yang merupakan agama asli Jepang.

Baca Juga: Kisah Horor di Balik Hutan Aokigahara di Jepang: Tempat Terkenal untuk Bunuh Diri

Untuk mengenal Miko lebih dalam, kami telah merangkum sejarah panjang eksistensi Miko sejak periode awal Jepang hingga masa kini.

Keberadaan Miko Selama Periode Awal Jepang

Eksistensi Miko di Jepang.

Melansir japan-experience.com, pada masa lalu, Miko merupakan salah satu tokoh agama dan politik yang memiliki pengaruh besar di Jepang. Dalam catatan tertulis pertama Jepang, “Babad Tiongkok” yang ditulis pada abad ke-3 M, menyebutkan tentang Himeko, seorang ‘ratu’ dukun Jepang. Namun sayangnya, para ahli sejarah masih memperdebatkan soal kebenaran sosok Himeko ini. Sehingga, cerita tentang Himeko dianggap sebagai legenda yang tak dapat dipastikan kebenarannya.

Dalam babad Jepang abad ke-7 M, tertulis bahwa Permaisuri Jingu merupakan seorang dukun dan penguasa militer. Namun, lagi-lagi para ahli sejarah tidak bisa membuktikan kebenaran pernyataan tersebut.

Seiring berjalannya waktu, catatan sejarah tentang seorang pendeta wanita yang memimpin pasukan dalam penaklukan suku-suku di wilayah selatan semakin banyak muncul. Dalam catatan-catatan tersebut, dapat diketahui bahwa kaum wanita telah memiliki peranan penting dalam bidang agama maupun politik sejak zaman Jepang kuno. Hal tersebut dipercaya karena mereka memiliki kemampuan untuk menerima pesan dari para dewa.

Keberadaan Miko Selama Periode Heian

Eksistensi Miko di Jepang.

Melalui catatan yang berasal dari periode Heian (794 – 1185 M), disebutkan juga bahwa Miko berperan untuk menerima pesan para dewa (nubuat) dan kemudian menyampaikannya kepada orang lain.

Baca Juga: Pembagian Era di Jepang, Dari Era Asuka hingga Era Heisei

Dalam sebuah catatan berjudul “Shin Sarugoki” yang ditulis oleh Fujiwara no Akihara pada akhir periode Heian, ada 4 kemampuan yang diharuskan bagi seorang Miko. 4 kemampuan tersebut adalah meramal, menari (kagura, tarian yang didedikasikan untuk para dewa), memainkan harpa Jepang dan doa.

Peralihan Peran Miko Selama Periode Kamakura hingga Edo

Peran Miko mulai berkembang ketika Jepang memasuki periode Kamakura (1185 – 1333 M). Pada era tersebut, keberadaan Miko semakin lekat dengan kuil Shinto di seluruh Jepang.

Melansir dari japanesewiki.com, Miko dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok, yaitu Kannagi yang bertugas di istana kekaisaran dan Kuchiyose yang melayani rakyat biasa.

Tak lagi hanya bertugas di istana kekaisaran, Miko juga mulai bertugas di kuil setempat. Hal ini kemudian menyebabkan tugas seorang Miko memiliki cakupan yang semakin luas. Di antaranya adalah melakukan pembersihan dan pemeliharaan seluruh area kuil, menyiapkan persembahan untuk para dewa hingga membantu para pengunjung dalam berbagai upacara.

Peran Miko dalam kaitannya dengan kuil Shinto berlangsung cukup lama. Hingga periode Edo (1603 – 1868 M), Miko selalu turut hadir dalam berbagai upacara dan ritual yang dilakukan di kuil. Bersama dengan pendeta, Miko bertugas untuk memastikan bahwa semua praktik keagamaan dilaksanakan sesuai tradisi dan penghormatan yang pantas diberikan kepada para dewa.

Baca Juga: Mengenal Sosok Yuki Onna, Wanita Cantik Jepang yang Bisa Ciptakan Salju Mematikan

Pada Periode Meiji, Eksistensi Miko Berkurang

Selama Restorasi Meiji, untuk mendukung pemulihan rezim kekaisaran, pemerintah melakukan perombakan besar-besaran pada sistem kuil Shinto dan layanan keagamaannya.

Pada tahun 1871, Kementerian Divinitas mendirikan jabatan mikannagi (jabatan untuk perempuan yang mengurus urusan agama) dan menetapkannya sebagai jabatan perempuan yang pernah bekerja di Kementerian Rumah Tangga Kekaisaran sebagai toji (peran mengurus makanan untuk Keluarga Kekaisaran).

Seiring berjalannya waktu, banyak Miko yang mulai mencari nafkah dengan ‘menawarkan’ doa di luar kuil. Setiap kali ada orang yang minta didoakan atau diramal, mereka harus merogoh kocek 50 hingga 100 mon untuk Miko tersebut.

Praktik tersebut setidaknya berlangsung sampai tahun 1873. Hal ini disebabkan karena pada tahun tersebut, Kementerian Pendidikan Agama Jepang melarang segala tindakan meminta ramalan melalui doa yang dilakukan oleh Miko di luar kuil. Larangan yang disebut Miko Ban ini diberlakukan karena beberapa alasan.

Antara lain karena upaya penataan ulang sistem kuil melalui Shintoisme dan sebagian lagi karena ada gerakan Bunmei kaika (pencerahan budaya) yang meniadakan budaya lokal, tata krama dan adat istiadat tradisional maupun sekuler.

Baca Juga: Legenda Hattori Hanzo, Sosok Ninja yang Dijuluki 'Iblis' Pemimpin Klan Tokugawa di Jepang Abad 16

Dengan adanya larangan ini, hampir semua Miko yang melakukan doa di luar kuil kehilangan pekerjaan, meski masih ada beberapa Miko yang tetap melakukan praktik tersebut secara sembunyi-sembunyi.

Pada tahun 1940, dikutip dari unseen-japan.com, larangan tersebut resmi dicabut oleh pemerintah dan sejak saat itulah peran Miko beralih menjadi asisten pendeta Shinto. Meskipun demikian, keberadaan Miko di masyarakat lambat laun menjadi kurang menonjol dan jumlah mereka juga mulai mengalami penurunan yang signifikan.

Keberadaan Miko pada Era Modern

Akibat pengaruh agama Buddha dan Konfusianisme, kedudukan Miko sebagai pusat kekuatan spiritual di masa lalu telah digantikan oleh laki-laki. Hal ini juga ikut berpengaruh terhadap fungsi perdukunan mereka yang jadi dikendalikan oleh pendeta dan dukun laki-laki.

Di zaman modern ini, Miko dikenal sebagai perempuan yang bekerja di kuil. Peran Miko saat ini berfokus dalam pemeliharaan kuil, seperti membersihkan area kuil, melakukan pekerjaan kantor, berjualan di toko kuil dan lain sebagainya. Selain itu, beberapa Miko lainnya juga akan membantu aktivitas para pendeta dalam menjalankan upacara maupun ritual keagamaan.

Baca Juga: Kisah Inspiratif Prajurit Jepang: Shoichi Yokoi, Bertahan Hidup di Hutan Guam Selama 28 Tahun usai PD II

Saat ini Miko dikelompokkan menjadi 3 kelompok. Yang pertama adalah Miko yang bekerja di kuil besar sebagai pegawai tetap. Selain bertugas secara administratif, Miko yang menjabat sebagai pegawai tetap bertugas membantu ritual dengan menampilkan tari mikomai atau terkadang disebut miko kagura.

Kelompok kedua adalah Miko sementara, dimana mereka merupakan pekerja paruh waktu yang biasa dipekerjakan ketika jumlah pengunjung kuil lebih ramai, seperti ketika perayaan tahun baru. Meski hanya bersifat pegawai paruh waktu, para Miko ini akan tetap menerima beberapa pelatihan, tetapi tidak bertugas dalam pelaksanaan upacara keagamaan.

Kelompok yang terakhir merupakan anak-anak perempuan kecil yang biasanya masih duduk di bangku sekolah dasar. Mereka biasanya akan dilatih menari untuk kemudian tampil di festival matsuri di kuil desa.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Japanesewiki.com, Japanexperience.com

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU